Key Discussion: Program MBG di Banten jangkau 2,9 juta penerima manfaat
Program MBG di Banten Jangkau 2,9 Juta Penerima Manfaat
Key Discussion – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Badan Gizi Nasional (BGN) terus mengalami kemajuan di Provinsi Banten. Menurut data terbaru, program ini telah mencapai cakupan yang signifikan, dengan total penerima manfaat mencapai sekitar 2,9 juta orang. Angka ini mencerminkan upaya yang intensif dalam memberikan akses pangan bergizi secara merata kepada masyarakat, terutama di daerah-daerah yang rentan.
Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Kesuksesan Program
Dadang Hendrayuda, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, mengungkapkan bahwa keberhasilan program MBG di Banten didukung oleh kerja sama antar instansi. “Program ini adalah hasil kolaborasi lintas sektor, sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2025 tentang Tim Koordinasi Penyelenggaraan MBG,” jelas Dadang usai mengikuti rapat koordinasi di Serang, Selasa. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya menjadi inisiatif pemerintah pusat, tetapi juga melibatkan peran aktif daerah dan berbagai pihak terkait dalam memastikan distribusi pangan yang tepat sasaran.
Prioritas Wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar
BGN memperhatikan secara khusus wilayah yang masuk dalam kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), terutama di Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Wilayah-wilayah ini dianggap sebagai prioritas karena dinamika demografi penduduk dan kebutuhan nutrisi yang tidak hanya melibatkan anak-anak sekolah, tetapi juga kelompok usia lanjut. “Wilayah 3T menjadi fokus utama, karena keberagaman lapisan masyarakat yang membutuhkan dukungan gizi seimbang,” tambah Dadang. Ia menjelaskan bahwa sebanyak 131 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru sedang dalam proses pembangunan di dua daerah tersebut.
Standar Pangan Memastikan Kualitas Program
Kemajuan program MBG tidak hanya terlihat dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari standar kualitas makanan yang diberikan. Dadang menekankan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pangan bergizi, bukan sekadar makanan yang memenuhi kebutuhan kalori. “Ini bukan hanya makan kenyang, tetapi makan bergizi,” ujarnya. Standar dapur dan bahan baku harus memenuhi ketepatan dalam penyaluran protein, karbohidrat, serta serat. Ia menambahkan bahwa pengawasan ketat terhadap komposisi nutrisi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan dan manfaat program di tingkat masyarakat.
Wakil Gubernur Minta Fokus pada Aspek Sosial
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah menekankan bahwa pelaksanaan MBG harus tetap berorientasi sosial. “Kami berkomitmen agar program ini murni bermanfaat bagi masyarakat, dan jauh dari kepentingan bisnis,” kata Dimyati. Ia menyarankan pemerintah daerah dan stakeholder lainnya untuk melakukan pemetaan wilayah berdasarkan potensi komoditas lokal. “Dengan demikian, rantai pasok dapat diperkuat, serta inflasi daerah bisa dikurangi karena ketergantungan pada pasokan luar dapat diminimalkan,” tambahnya.
Partisipasi Masyarakat dan Pemprov Banten
Dimyati juga mengingatkan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam menyukseskan program MBG. “Pemprov Banten berkomitmen untuk terus mengawasi jalannya program agar tetap sesuai standar gizi yang ditetapkan pusat,” ujarnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan logistik, tetapi juga pada komitmen bersama untuk menjaga integritas dan keberlanjutan pemberdayaan gizi. “Kami mendukung penuh program ini dan siap memberikan pengawasan agar berjalan optimal, sesuai harapan Presiden,” tegas Dimyati.
Harapan untuk Peningkatan Pelayanan
Komitmen bersama antara BGN, Pemprov Banten, dan masyarakat diperlukan untuk memastikan program MBG dapat mencapai tujuannya. Dengan dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan infrastruktur dan logistik, serta partisipasi aktif masyarakat, program ini diharapkan bisa berjalan lebih efektif di seluruh wilayah Provinsi Banten. “Tujuan utama adalah memastikan akses pangan bergizi merata, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu,” ujar Dadang. Ia juga memastikan bahwa kualitas dan kuantitas distribusi akan terus diawasi untuk menghindari penyalahgunaan anggaran atau pengalihan tujuan.
Langkah Strategis untuk Masa Depan
Kerja sama lintas sektor menjadi fondasi utama dalam mengembangkan MBG di Banten. “Dengan kolaborasi yang sinergis, kita bisa mempercepat peningkatan kesehatan masyarakat,” kata Dimyati. Ia menyoroti bahwa sentra pengembangan produksi sayuran, peternakan, atau komoditas lainnya di tingkat kecamatan sangat penting untuk memperkuat sistem pasokan lokal. “Ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada impor pangan, sehingga memperkuat ketahanan pangan nasional,” tambahnya.
Menjaga Konsistensi dan Transparansi
Dadang mengingatkan bahwa keberhasilan program MBG tidak bisa dicapai hanya melalui upaya fisik, tetapi juga melalui transparansi dan akuntabilitas. “Kita harus memastikan bahwa setiap unit SPPG beroperasi sesuai protokol yang telah ditetapkan,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa monitoring dan evaluasi berkala akan dilakukan untuk menilai efektivitas program dan memberikan perbaikan jika diperlukan. “Kita juga perlu memperhatikan ketersediaan stok, distribusi, dan penyaluran ke masyarakat,” lanjut Dadang, menambahkan bahwa konsistensi program adalah kunci untuk memperkuat dampaknya.
Program MBG Sebagai Pembelajaran Nasional
Dengan masyarakat Banten yang beragam, program MBG juga menjadi contoh bagaimana inisiatif nasional dapat diadaptasi sesuai kebutuhan daerah
