Kebijakan Baru: Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Imbas Ketegangan Perang di Iran

Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Imbas Ketegangan Perang di Iran

Pasar energi dunia mengalami kenaikan tajam akibat ketegangan yang memanas di Timur Tengah, terutama karena konflik di Iran. Harga minyak mentah global mencapai titik psikologis US$100 per barel, angka tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Sementara itu, minyak berjangka AS melonjak 14,7%, sedangkan minyak Brent menguat 12,63% ke US$104 per barel.

Kenaikan drastis ini memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi bisa memperburuk tekanan inflasi di seluruh dunia. Dampak langsung terasa pada bursa saham, dengan Dow futures turun 851,6 poin atau sekitar 2%, diikuti oleh penurunan pada S&P 500 dan Nasdaq. Di sektor riil, rata-rata harga bensin di Amerika Serikat mencapai US$3,45 per galon, naik 16% dibandingkan minggu sebelumnya, menurut laporan AAA.

Kondisi tersebut memberi tekanan politik pada Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu. Meski begitu, pemerintahan Trump berusaha meredam kecemasan publik terkait dampak jangka panjang dari operasi militer AS-Israel di Iran. Dalam wawancara dengan ABC News, Trump menyebut kenaikan harga bahan bakar sebagai “gangguan kecil” dan menganggap lonjakan cepat sebagai “jalan memutar” yang sudah diprediksi.

“Lonjakan ini hanyalah gangguan kecil, dan kita sudah menyiapkan langkah untuk mengatasinya,” kata Trump.

Menteri Energi Chris Wright menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berencana menyerang industri minyak Iran atau infrastruktur energi negara lain. Di sisi berlawanan, Teheran mengingatkan bahwa konflik sedang memasuki “fase baru” setelah serangan Israel. Seorang pejabat Iran menyatakan kemungkinan adanya serangan balik terhadap infrastruktur regional dalam beberapa hari mendatang.

“Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai keinginan mereka tercapai,” tegas pejabat tersebut.

Dengan mengancam penutupan Selat Hormuz—jalur perairan strategis yang mengalirkan 20% pasokan minyak global—Teheran mengirim sinyal bahwa produksi minyak akan terganggu. Produsen kini kesulitan menyimpan cadangan, sehingga banyak yang memutuskan mengurangi output. Dunia kini menunggu apakah tekanan ini akan meluncurkan krisis energi atau diplomasi mampu menenangkan fluktuasi harga sebelum inflasi memburuk lebih lanjut.

READ  Program Terbaru: Indef: Eskalasi Konflik Iran-Israel-AS Berpotensi Tekan Rupiah