Program Terbaru: Indef: Eskalasi Konflik Iran-Israel-AS Berpotensi Tekan Rupiah
Indef: Eskalasi Konflik Iran-Israel-AS Berpotensi Tekan Rupiah
Konflik di wilayah Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dianggap bisa menambah tekanan terhadap kurs rupiah dalam waktu dekat. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan internasional, yang berdampak pada dinamika investasi global.
Dalam wawancara, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman menyatakan bahwa ketegangan geopolitik sering memicu fenomena ‘flight to safety’. Investor cenderung mengalihkan dana mereka dari pasar negara berkembang ke aset dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
“Eskalasi konflik Iran dengan Israel–AS memang bisa memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Ketegangan geopolitik biasanya menyebabkan aliran dana ke aset yang lebih stabil, sehingga dolar AS cenderung menguat dan memengaruhi mata uang negara berkembang,” ujarnya.
Rupiah kini bergerak mendekati rentang Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS, mencerminkan peningkatan ketidakpastian global dan aliran dana keluar dari pasar keuangan dalam negeri. Rizal menambahkan, kenaikan harga minyak dunia yang sering terjadi saat konflik Timur Tengah memanas juga berpotensi memperparah tekanan pada rupiah.
Indonesia, sebagai negara net importer energi, mungkin mengalami kenaikan kebutuhan devisa untuk pembelian impor energi jika harga minyak global terus naik. “Lonjakan harga minyak akan meningkatkan permintaan dolar untuk impor energi dan memperlebar tekanan pada neraca transaksi berjalan,” kata Rizal.
Menurut Rizal, pelemahan rupiah tidak selalu berlangsung permanen. Kondisi eksternal Indonesia masih relatif sehat, terutama karena surplus perdagangan komoditas utama seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan nikel.
Bank Indonesia juga memiliki instrumen stabilisasi untuk mengendalikan pergerakan kurs, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, operasi DNDF, hingga kebijakan suku bunga. “Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi tetap tertekan dan mendekati Rp17.000 per dolar AS. Namun, arah jangka menengah bergantung pada perkembangan konflik geopolitik, dinamika harga energi, serta respons kebijakan moneter domestik,” bebernya.
