Main Agenda: RI-Belarus buka peluang penguatan kerja sama perdagangan hingga pangan
RI-Belarus Buka Peluang Penguatan Kerja Sama Perdagangan hingga Pangan
Main Agenda – Jakarta, Jumat – Pertemuan bilateral antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, dengan Perdana Menteri Republik Belarus, Alexander Turchin, berfokus pada peningkatan kerja sama ekonomi, termasuk bidang perdagangan dan pangan. Pertemuan ini menjadi momen penting untuk menggarisbawahi komitmen kedua negara dalam memperkuat hubungan bilateral dan menjajaki kolaborasi di berbagai sektor. Menurut pernyataan Airlangga, Belarus memiliki peran strategis dalam menghubungkan Indonesia dengan pasar Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), yang menjadi salah satu jalur utama ekspor ke negara-negara di kawasan Timur Eropa.
Persiapan Kebijakan Ekonomi Kemitraan
Komitmen kerja sama antara Indonesia dan Belarus juga mencakup persiapan untuk kunjungan kenegaraan Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, yang akan dilaksanakan pada bulan Juli 2026. Airlangga menyebut bahwa agenda ini telah menjadi prioritas dalam pembahasan kemitraan ekonomi. “Kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah konkret untuk menjembatani kepentingan ekonomi dan kebijakan luar negeri kedua negara,” jelas Airlangga. Ia menambahkan bahwa sejumlah isu penting, seperti pembahasan roadmap kerja sama, telah masuk ke daftar prioritas dalam rapat bilateral.
“Belarus merupakan mitra strategis Indonesia di kawasan Eurasia Timur dan menjadi salah satu pintu masuk penting menuju pasar Uni Ekonomi Eurasia (EAEU),” kata Airlangga dalam keterangannya yang dikutip dari Jakarta, Jumat.
Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga menyebutkan bahwa Indonesia siap menerima kunjungan delegasi bisnis Belarus ke Tanah Air. Rencana kunjungan ini akan dilakukan dalam rangkaian perjalanan resmi Lukashenko, yang dianggap sebagai langkah untuk memperkuat hubungan bisnis bilateral. “Kunjungan delegasi tersebut diharapkan memberikan peluang baru bagi pengembangan kerja sama di bidang ekspor, investasi, dan teknologi pertanian,” tambahnya.
Kemitraan Ekonomi dalam Diversifikasi Pasar
Belarus dinilai sebagai mitra kunci dalam mendukung agenda Indonesia terkait industrialisasi, ketahanan pangan, serta peningkatan diversifikasi pasar. Dengan basis industri manufaktur yang kuat, Belarus telah mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasionalnya. Dalam laporan tahunan 2024, sektor manufaktur negara ini mencapai kontribusi sebesar 20,3 persen terhadap PDB, menunjukkan kesiapan mereka dalam menghadirkan produk-produk komersial yang kompetitif.
Salah satu bidang yang menjadi perhatian utama dalam pertemuan ini adalah pengembangan agroindustri dan mekanisasi pertanian. Belarus dikenal memiliki keunggulan dalam teknologi pertanian yang dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam meningkatkan modernisasi sektor pertanian nasional. Di sisi lain, Indonesia memiliki tingkat swasembada pangan sebesar 96 persen, yang menjadi basis kepercayaan untuk memperkuat kerja sama bilateral di bidang pangan.
Manfaat Kolaborasi di Bidang Pertanian
Kerja sama antara kedua negara di bidang pertanian diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi pangan serta memperkuat kapasitas Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan nasional. Airlangga menegaskan bahwa pengalaman Belarus dalam teknologi pertanian dan pengelolaan sumber daya pertanian dapat diadopsi untuk mendorong inovasi di sektor pertanian Indonesia. “Dengan kerja sama ini, kita bisa mengeksplorasi peluang pertukaran teknologi, serta pengembangan infrastruktur pertanian yang lebih canggih,” imbuhnya.
Selain itu, kehadiran Belarus dalam pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk memperluas pasar ekspor Indonesia. Dengan akses ke pasar EAEU yang luas, Indonesia dapat meningkatkan ekspor produk pertanian dan manufaktur ke negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia. Airlangga menyoroti bahwa negara-negara EAEU memiliki permintaan yang signifikan terhadap produk Indonesia, terutama bahan pangan, tekstil, dan barang kemas.
Perjanjian Bebas Perdagangan Indonesia-EAEU
Dalam sesi diskusi, kedua pihak juga membahas Perjanjian Bebas Perdagangan Indonesia-EAEU (I-EAEU FTA), yang ditandatangani pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg. Airlangga menyebut bahwa tercapainya perjanjian ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam mengoptimalkan akses pasar di kawasan Timur Eropa. “Perjanjian ini akan menjadi alat penting untuk memperluas kemitraan ekonomi, serta mendorong pertumbuhan ekspor dan investasi mutual,” kata dia.
Perjanjian FTA ini diperkirakan akan mengurangi tarif masuk produk Indonesia ke pasar EAEU, yang mencakup negara-negara seperti Rusia, Ukraina, dan Kazakhstan. Dengan adanya perjanjian ini, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan ekspor pertanian, seperti beras, kelapa sawit, dan produk olahan pangan, ke pasar ekonomi yang lebih besar. Selain itu, perjanjian ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga kestabilan ekonomi regional, terutama di tengah dinamika pasar global yang terus berubah.
Komitmen Dalam Membangun Kemitraan Ekonomi
Perdana Menteri Belarus, Alexander Turchin, menggarisbawahi komitmen negaranya untuk terus memperkuat hubungan dengan Indonesia. Ia menilai bahwa kemitraan ekonomi antara kedua negara memiliki potensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kedua pihak. “Kita akan bekerja sama dalam mengatasi tantangan ekonomi global, serta menjaga stabilitas pasar di wilayah EAEU,” ujar Turchin.
Kedua pihak juga sepakat untuk mendukung pembukaan Kedutaan Besar Indonesia di Minsk. Langkah ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mempercepat pertukaran informasi dan memperkuat kerja sama bilateral. “Dengan adanya kedutaan, kita bisa mengoptimalkan koordinasi antara kedua negara, terutama dalam menghadapi isu-isu ekonomi yang berkembang,” kata T
