Key Strategy: Khofifah dorong penguatan industri substitusi impor sektor farmasi
Khofifah Dorong Penguatan Industri Substitusi Impor di Sektor Farmasi
Key Strategy – Pasuruan, Jawa Timur (ANTARA) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan dukungan terhadap pengembangan industri substitusi impor di bidang farmasi sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri. Dalam upacara peresmian Pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Jawa Timur, Selasa, ia menekankan pentingnya peran industri lokal dalam meningkatkan kemandirian ekonomi nasional. “Kita masih mengimpor banyak bahan baku obat, sehingga penguatan industri substitusi impor menjadi sangat kritis,” ujarnya.
Langkah Penguatan untuk Menciptakan Kemandirian
Khofifah menjelaskan bahwa meskipun sebagian besar proses produksi obat saat ini berlangsung di dalam negeri, kebutuhan akan bahan baku tetap dominan dipenuhi melalui impor. Hal ini mengharuskan strategi penguatan industri hulu yang lebih intensif. “Maka, keberadaan perusahaan seperti Satoria Pharma menjadi bukti nyata keberhasilan program substitusi impor,” katanya.
“Seperti yang dijelaskan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif William Adi Teja, kita masih mengimpor sebagian besar bahan baku obat. Maka, penguatan industri substitusi impor di sektor farmasi sangat penting,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, pengembangan industri lokal tidak hanya mendukung ketahanan pangan dan energi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan sektor kesehatan. Ia menyoroti bahwa Satoria Pharma, melalui unit bisnisnya, memberikan solusi konkret dalam produksi infus yang sebelumnya bergantung pada impor. “Produksi infus dalam negeri, khususnya yang dihasilkan oleh Satoria Pharma, menjadi pondasi kuat untuk mengurangi defisit bahan baku obat,” lanjutnya.
Keterlibatan Pemprov dalam Mendorong Industri Lokal
Khofifah juga menegaskan peran Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan industri farmasi. Ia menyebut bahwa keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan industri substitusi impor. “Selain itu, bantuan dari pemerintah daerah memastikan bahwa produk dalam negeri dapat digunakan secara optimal,” katanya.
Dalam konteks ini, Khofifah menjelaskan bahwa Pemprov Jawa Timur saat ini mengelola 14 rumah sakit, termasuk RSUD Dr Soetomo yang memiliki kapasitas tempat tidur terbesar di Indonesia. “Rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah daerah, seperti RSUD Dr Soetomo, berperan aktif dalam menyerap produk-produk lokal, terutama cairan infus,” ujarnya.
Proyek Infrastruktur sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
Khofifah menekankan bahwa keberadaan PT Satoria Aneka Industri, melalui unit bisnis Satoria Pharma, adalah bukti nyata keberhasilan upaya substitusi impor yang telah menjadi prioritas pemerintah. Ia menyatakan bahwa perusahaan ini tidak hanya meningkatkan produksi obat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada perekonomian lokal. “Perusahaan ini menggambarkan perubahan paradigma dalam sektor farmasi, di mana kebutuhan sebelumnya bergantung pada impor kini bisa dipenuhi melalui produksi dalam negeri,” tuturnya.
Dalam upacara peresmian tersebut, Khofifah menambahkan bahwa penguatan industri substitusi impor perlu dilakukan secara berkelanjutan. “Kita harus terus berinvestasi dalam teknologi produksi, sumber daya manusia, dan pemasaran produk lokal agar bisa bersaing dengan produk impor,” katanya. Ia juga mengapresiasi keberhasilan Satoria Pharma dalam menjadikan Pasuruan sebagai pusat produksi obat yang mandiri.
Peran Rumah Sakit dalam Mendukung Industri Lokal
Khofifah menyoroti pentingnya kerja sama antara sektor kesehatan dan industri farmasi dalam meningkatkan ekonomi daerah. Ia menyatakan bahwa rumah sakit, khususnya yang berada di bawah pengelolaan Pemprov Jawa Timur, menjadi mitra strategis dalam menyerap produk-produk lokal. “Dengan keberadaan 14 rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah daerah, kita bisa memastikan bahwa kebutuhan obat di wilayah ini tidak lagi bergantung pada impor,” ujarnya.
Rumah sakit sebagai mitra utama dalam distribusi obat memiliki peran kritis dalam memperkuat posisi industri substitusi impor. Khofifah menegaskan bahwa ketersediaan produk lokal di rumah sakit akan memicu permintaan yang lebih besar, sehingga mendorong pertumbuhan industri farmasi di Jawa Timur. “Kami berharap produksi cairan infus dari Satoria Pharma bisa memenuhi kebutuhan rumah sakit Pemprov Jawa Timur secara stabil,” kata Khofifah.
Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Kemandirian Industri
Khofifah juga menyebut bahwa penguatan industri substitusi impor perlu didukung oleh berbagai kebijakan yang terpadu. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi dalam menciptakan sistem yang efisien dan berkelanjutan. “Kerja sama ini harus terus berjalan agar industri farmasi nasional bisa berkembang secara mandiri,” ujarnya.
Kehadiran Satoria Pharma, kata Khofifah, menjadi bentuk nyata dari upaya pemerintah untuk mendorong kemandirian industri. “Dengan adanya perusahaan lokal yang mampu memproduksi obat dalam skala besar, kita bisa mengurangi defisit impor dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya. Ia berharap keberhasilan ini bisa menjadi contoh untuk daerah lain dalam mengembangkan sektor farmasi.
Pengembangan industri substitusi impor di sektor farmasi dianggap sebagai langkah strategis dalam menciptakan ekonomi daerah yang berkelanjutan. Khofifah menegaskan bahwa ketergantungan pada produk impor tidak hanya meningkatkan biaya, tetapi juga memicu risiko ketidakstabilan pasokan. “Kita harus berpikir jangka panjang, karena industri farmasi yang mandiri akan menjadi pilar utama dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Dalam rangka mendorong inisiatif ini, Khofifah menyatakan bahwa Pemprov Jawa Timur akan terus memberikan dukungan melalui berbagai program. Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi dari Satoria Pharma menjadi salah satu prioritas dalam upaya ini. “Kami berharap, produk-produk yang dihasilkan bisa digunakan secara optimal, baik dalam pelayanan kesehatan maupun ekspor,” kata Khofifah.
Penguatan industri substitusi impor di Jawa Timur, menurut Khofifah, tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. “Produksi obat lokal akan menciptakan rantai nilai yang lebih panjang, mulai dari bahan baku hingga distribusi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa hal ini perlu didukung oleh kebijakan yang konsisten dan partisipasi aktif seluruh stakeholder.
Kesimpulan: Pemenuhan Kebutuhan Lokal sebagai Target Utama
Khofifah menutup pernyataannya dengan harapan bahwa industri substitusi impor di Jawa Timur bisa terus berkembang. “Kita harus berkomitmen untuk mewujudkan kemandirian industri farmasi, agar masyarakat tidak lagi tergantung pada produk luar negeri,” katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja keras seluruh pihak, termasuk perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.
