Lutesha Ceritakan Karakternya dalam Film Cerita Lila
Main Agenda – Dalam dunia perfilman Indonesia, aktor dan aktris sering kali dikenal karena peran-peran mereka yang menghibur atau menggugah. Namun, bagi Lutesha, karakter yang ia perankan dalam film horor terbaru, *Cerita Lila*, berbeda dari biasanya. Film ini tidak hanya menawarkan atmosfer menegangkan, tetapi juga menyajikan cerita yang sangat berdampak emosional. Lutesha, yang dikenal karena kemampuannya memainkan peran kompleks, mengatakan bahwa ia terkesan dengan tantangan yang diberikan oleh karakter Tari, seorang ibu tunggal yang harus berjuang menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupannya.
Mengapa Karakter Tari Menarik?
Karakter Tari menurut Lutesha adalah representasi dari perjuangan seorang ibu yang kehilangan dukungan dari pasangan. Dalam film ini, Tari tidak hanya menjadi tokoh utama, tetapi juga menghadapi berbagai badai kehidupan. “Karakternya sangat menantang karena ia harus mengambil peran yang ekstrem, baik secara emosional maupun fisik,” ujarnya. Cerita yang dihadirkan dalam *Cerita Lila* menggabungkan unsur horor dengan drama kehidupan sehari-hari, yang membuat Lutesha merasa bahwa perannya membutuhkan pengorbanan besar.
“Sebenarnya saya tidak terbiasa dengan karakter seperti ini. Kalau biasanya saya perankan seseorang yang lebih santai, kali ini harus menanggung beban besar,” kata Lutesha saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (12/6).
Film ini menggambarkan Tari sebagai seorang ibu tunggal yang harus mencari nafkah sambil memenuhi kebutuhan seorang anak, Tari, yang nama anaknya memiliki makna khusus. Peran ini mencakup berbagai peristiwa seperti perceraian, usaha mengatasi kemiskinan, dan bahkan ancaman kehilangan hak asuh anak. “Ceritanya sangat menguras energi, karena setiap adegan mengandung konflik yang memicu emosi tajam,” tambahnya.
Proses Penyusunan Skrip dan Konsultasi dengan Sutradara
Sebelum memutuskan untuk memainkan peran Tari, Lutesha mengatakan bahwa ia mengalami proses yang cukup panjang. Selama sebulan, ia terlibat dalam *reading* skrip dan berdiskusi dengan sutradara serta tim pembuatan film. “Saya membaca skripnya berkali-kali, lalu berbicara dengan Mas Bobby dan Echa untuk memahami alur cerita dengan lebih dalam,” jelas Lutesha. Proses ini, menurutnya, membantu mengurangi kecemasannya dan membuatnya lebih siap menghadapi tantangan dalam memerankan Tari.
“Di awal, saya merasa deg-degan karena beban karakter Tari sangat berat. Tapi setelah diskusi dan analisis skrip, semuanya jadi jelas dan terarah,” kata aktor muda ini.
Menurut Lutesha, meski banyak adegan yang menggambarkan kecemasan dan perasaan gelisah, ia merasa film ini tidak hanya mengandalkan efek horor, tetapi juga mampu menyentuh hati penonton. “Karena ada cerita seorang ibu yang berjuang keras, film ini seolah mengajak kita untuk merasakan perasaan Tari secara lebih personal,” tambahnya. Hal ini membuat Lutesha tertarik untuk terlibat lebih dalam dalam pengambilan gambar, karena ia ingin memastikan bahwa emosi Tari terwujud secara realistis.
Perjuangan Tari: Dari Kehilangan ke Pengorbanan
Karakter Tari di *Cerita Lila* menggambarkan seorang ibu yang berada dalam situasi sulit. Dari awal, ia sudah kehilangan dukungan dari pasangan, yang memaksa Tari untuk menanggung segala tanggung jawab sendirian. “Beban yang dihadapinya sangat besar, karena ia harus menyeimbangkan antara urusan keluarga dan pekerjaan. Tidak hanya itu, ia juga harus menghadapi ancaman terhadap hak asuh anaknya,” ujarnya. Cerita ini memperlihatkan bagaimana Tari berusaha memperbaiki kehidupan, meski dengan cara yang cukup berat.
“Bayangkan saja, Tari harus mencari duit untuk kebutuhan sehari-hari, sementara anaknya masih dalam proses belajar. Jadi, setiap adegan menggambarkan keputusasaan, kekhawatiran, dan kegigihan yang luar biasa,” lanjut Lutesha.
Menurut Lutesha, peran ini juga mengharuskan ia memahami berbagai aspek kehidupan seorang ibu tunggal, termasuk tekanan dari masyarakat dan keharusan mengambil keputusan tajam dalam situasi yang kritis. “Pertama kali membaca ceritanya, saya langsung merasa emosional. Tapi setelah melalui diskusi, saya bisa lebih fokus pada bagaimana menggambarkan karakter Tari dengan lebih hidup,” katanya.
Menangkap Emosi yang Intens
Karakter Tari juga dihadirkan melalui adegan-a degan yang intens. Dari konflik internal hingga konflik eksternal, Lutesha mengatakan bahwa ia harus selalu berada dalam kondisi emosional yang stabil. “Eskalasi emosi dalam film ini cukup berat, karena Tari mengalami perubahan dari keadaan yang tenang menjadi sangat berat,” ujar aktor berusia 28 tahun ini. Ia menjelaskan bahwa setiap adegan memerlukan konsentrasi ekstra, terutama saat memperlihatkan perasaan kecewa, marah, atau bahkan ketakutan.
“Beberapa adegan, terutama yang melibatkan pengambilan keputusan tentang hak asuh anak, membuat saya harus menahan diri dari perasaan yang sangat kuat. Tapi itu juga yang membuat film ini menarik,” kata Lutesha dengan senyum.
Dalam proses pengambilan gambar, Lutesha mencoba mengekspresikan emosi Tari dengan cara yang natural. Ia memperhatikan detail seperti ekspresi wajah, suara, dan bahasa tubuh untuk memastikan bahwa karakter Tari terlihat seperti sosok yang benar-benar hidup. “Karena film ini tentang kehidupan nyata, saya ingin penonton merasa bahwa Tari adalah bagian dari kisah mereka sendiri,” tuturnya.
Peran Lutesha dalam Kehidupan Film
Kehadiran Lutesha dalam *Cerita Lila* tidak hanya menjadi bagian dari cerita, tetapi juga membantu mendorong kisah Tari menjadi lebih mendalam. Ia mengatakan bahwa ia merasa beruntung bisa menjadi bagian dari tim yang ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya kekuatan seorang ibu tunggal. “Saya ingin film ini bisa menginspirasi banyak orang, terutama ibu-ibu yang menghadapi kesulitan serupa,” imbuhnya.
Meski peran Tari menguras energi, Lutesha bersyukur bahwa proses pembuatan film berjalan lancar. Ia juga menekankan bahwa pengalaman ini membantu meningkatkan kemampuannya dalam memerankan karakter yang kompleks. “Ini adalah kesempatan untuk mengeksplorasi emosi yang lebih beragam. Saya juga belajar banyak tentang bagaimana menggambarkan konflik yang tersembunyi di balik tampilan sehari-hari,” kata aktor muda yang sudah terlibat dalam beberapa film sebelumnya.
Dalam wawancara terakhirnya, Lutesha juga mengungkapkan bahwa ia berharap *Cerita Lila* bisa diterima oleh penonton. “Saya ingin mereka merasakan perasaan Tari, dan merasa bahwa film ini bukan hanya menegangkan, tetapi juga menyentuh,” katanya. Ia menambahkan bahwa film ini memberikan sudut pandang baru tentang horor, yang tidak hanya menampilkan kejadian mengerikan, tetapi juga menggambarkan dampak psikologis dari konflik manusia.
Bagi Lutesha, peran Tari adalah pengalaman yang tak terlupakan.
