Visit Agenda: Satu kaki, seribu mimpi: Deki berdiri tegap di Hardiknas

Satu Kaki, Seribu Mimpi: Deki Berdiri Tegap di Hardiknas

Visit Agenda – Deki Degei, seorang remaja Papua yang berusia 16 tahun, menjadi sorotan di tengah upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di sekolah Kalisemen, Nabire Barat. Di hari itu, Sabtu pagi, ia memimpin jalannya upacara dengan langkah yang meski tidak sempurna, tetapi teguh dan penuh semangat. Dengan satu kaki yang menjadi ciri khasnya, Deki menghadirkan semangat baru dalam acara yang biasanya dihiasi oleh keberagaman peserta. Ia tidak hanya menjadi bagian dari upacara, tetapi juga menjadi simbol keberanian yang menginspirasi banyak orang.

Sekolah Mepa Boarding School, tempat Deki menempuh pendidikan, berada di bawah naungan Pemprov Papua Tengah. Sebagai siswa di sekolah luar biasa (SLB), ia menjalani proses belajar mengajar yang tidak mudah. Namun, Deki tak pernah menyerah pada kondisi fisiknya. Kehadirannya di tengah upacara menjadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar slogan, tetapi juga praktik nyata yang hidup di tanah Papua. Sementara itu, suasana lapangan terasa lebih berbeda ketika Deki mengambil peran sebagai pembina upacara. Keheningan tercipta sejenak, lalu dihiasi oleh tata cara yang ia jalani dengan percaya diri.

Upacara yang Memperkuat Semangat Inklusif

Dalam acara yang berlangsung di Nabire, seluruh petugas upacara terdiri dari siswa SLB. Ini menjadi momen penting, karena menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengakomodasi kebutuhan pendidikan bagi semua lapisan masyarakat. Deki, yang dikenal sebagai sosok penuh ketekunan, menunjukkan bahwa keberadaannya dalam upacara bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari proses belajar yang terus-menerus. Ia memimpin seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir, tanpa ragu-ragu atau tergoyah.

“Kepada pembina upacara, hormat grak!”

Kata-kata itu terdengar lantang dan penuh keyakinan di depan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, yang hadir bersama sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD). Suasana lapangan sejenak terhenti, dan seluruh peserta upacara, baik guru maupun tamu undangan, memperhatikan setiap langkah Deki. Meski hanya memiliki satu kaki, ia tetap mampu memimpin dengan standar yang sama seperti yang diharapkan oleh peserta upacara lainnya.

READ  Special Plan: BGN tegaskan undangan bimtek SPPG yang beredar tidak valid

Hardiknas ke-68 tahun ini memiliki makna khusus bagi Deki. Sebagai bagian dari acara yang diadakan di Nabire, ia menjadi perwakilan dari komunitas SLB yang selama ini dianggap kurang mendapat perhatian. Kehadirannya mengingatkan bahwa pendidikan inklusif adalah bentuk perjuangan untuk memberikan kesempatan setara kepada setiap individu, terlepas dari keterbatasan fisiknya. Dengan jiwa yang berani, Deki mampu memperlihatkan bahwa kesuksesan tidak tergantung pada jumlah kaki, tetapi pada semangat yang dimiliki.

Perjalanan Kehidupan yang Berliku

Keberanian Deki bukanlah hal yang baru. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan jatuh dan bangkit. Kejadian yang memperubah nasibnya terjadi ketika ia berusia enam tahun di Jayapura. Saat menyeberang jalan bersama ayahnya, kaki kirinya terlindas truk, menyisakan luka yang tak bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun, alih-alih menyerah, Deki memilih untuk melangkah dengan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan.

Ia menolak menggunakan alat bantu seperti tongkat atau kaki palsu, meski sebelumnya pernah diberikan oleh Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa. Keputusan ini membuatnya terbiasa dengan gerakan satu kaki sejak lama. Tidak hanya itu, Deki juga mempelajari teknik mengatur tata cara upacara secara mandiri. Proses belajar ini memakan waktu beberapa hari, dengan setiap langkah dan komando dipelajari secara detail.

“Saya sangat senang dan bangga. Ini pertama kali saya memimpin upacara, apalagi di depan bapak gubernur.”

Kata-kata tersebut diucapkan Deki dengan suara pelan, namun penuh keharuan. Ia menyadari bahwa keberhasilannya tidak hanya menjadi kemenangan pribadi, tetapi juga membawa perubahan positif bagi sesama peserta SLB. Meski lelah setelah acara berlangsung, senyumnya tidak pernah menghilang. Itu adalah bukti bahwa rasa percaya diri bisa terbangun meski melalui tantangan yang luar biasa.

READ  3.051 calon haji asal Riau telah diberangkatkan ke Tanah Suci

Deki punya cara unik untuk menghadapi kekurangan fisiknya. Ia menganggap dirinya sebagai “ninja” yang selalu bisa melompati rintangan. Metode ini membantu ia tetap aktif dalam kegiatan sekolah, termasuk upacara hari besar. Dengan latihan yang konsisten, ia mampu menguasai setiap aspek upacara, seperti posisi berdiri, gerakan baris-berbaris, hingga pengucapan komando dengan tepat. Kesabaran dan ketekunan menjadi kunci utama dalam proses ini.

Langkah Kecil yang Menginspirasi

Sebelum mengambil peran sebagai pembina upacara, Deki sempat merasa takut. Di awal latihan, ia ragu-ragu karena khawatir tidak mampu mengikuti langkah yang biasanya diambil oleh peserta lain. Namun, tekadnya mengalahkan rasa takut tersebut. Setiap hari, ia berlatih dengan fokus penuh, bahkan menghadapi kelelahan dan rasa sakit di kaki yang hanya satu. Proses ini tidak hanya memperkuat kemampuannya, tetapi juga membangun sikap percaya diri yang konsisten.

Upacara Hardiknas tidak hanya menjadi ajang pesta bagi para siswa, tetapi juga menjadi panggung bagi Deki untuk menunjukkan bahwa keberhasilan bisa dicapai dengan usaha dan ketekunan. Kehadirannya di tengah ribuan peserta upacara memberi pesan bahwa semua orang, termasuk yang mengalami kecacatan, memiliki hak untuk berpartisipasi secara penuh. Dalam hal ini, pendidikan inklusif menjadi jembatan yang memungkinkan Deki menyelesaikan mimpi yang sejak lama ia bayangkan.

Perjalanan Deki sejak kecil menggambarkan kekuatan hati dan semangat yang tidak mudah terkikis. Meski kondisi fisiknya membatasi gerakan, ia tetap menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan baik. Di luar kegiatan upacara, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan kompetisi. Keteguhan Deki dalam menjalani hidup membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjamin kegagalan. Dengan pendekatan yang unik, ia menjadi contoh nyata tentang bagaimana pendidikan bisa membentuk karakter yang tangguh.

READ  Solving Problems: Ketika tumpukan plastik di Cimahi jadi energi baru

Deki Degei memimpin upacara Hardiknas 2026 di Nabire Barat, Sabtu pagi, dengan langkah-langkah yang mungkin tidak sempurna, tetapi penuh makna. Ini adalah mom