Meeting Results: Menlu China-AS bicara lewat telepon jelang pertemuan Xi-Trump
Menteri Luar Negeri Tiongkok dan AS Berdiskusi via Telepon Sebelum Pertemuan Xi-Trump dan Trump
Meeting Results – Beijing – Komunikasi telepon antara Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio berlangsung pada Kamis (30/4), sebagai bagian dari persiapan kunjungan resmi Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok. Diskusi ini terjadi menjelang agenda penting yang dijadwalkan pada 14–15 Mei 2026. Pertemuan tersebut akan menjadi kunjungan pertama Trump ke Beijing dalam sembilan tahun terakhir, setelah perebutan jadwal awalnya ditunda karena serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Maret hingga awal April 2026.
Pembicaraan Strategis untuk Menjaga Stabilitas Diplomasi
Menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang dikutip ANTARA, Wang Yi mengatakan bahwa diplomasi tingkat kepala tetap menjadi arah utama dalam hubungan bilateral Tiongkok-AS. Dengan arahan strategis dari Presiden Xi Jinping dan Trump, hubungan kedua negara dianggap masih terjaga stabil meskipun menghadapi berbagai tantangan. “Kedua pihak harus memastikan situasi yang stabil dan tidak mudah tercapai ini tetap terjaga, serta mengatur agenda interaksi tingkat tinggi yang penting,” jelas Wang Yi dalam keterangan yang diakses dari Beijing, Sabtu.
Konteks Penundaan Lawatan Trump ke Tiongkok
Pertemuan Trump ke Tiongkok akan menjadi acara penting setelah perebutan waktu kunjungan sebelumnya yang direncanakan pada 31 Maret–2 April 2026. Penundaan ini dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran, yang memicu ketegangan regional dan memengaruhi jadwal diplomatik. Dalam wawancara khusus, Wang Yi menegaskan pentingnya memperluas kerja sama dalam berbagai bidang sambil mengelola perbedaan, termasuk isu Taiwan yang dinilai sebagai risiko terbesar dalam hubungan Tiongkok-AS.
Isu Taiwan dan Peran Diplomasi Tingkat Kepala
Wang Yi menekankan bahwa isu Taiwan merupakan hal krusial yang menyangkut kepentingan inti Tiongkok. “AS seharusnya menepati komitmen, membuat pilihan tepat, serta membuka ruang baru bagi kerja sama antara kedua negara,” tegasnya. Di sisi lain, Marco Rubio menyatakan bahwa hubungan Tiongkok-AS adalah ikatan bilateral terpenting di dunia. “Diplomasi kepala negara menjadi inti dari hubungan ini, dengan tujuan menjaga komunikasi, saling menghormati, dan menangani perbedaan secara efektif,” tambah Rubio.
“Kedua negara perlu mengakumulasi hasil dari interaksi tingkat tinggi dan mencari stabilitas strategis dalam hubungan AS-China,” kata Wang Yi.
“Hubungan antara Tiongkok dan AS harus dijaga dengan baik, karena merupakan elemen kunci dalam keberhasilan kebijakan global,” tambah Rubio.
Dalam diskusi, kedua menteri juga menyebutkan pentingnya kerja sama dalam menghadapi dinamika politik dan ekonomi internasional. Isu Timur Tengah menjadi topik utama yang dibahas, termasuk dampak dari konflik Iran serta peran Tiongkok dalam menciptakan keseimbangan regional. Selain itu, mereka menyamakan pandangan tentang kebutuhan untuk memperkuat kerangka kerja sama dalam perdagangan, teknologi, dan lingkungan, sambil tetap menjaga keseimbangan dalam isu-isu sensitif seperti keamanan dan hak soverein.
Histori dan Persiapan Kembali ke Beijing
Sebelumnya, Trump terakhir kali berkunjung ke Beijing pada November 2017, selama masa jabatannya pertama. Kunjungan ini menandai upaya penguatan hubungan bilateral pasca-pemilihan presiden. Namun, sejak itu, hubungan antara Tiongkok dan AS mengalami fluktuasi, terutama terkait perang dagang, isu hak asasi manusia, dan konflik geopolitik. Dengan kunjungan ke Tiongkok pada Mei 2026, Trump diharapkan dapat memperkuat kembali komunikasi langsung, terutama setelah berbagai pihak memperhatikan keberhasilan konsensus strategis antara kedua pemimpin.
Strategi Koordinasi dalam Menghadapi Tantangan Global
Kedua menlu disebutkan juga sepakat untuk memperhatikan perspektif bersama dalam menghadapi isu global. Wang Yi menekankan bahwa Tiongkok dan AS harus bersinergi dalam menjaga perdamaian dunia, termasuk dalam mengatasi krisis di Timur Tengah. “Kerja sama antar kepala negara bisa menjadi katalisator utama dalam membangun kebijakan yang saling menguntungkan,” imbuhnya. Rubio menggarisbawahi bahwa stabilitas hubungan bilateral memerlukan konsistensi dalam komitmen politik dan ekonomi.
“Kita harus mengakui bahwa hubungan Tiongkok-AS adalah salah satu hubungan diplomatik paling kompleks dan strategis di dunia,” kata Rubio.
Dalam konteks ini, pembicaraan telepon antara Wang Yi dan Rubio menggambarkan upaya membangun ker
