30 Kapal Feri Beroperasi di Selat Bali, Urai Antrean Ketapang-Gilimanuk

1 bulan ago  ·  3 min read
By Susan Hernandez - pesonatropis.com
21a33142-bc32-4b0a-af5a-3e3772811dab-0

ASDP Tambahkan 30 Kapal Feri untuk Mempercepat Arus Kendaraan di Selat Bali

Pesonatropis.com – Sebagai upaya mengatasi kemacetan yang terjadi di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk, Jembrana, Bali, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang telah melakukan penyesuaian operasional. Dengan menambah jumlah kapal feri hingga 30 per hari, perusahaan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengangkutan dan mengurangi antrean kendaraan di kedua pelabuhan tersebut. Penyesuaian ini dilakukan secara strategis untuk menjaga kecepatan aliran transportasi, khususnya selama puncak arus penumpang.

Pengoptimalan Sumber Daya di Lapangan

General Manajer ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, menjelaskan bahwa seluruh sumber daya yang tersedia di lapangan telah dimaksimalkan guna mempercepat proses pengurangan antrian. Langkah ini bukan hanya sekadar menambah jumlah kapal, tetapi juga melibatkan penyesuaian sistem kerja di area dermaga. Menurut Arief, penyesuaian ini dirancang untuk mengoptimalkan waktu pelayanan dan meningkatkan efisiensi operasional.

“Kami mengoptimalkan sumber daya di lapangan untuk mempercepat penguraian antrean kendaraan,” ujar Arief Eko Kurniansjah dilansir dari Antara.

Keputusan untuk menambah kapal feri sesuai dengan kebutuhan saat ini, di mana volume kendaraan yang melintasi Selat Bali terus meningkat. Dengan adanya 30 kapal per hari, penumpang yang ingin melakukan perjalanan antar pulau dapat lebih cepat memasuki area pelayaran tanpa terjebak dalam kepadatan yang lama. Strategi ini juga dilakukan untuk mendukung arus balik, terutama pada akhir pekan atau hari libur.

Pembagian Zona Dermaga Berdasarkan Jenis Kendaraan

Salah satu upaya yang dilakukan oleh ASDP adalah membagi zona dermaga berdasarkan jenis kendaraan yang beroperasi. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses bongkar muat serta menghindari penumpukan kendaraan di satu titik. Untuk kendaraan pribadi, seperti mobil dan sepeda motor, penumpang dialihkan ke Dermaga MB I, MB II, MB III, dan Dermaga Ponton. Sementara itu, kendaraan logistik, seperti truk pengangkut barang, ditempatkan di Dermaga MB IV dan Dermaga LCM.

Pembagian zona ini memastikan bahwa masing-masing jenis kendaraan dapat diatur dengan lebih terstruktur. Misalnya, untuk kendaraan logistik, pihak ASDP memberikan prioritas pada dermaga yang lebih luas dan dilengkapi fasilitas khusus. Dengan demikian, proses pengangkutan barang tidak mengganggu pelayanan untuk kendaraan pribadi, yang sering kali menjadi prioritas utama selama jam sibuk.

Implementasi Pola Tiba-Bongkar-Berangkat

Langkah lain yang diambil adalah penerapan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) dalam operasional kapal. Pola ini memungkinkan kapal feri untuk segera berangkat setelah selesai menurunkan penumpang, sehingga mengurangi waktu penggunaan dermaga. Dengan sistem TBB, kapal tidak perlu menunggu lama di pelabuhan sebelum memulai perjalanan selanjutnya.

“Kami juga menerapkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) untuk memangkas waktu sandar dan mempercepat siklus pelayaran,” kata Arief Eko Kurniansjah.

Penerapan TBB diperkirakan dapat meningkatkan frekuensi perjalanan kapal feri hingga 15 persen. Selain itu, sistem ini membantu mengurangi waktu tunggu bagi penumpang, terutama untuk kendaraan yang ingin melintasi Selat Bali. Arief menjelaskan bahwa pengoptimalan ini dilakukan dengan koordinasi yang baik antar tim operasional, termasuk petugas pemandu, pengemudi kapal, dan staf pelabuhan.

Keuntungan dan Tantangan dalam Pengoperasian Kapal Feri

Kenaikan jumlah kapal feri diharapkan dapat menangani permintaan penumpang secara lebih efektif. Namun, penyesuaian ini juga menuntut peningkatan kinerja staf dan fasilitas pelabuhan. Arief menyebutkan bahwa sejumlah kendaraan harus diprioritaskan, sementara yang lain mengatur jadwal secara bertahap. Hal ini memerlukan kehati-hatian dalam menghindari kesalahan distribusi atau penundaan pelayanan.

Meningkatkan jumlah kapal feri juga berdampak pada pengurangan waktu tempuh penumpang. Dengan kapasitas angkutan yang lebih besar, pengguna jasa dapat memperoleh pelayanan lebih cepat, terutama selama jam sibuk. Namun, hal ini juga berpotensi menambah beban operasional dan kebutuhan bahan bakar. ASDP berkomitmen untuk menghitung setiap perubahan secara matang, agar keuntungan bisa dinikmati oleh seluruh pengguna pelabuhan.

Langkah strategis ini tidak hanya terbatas pada penyesuaian jumlah kapal, tetapi juga mencakup pengelolaan lalu lintas kendaraan yang lebih baik. Arief menyatakan bahwa ASDP terus melakukan evaluasi setiap hari untuk menyesuaikan kebutuhan pengguna. Dengan demikian, antrean di kedua pelabuhan dapat diatasi secara dinamis sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Selain penambahan kapal, ASDP juga berupaya memperbaiki infrastruktur dan sistem pendaftaran. Perusahaan berharap dengan kombinasi langkah-langkah tersebut, kemacetan yang terjadi di selat Bali dapat diminimalkan. Kebijakan ini dipercaya dapat memberikan dampak positif pada kegiatan ekonomi, terutama untuk warga Banyuwangi dan Bali yang sering menggunakan jasa ferry untuk mobilitas harian.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News.

MORE FROM THIS CATEGORY