Latest Program: BPOM dorong penguatan industri farmasi demi kurangi impor bahan baku

BPOM Dorong Penguatan Industri Farmasi demi Kurangi Impor Bahan Baku

Latest Program – Pasuruan, Jawa Timur (ANTARA) – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan dukungan terhadap peningkatan kapasitas industri farmasi nasional sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Menurut data terkini, hingga saat ini sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku obat Indonesia masih dipasok dari luar negeri. Kondisi ini dianggap sebagai tantangan utama yang perlu diperbaiki agar sektor farmasi bisa lebih mandiri. Dalam Peresmian Pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Jawa Timur, Selasa lalu, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM William Adi Teja menekankan pentingnya peran industri dalam negeri dalam menciptakan kemandirian.

Ketergantungan Bahan Baku Impor Masih Tinggi

Dalam wawancara terpisah, William Adi Teja menjelaskan bahwa meskipun produk obat di dalam negeri memang didominasi oleh produsen lokal, bahan baku tetap menjadi sumber kelemahan. “Produk obat dalam negeri didominasi oleh industri lokal, namun bahan baku impor masih menjadi 70–80 persen dari kebutuhan, hal ini harus kita atasi,” ujarnya. BPOM menyebutkan bahwa ketergantungan pada bahan baku impor masih menjadi hambatan utama dalam memperkuat sektor kimia dan farmasi Indonesia. Hal ini, katanya, berdampak pada kemampuan industri untuk berkembang secara mandiri, terutama dalam menghadapi krisis pasokan atau fluktuasi harga internasional.

“Dengan peningkatan kapasitas produksi dan penambahan lini baru, kami berharap industri farmasi nasional semakin mandiri,” ujarnya.

Dia menyoroti bahwa upaya penguatan sektor farmasi harus dilakukan secara terpadu, baik melalui pengembangan infrastruktur maupun inovasi teknologi. Salah satu peluang yang bisa dimaksimalkan adalah industri garam farmasi. Menurut William, garam farmasi adalah komponen kritis dalam produksi cairan infus, yang sering digunakan dalam perawatan medis. Saat ini, Indonesia memiliki empat perusahaan yang memproduksi garam farmasi, tiga di antaranya berlokasi di Jawa Timur. Kapasitas produksi total mereka mencapai 4.000 ton per tahun, yang berdasarkan proyeksi data tahun 2025, cukup memenuhi kebutuhan nasional sekitar 1.500 hingga 1.700 ton per tahun. Dengan situasi ini, BPOM yakin substitusi bahan baku impor bisa tercapai, asalkan ada pengawasan dan pengembangan yang terus dilakukan.

READ  Meeting Results: KJRI siapkan 700 tenaga pendukung untuk layani jamaah haji di Makkah

Satoria Pharma Tingkatkan Kapasitas Produksi

Salah satu contoh konkret dari upaya tersebut adalah PT Satoria Aneka Industri, yang melalui unit bisnis Satoria Pharma telah mulai memperluas kapasitas produksi. Dalam acara peresmian pabrik Line 4 di Pasuruan, William Adi Teja menilai bahwa keberhasilan perusahaan seperti Satoria Pharma bisa menjadi contoh untuk sektor farmasi lainnya. Pabrik tersebut, kata dia, akan meningkatkan kemampuan produksi cairan infus, sehingga memperkuat ketahanan pasokan di dalam negeri.

CEO dan Pendiri PT Satoria Aneka Industri Alim Satria menyatakan bahwa dengan diresmikan pabrik Line 4, perusahaan berharap bisa memproduksi hingga 230 juta botol infus per tahun. “Pabrik ini menjadi salah satu langkah strategis kami untuk mendukung kemandirian industri farmasi,” ujarnya. Selain itu, Alim juga mengungkapkan bahwa perusahaan sedang mempersiapkan pembangunan pabrik Line 5 yang akan meningkatkan kapasitas produksi hingga 400 juta botol per tahun. Proyek ini rencananya selesai pada 2028, sehingga memberikan keuntungan jangka panjang bagi kebutuhan nasional.

Kepentingan Industri Farmasi dalam Perekonomian

William Adi Teja menegaskan bahwa penguatan industri farmasi tidak hanya berdampak pada ketersediaan produk, tetapi juga pada stabilitas perekonomian. “Industri farmasi lokal berperan besar dalam mengurangi defisit neraca perdagangan serta menjamin pasokan obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat,” katanya. Ia menjelaskan bahwa adanya keberhasilan dalam produksi bahan baku sendiri akan mempercepat proses pengembangan sektor kesehatan nasional. Selain itu, kemandirian ini juga membantu mengurangi risiko ketergantungan pada pasar global yang terkadang tidak stabil.

Menurut BPOM, perluasan kapasitas produksi tidak hanya mengandalkan perusahaan besar seperti Satoria Pharma, tetapi juga melibatkan usaha kecil dan menengah. “Kolaborasi antar perusahaan dan pemerintah sangat penting untuk mencapai tujuan ini,” ujarnya. Dalam konteks ini, ia menekankan bahwa regulasi yang tepat serta dukungan kebijakan pemerintah harus diiringi dengan investasi pada riset dan teknologi. Dengan demikian, industri farmasi dapat berkembang tidak hanya dalam volume, tetapi juga kualitas produk yang dihasilkan.

READ  Historic Moment: Menteri Agama sebut Paskah Nasional di Sulteng contoh nyata toleransi

Langkah-Langkah untuk Mencapai Kemandirian

William Adi Teja menambahkan bahwa ada beberapa langkah konkret yang perlu dilakukan. Pertama, pengembangan industri bahan baku seperti garam farmasi, lemak, dan bahan aktif lainnya harus ditingkatkan. Kedua, pemerintah perlu memberikan insentif bagi perusahaan yang berkomitmen mengurangi impor. Ketiga, BPOM akan terus memastikan standar kualitas produk dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk asing. “Kami berharap industri farmasi bisa menjadi pilar utama dalam mendukung kesehatan masyarakat secara mandiri,” ujarnya.

Alim Satria juga menambahkan bahwa keberhasilan Satoria Pharma dalam memperluas kapasitas produksi tidak hanya tentang jumlah, tetapi juga konsistensi kualitas. “Kami siap memastikan bahwa produk yang dihasilkan tetap memenuhi standar internasional,” ujarnya. Menurutnya, pabrik Line 4 dan rencana Line 5 akan meningkatkan daya saing perusahaan dalam industri cairan infus. Dengan ini, Satoria Pharma berharap bisa menjadi salah satu pelaku utama dalam mendorong kemandirian farmasi nasional.

BPOM berharap bahwa inisiatif seperti ini dapat menyebar ke seluruh Indonesia, sehingga menciptakan ekosistem farmasi yang lebih kuat. Dalam jangka panjang, industri farmasi yang mandiri akan memberikan manfaat lebih besar, terutama dalam menjaga aksesibilitas obat bagi masyarakat. “Kami yakin, dengan kerja sama yang baik, industri farmasi nasional bisa mengurangi impor hingga 50 persen dalam beberapa tahun mendatang,” kata William. Target ini, katanya, adalah bagian dari strategi nasional untuk menciptakan sektor kesehatan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Kontribusi Industri Farmasi Lokal

Menurut William Adi Teja, keterlibatan