Key Strategy: IIF raih pendanaan Rp1,3 T guna percepat infrastruktur berkelanjutan
IIF Raih Pendanaan Rp1,3 T untuk Percepatan Infrastruktur Berkelanjutan
Key Strategy – Sebuah keberhasilan signifikan tercapai oleh PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dalam menarik dana segar dari berbagai institusi keuangan, baik domestik maupun internasional. Total pendanaan yang diperoleh mencapai sekitar Rp1,3 triliun, yang digunakan untuk memperkuat kemampuan pembiayaan serta mendorong percepatan pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia. Fasilitas ini diharapkan membantu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan proyek-proyek strategis yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Perluasan Kapasitas Pembiayaan
Dalam pernyataan resmi yang dilakukan di Jakarta, Senin, Presiden Direktur & CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan, menyebutkan bahwa pendanaan baru ini menunjukkan peningkatan kepercayaan terhadap sektor infrastruktur Indonesia. “Kami mengapresiasi dukungan yang kuat dari lembaga keuangan domestik serta internasional,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa fasilitas tersebut menjadi bukti pengakuan terhadap keberlanjutan proyek yang dijalankan oleh IIF.
“Kami mengapresiasi kepercayaan yang kuat dari lembaga keuangan domestik maupun internasional. Fasilitas ini mencerminkan meningkatnya keyakinan terhadap sektor infrastruktur Indonesia,” kata Rizki Pribadi Hasan.
Kelima juta dolar AS dari FinDev Canada menjadi bagian dari pendanaan yang diperoleh. Selain itu, IIF juga menerima perpanjangan fasilitas sebesar Rp300 miliar dari PT Bank BNP Paribas Indonesia. Total pendanaan ini mencakup kombinasi dana jangka pendek dan jangka panjang, yang dirancang untuk memastikan keberlanjutan kegiatan usaha serta mempercepat proses penyelesaian proyek infrastruktur.
Pengembangan Produk Sesuai Kebutuhan Nasional
Sebagai salah satu penopang utama pembangunan infrastruktur nasional, IIF menekankan komitmennya dalam menciptakan solusi yang memenuhi berbagai kebutuhan pelaku industri. Salah satu fokusnya adalah pengembangan produk pembiayaan yang mendukung akses ke pasar modal domestik, melalui penerbitan obligasi atau sukuk. “Kami terus berinovasi untuk menawarkan solusi kredit enhancement yang fleksibel dan efektif,” tambah Rizki.
Dengan pendanaan tambahan ini, perusahaan yakin dapat memperluas dampaknya, terutama pada proyek yang sejalan dengan transisi ke ekonomi rendah karbon. Rizki menjelaskan bahwa keberhasilan membiayai lebih dari 150 proyek selama 16 tahun operasi menunjukkan kemampuan IIF dalam menciptakan nilai ekonomi serta lingkungan yang berkelanjutan. “Proyek-proyek ini tidak hanya memperkuat ketersediaan fasilitas keuangan, tetapi juga membantu mewujudkan visi pemerintah dalam pembangunan yang berimbang,” katanya.
Optimisasi Biaya dan Kompetitivitas Suku Bunga
Chief Financial Officer IIF, Eri Wibowo, menambahkan bahwa diversifikasi sumber pendanaan menjadi strategi penting untuk mengoptimalkan biaya modal. “Fasilitas ini memungkinkan kami menawarkan suku bunga yang lebih kompetitif kepada klien,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa penurunan biaya pembiayaan dapat meningkatkan kelayakan finansial proyek infrastruktur, sehingga mempercepat proses implementasi.
“Selain mendiversifikasi sumber pendanaan, fasilitas ini akan mengoptimalkan cost of funds IIF. Hal itu memungkinkan kami menawarkan suku bunga pembiayaan yang lebih kompetitif kepada klien, sehingga mendukung kelayakan finansial proyek-proyek infrastruktur mereka,” tambah Eri Wibowo.
Keberhasilan ini juga menjadi dasar untuk mengembangkan model pembiayaan yang lebih inovatif. Eri menyebutkan bahwa IIF terus berupaya meningkatkan kualitas layanannya, termasuk dengan memperluas kemitraan dengan pihak swasta dan pemerintah. “Kami percaya bahwa keterlibatan aktif lembaga keuangan internasional akan memperkuat daya saing sektor infrastruktur Indonesia di pasar global,” katanya.
Ekspansi ke Sektor Strategis
Di samping keberhasilan pendanaan, IIF juga memperluas cakupan proyeknya ke bidang baru, seperti sektor kesehatan. Perusahaan kini memberikan fasilitas pinjaman untuk mendukung proyek infrastruktur kesehatan yang bertujuan meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat. “Ini menunjukkan komitmen kami untuk mendorong inisiatif yang relevan dengan SDGs dan target Net Zero Emissions Indonesia pada 2060,” pungkas Eri.
Ekspansi ke bidang kesehatan menjadi bagian dari strategi IIF dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang. Rizki menjelaskan bahwa proyek tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup, terutama di daerah-daerah yang masih kurang terlayani. “Dengan pendanaan yang memadai, IIF dapat berkontribusi pada pengembangan infrastruktur yang lebih merata dan berkelanjutan,” tegasnya.
Visi Jangka Panjang
Sebagai lembaga keuangan yang fokus pada keberlanjutan, IIF menegaskan bahwa pendanaan ini merupakan langkah awal dalam memenuhi visi jangka panjang perusahaan. “Kami berharap fasilitas ini dapat menjadi penggerak utama dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta target net zero emissions pemerintah,” tambah Rizki. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti bahwa investasi dalam infrastruktur berkelanjutan bukan hanya mungkin, tetapi juga sangat penting untuk ekonomi Indonesia.
Dengan dana tambahan tersebut, IIF dapat memperluas jangkauan proyeknya, terutama pada bidang yang memerlukan pengembangan infrastruktur mendesak. Eri juga mengungkapkan bahwa perusahaan terus memperhatikan perubahan tren pasar, termasuk kebutuhan akan solusi pembiayaan yang ramah lingkungan. “Kami menyiapkan berbagai produk yang selaras dengan keberlanjutan dan inovasi teknologi,” katanya.
Keberhasilan IIF dalam mendapatkan pendanaan juga menunjukkan pentingnya peran lembaga keuangan dalam mempercepat transisi ekonomi menuju lingkungan yang lebih hijau. Rizki menegaskan bahwa pendanaan ini menjadi momentum untuk mendorong proyek-proyek yang tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan. “Kami optimis bahwa dana ini akan membantu mewujudkan Indonesia menjadi negara yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Dengan total pendanaan Rp1,3 triliun, IIF kini memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan era krisis dan mengambil peluang dalam pembangunan yang lebih inklusif. Eri menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas pembiayaan akan mempercepat proses implementasi proyek, terutama di daerah yang masih membutuhkan dukungan finansial. “Ini menjadi kesempatan emas bagi IIF untuk memberikan kontribusi lebih besar kepada masyarakat,” katanya.
Pendanaan yang diperoleh juga men
