Calon Manager Kopdes Bawa Senjata Saat Larsarmil – KSP Dudung: Ketika Perang Rakyat Sudah Terampil

1 bulan ago  ·  4 min read
By William Garcia - pesonatropis.com
b51eca5a-1f1e-4089-88f6-1d2c8bb54b9e-0

Calon Manager Koperasi Bawa Senjata Saat Latihan Militer, KSP Dudung: Perang Rakyat Sudah Terbiasa

Sumedang, Jabar

Pesonatropis.com – Sebuah video yang viral menunjukkan beberapa peserta Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sedang berlatih menggunakan senjata. Mereka berdiri berbaris dan mempraktikkan teknik menembak, seolah-olah menjadi bagian dari unit militer. Aksi tersebut memicu perhatian publik, karena menggambarkan penerapan pendidikan militer dalam lingkungan koperasi desa.

“Saya juga seorang militer. Awalnya saya berpikir latihan model apa ini. Masing-masing satuan kan berbeda-beda rupanya. Saya juga awalnya ‘kok ada latihan seperti ini’, tapi pendidikan militer itu rata-rata seperti itu,”

Dudung Abdurachman, Kepala Staf Kepresiden (KSP), menjelaskan bahwa penggunaan senjata dalam latihan menjadi bagian wajib dari kurikulum militer. Ia mengungkapkan bahwa saat ini, peserta Latsarmil KDMP sedang dikenalkan pada konsep pertahanan rakyat, yang menurutnya sangat relevan dalam konteks keamanan nasional. Dudung, yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), membandingkan pengalaman ini dengan masa lalu ketika ia menjalani pendidikan dasar militer di Akademi Militer.

Pelatihan tersebut diadakan di Sumedang, dengan Dudung hadir sebagai pembicara. Ia menjelaskan bahwa latihan berbasis militer memang dirancang untuk melatih kemampuan dasar para peserta, termasuk penggunaan senjata. “Pendidikan dasar militer waktu saya lulus SMA masuk Akademi Militer, dasar kemiliteran ya seperti itu,” katanya. Dudung menegaskan bahwa sistem pertahanan rakyat semesta mengandalkan komponen utama, cadangan, dan pendukung. Komponen pendukung, kata dia, mencakup masyarakat yang dilibatkan langsung dalam latihan.

Komunitas koperasi desa, seperti KDMP, kerap dianggap sebagai lembaga ekonomi lokal. Namun, dalam program Latsarmil, mereka diberikan pembekalan militer untuk memperkuat tanggung jawab dalam keamanan wilayah. Dudung menilai hal ini penting, karena koperasi desa dianggap sebagai bagian dari komponen pendukung pertahanan rakyat. “Koperasi desa adalah satu dari banyak elemen yang membantu menjaga kestabilan sosial dan keamanan di tingkat masyarakat,” tuturnya.

Dalam video yang beredar, para peserta Latsarmil tampak mempraktikkan gerakan-gerakan militer sederhana, seperti menduduki posisi pertahanan dan menembak sasaran. Meski tidak seluruhnya meniru latihan militer profesional, aktivitas ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan dasar menghadapi situasi darurat. Dudung menyebutkan bahwa perang rakyat tidak hanya tentang pertahanan fisik, tetapi juga kesiapan mental dan koordinasi antarwarga.

Kegiatan Latsarmil di KDMP Sumedang menurutnya mencerminkan komitmen lembaga tersebut untuk menjadi bagian dari sistem pertahanan nasional. “Koperasi desa tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga pada pembangunan kekuatan masyarakat secara keseluruhan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa latihan tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya keterlibatan warga dalam keamanan wilayah.

Dudung mengakui bahwa awalnya ia merasa bingung melihat calon manager koperasi berlatih dengan senjata. Namun, setelah memahami tujuan program, ia menyebutnya sebagai langkah logis. “Karena memang kita ini menganut sistem pertahanan rakyat semesta. Jadi ada komponen utama, ada komponen cadangan, dan komponen pendukung. Komponen pendukung itu salah satunya adalah rakyat,” ujarnya.

Latihan militer untuk peserta koperasi desa ini dianggap sebagai bagian dari upaya memperkuat pilar pertahanan nasional. KDMP, sebagai koperasi yang berkiprah di tingkat desa, menjadi salah satu penyumbang komponen pendukung dalam sistem tersebut. Dudung menjelaskan bahwa latihan seperti ini bisa meningkatkan kesiapan warga untuk berperan aktif dalam situasi darurat, baik melalui penegakan hukum maupun penjagaan wilayah.

Dalam konteks keamanan, penggunaan senjata dianggap sebagai alat efektif untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan praktek. Dudung menilai bahwa para peserta Latsarmil tidak hanya belajar teknik menembak, tetapi juga memahami prinsip-prinsip pertahanan rakyat. “Kedua aspek ini saling terkait. Jika peserta sudah terbiasa dengan latihan, mereka bisa lebih cepat tanggap dalam keadaan kritis,” tambahnya.

Selain itu, Dudung juga menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga swadaya dan instansi militer. “Sistem pertahanan rakyat tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan dukungan dari berbagai sektor, termasuk koperasi desa,” kata jenderal yang kini berdinas sebagai KSP. Ia mencontohkan bahwa kehadiran peserta Latsarmil dari koperasi merupakaan bentuk integrasi antara kegiatan ekonomi dan keamanan.

KDMP Sumedang, yang menjadi pusat pelatihan ini, telah menjadi contoh bagus dalam menggabungkan pengembangan koperasi dengan pembelajaran pertahanan. Dudung berharap program serupa bisa diadopsi oleh koperasi-koperasi lain di daerah lain. “Ini bisa menjadi model untuk meningkatkan kesiapan masyarakat secara keseluruhan,” pungkasnya.

Sementara itu, masyarakat Sumedang menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk inovasi dalam menghadapi ancaman keamanan di tingkat lokal. Sejumlah peserta latihan menyatakan bahwa mereka merasa tertantang untuk menguasai teknik dasar militer. “Latihan ini membantu kami memahami bagaimana membantu masyarakat jika terjadi gangguan,” kata salah satu peserta. Dengan begitu, koperasi desa tidak hanya menjadi tempat pengembangan ekonomi, tetapi juga menjadi titik tumpu keamanan wilayah.

Program Latsarmil KDMP dianggap sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat peran rakyat dalam pertahanan. Dudung menegaskan bahwa kegiatan ini mencerminkan kebijakan integrasi militer dan non-militer. “Koperasi desa adalah salah satu elemen yang paling dekat dengan rakyat. Mereka bisa menjadi garda depan dalam menjaga keamanan,” jelasnya. Ia berharap pelatihan serupa bisa menjadi bagian dari pendidikan warga desa yang lebih komprehensif.

Dengan adanya Latsarmil, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi berbagai situasi. Dudung menyebutkan bahwa latihan tersebut juga bertujuan untuk melatih penggunaan senjata secara bijak dan efektif. “Senjata adalah alat, tetapi penggunaannya harus didasari kesadaran akan tanggung jawab,” katanya. Ia menambahkan bahwa latihan ini bukan hanya untuk kesiapan pertahanan, tetapi juga untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan kesadaran akan peran individu dalam keselamatan nasional.

Dalam pandangan Dudung, komunitas koperasi desa memiliki peran penting dalam memperkuat pertahanan rakyat. “Mereka adalah bagian dari komponen pendukung yang bisa diandalkan saat dibutuhkan,” ujarnya. Ia menilai bahwa Latsarmil menjadi jembatan antara dunia militer dan masyarakat, sehingga koperasi desa bisa menjadi penggerak utama dalam upaya pertahanan nasional.

Kegiatan tersebut telah diadakan beberapa kali, dengan hasil yang positif. Peserta tidak hanya menguasai teknik dasar, tetapi juga memahami pentingnya kerja sama dalam situasi darurat

MORE FROM THIS CATEGORY