Topics Covered: KBS pinjamkan komodo untuk program konservasi pengembangbiakan

KBS Pinjamkan Komodo untuk Program Konservasi Pengembangbiakan

Topics Covered – Surabaya menjadi salah satu kota yang berhasil mengembangkan program konservasi komodo melalui kerja sama dengan iZoo Shizuoka, Jepang. Perusahaan Umum Daerah Kebun Binatang Surabaya (KBS) telah menandatangani kesepakatan peminjaman satwa untuk tujuan pengembangbiakan. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan bahwa kolaborasi ini diharapkan memberikan manfaat signifikan bagi kedua pihak. “Saya sangat berterima kasih karena ada kerja sama peminjaman satwa antara Surabaya dan Jepang,” kata Eri Cahyadi, Rabu.

Kerja Sama untuk Pengembangbiakan Komodo

Kerja sama antara KBS dan iZoo Shizuoka merupakan bentuk pinjaman satwa yang dipantau bersama. Proses ini berlangsung selama lima tahun, dengan kemungkinan pengembalian komodo ke Surabaya jika kondisi tertentu terjadi. “Satwa yang dipinjamkan nanti akan dipantau secara bersamaan, jadi jika dalam masa lima tahun ada yang sakit, bisa ditarik kembali,” jelas Eri Cahyadi.

“Karena kita berhasil dalam mengembangbiakan komodo, maka di Jepang mereka meminta kita untuk meminjamkan satwa ini karena komodo adalah binatang terbesar dari reptil,” tambahnya.

Direktur Operasional Perumda KBS Nurika Widyasanti menyatakan bahwa komodo yang akan dipinjamkan berasal dari hasil pengembangbiakan di KBS. “Kami memastikan komodo yang dipinjamkan merupakan satwa yang telah berhasil dikembangbiakan di sini,” ujar Nurika.

Persiapan dan Evaluasi dari Pemerintah Pusat

Sebelum kerja sama ini diumumkan, proses peminjaman sudah melalui evaluasi dan kajian yang dilakukan pemerintah pusat. Hal ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan program konservasi serta tidak mengganggu proses pengembangbiakan di KBS. “Dari pemerintah pusat ada beberapa analisis yang dilakukan, sehingga KBS tetap bisa menjalankan fungsi konservasinya meski dua ekor komodo akan dikirim ke Jepang,” paparnya.

READ  New Policy: Universitas YARSI kembangkan inovasi AI untuk bantu dokter di ICU

Kesiapan iZoo Jepang dalam Mempersiapkan Fasilitas

Direktur iZoo Japan Tsuyoshi Shirawa mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan fasilitas selama sepuluh tahun untuk memastikan komodo bisa hidup sesuai habitat aslinya di Indonesia. “Kita sudah menunggu selama 10 tahun untuk mempersiapkan kandang dan lingkungan yang sesuai dengan iklim di Indonesia,” tutur Shirawa.

“Dengan fasilitas yang siap, kita harapkan komodo akan memiliki kondisi optimal untuk bertahan hidup dan berkembang biak,” tambahnya.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari MoU antara Kemenhut RI dan Pemerintah Prefektur Shizuoka yang ditandatangani pada 28 Maret 2026. Kesepakatan tersebut bagian dari upaya diplomasi hijau yang mencakup pengembangbiakan, penelitian, serta edukasi terhadap komodo (Varanus komodoensis). Eri Cahyadi berharap program ini bisa meningkatkan animo masyarakat terhadap KBS maupun iZoo Shizuoka.

“Semoga kerja sama ini menarik perhatian masyarakat Surabaya dan Shizuoka, serta mendorong inovasi dalam menghadirkan koleksi satwa baru,” harapnya.

Menurut Nurika, komodo dipilih sebagai objek peminjaman karena keberhasilan KBS dalam mengelola satwa tersebut. “Komodo memang menjadi salah satu spesies yang berhasil dikembangbiakan di KBS, sehingga pihak Jepang tertarik untuk mengambil bagian dari keberhasilan ini,” jelas Nurika.

MoU yang ditandatangani tahun 2026 menegaskan komitmen antara Indonesia dan Jepang dalam menjaga populasi komodo. Proses konservasi ini tidak hanya fokus pada reproduksi, tetapi juga melibatkan penelitian dan edukasi terkait perlindungan satwa. Shirawa menekankan bahwa fasilitas di Jepang dirancang agar komodo tidak kehilangan kebiasaan alaminya. “Kita sudah menyiapkan kandang yang meniru kondisi lingkungan di Indonesia, sehingga komodo bisa hidup secara alami,” katanya.

Eri Cahyadi menyoroti bahwa kolaborasi ini juga menjadi momentum untuk memperkuat konservasi lokal. “KBS berharap kerja sama ini bisa menjadi contoh dalam membangun keberlanjutan konservasi di tingkat nasional,” ujarnya.

READ  Key Strategy: Kemenkes: Membaca buku instrumen jaga kesehatan jiwa kelompok rentan

Komodo, sebagai spesies endemik Indonesia, menjadi fokus utama dalam upaya pelestarian. Proses peminjaman ini diharapkan tidak hanya mendukung penelitian di Jepang, tetapi juga membuka peluang untuk edukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa. “Dengan mengirimkan komodo ke Jepang, kita bisa membagikan pengalaman KBS dan mendorong kolaborasi internasional,” tambah Nurika.

Kerja sama ini juga memperlihatkan komitmen KBS untuk terus berinovasi dalam pengelolaan satwa. “Kami ingin menunjukkan bahwa pengembangbiakan komodo bisa dilakukan secara sukses dan berkelanjutan,” kata Eri Cahyadi. Proses peminjaman dirancang agar KBS tetap mempertahankan populasi komodo di dalam kandang sementara dua ekor satwa dikirimkan ke Shizuoka.

Dengan dana dan fasilitas yang disiapkan, iZoo Jepang berharap bisa memperkuat penelitian mengenai perilaku dan kebutuhan komodo. “Kita ingin mempelajari bagaimana komodo beradaptasi di lingkungan yang baru, sambil tetap menjaga kesehatannya,” ujar Shirawa. Eri Cahyadi menyatakan bahwa KBS akan terus memantau keberhasilan program ini, baik secara langsung maupun melalui laporan berkala dari pihak Jepang.

Kerja sama antara Surabaya dan Shizuoka menjadi bukti bahwa konservasi tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga dapat diperluas ke tingkat internasional. “Ini bukan sekadar peminjaman, tetapi pertukaran ilmu dan pengalaman dalam menjaga keanekaragaman hayati,” pungkas Eri Cahyadi. Proses yang telah dipersiapkan selama satu dekade ini menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keberlanjutan komodo di masa depan.