News

Mahasiswa Tanya Alasan Pengadangan Menuju Bundaran HI – Tetapi Malah Ditertawai Polisi

Mahasiswa Tanya Alasan Pengadangan Menuju Bundaran HI, Tetapi Malah Ditertawai Polisi Mahasiswa Tanya Alasan Pengadangan Menuju Bundaran - Di tengah

Desk News
Published Juni 12, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Mahasiswa Tanya Alasan Pengadangan Menuju Bundaran HI, Tetapi Malah Ditertawai Polisi

Mahasiswa Tanya Alasan Pengadangan Menuju Bundaran – Di tengah perjalanan menuju Bundaran HI, Jakarta, sejumlah mahasiswa mengalami hambatan dari petugas kepolisian yang melakukan pengadangan terhadap kendaraan mereka. Informasi ini diungkapkan oleh Anandaku Dimas Rumi, ketua BEM FH Universitas Indonesia (UI), yang menyebutkan bahwa pihak polisi tidak hanya memperlambat perjalanan tetapi juga menunjukkan sikap tidak serius dengan tertawa saat mahasiswa menanyakan alasan pengadangan tersebut.

Kondisi di Lokasi Demonstrasi

Pengadangan terjadi di kawasan Semanggi, di mana bus yang ditumpangi ratusan mahasiswa dihentikan oleh polisi. Menurut Dimas, kejadian ini terjadi pada Jumat (12/6) saat rombongan berangkat untuk menggelar aksi demonstrasi. Meski mahasiswa bersikap sopan dan menunjukkan keinginan untuk berdiskusi, polisi dituduh hanya bermain-main dengan mengatakan bahwa mereka “pura-pura menelepon atasannya” sebelum melanjutkan perjalanan.

“Mereka hanya mengetawai kami, mereka hanya pura-pura menelepon atasannya,” kata Dimas ditemui di area Bundaran HI, Jakarta, Jumat (12/6).

Dalam perjalanan, mahasiswa menghadapi hambatan di beberapa titik. Selain Semanggi, kendaraan mereka juga diadang di kawasan GBK hingga dekat Hotel Fairmont. “Tidak hanya di depan Semanggi, teman-teman, kami juga ditahan di GBK, di Fairmont, di tempat-tempat lainnya,” tambah Dimas. Hal ini menunjukkan bahwa aksi pengadangan tidak hanya terbatas pada satu titik tetapi mencakup beberapa jalur.

Motivasi Mahasiswa Mendemonstrasikan di Bundaran HI

Menurut Yatalathof Ma’shum Imawan, ketua BEM UI, aksi demonstrasi di Bundaran HI bertujuan untuk menunjukkan kondisi Indonesia yang saat ini sedang mengalami permasalahan. “Mahasiswa ngotot berdemonstrasi di Bundaran HI karena ingin menyampaikan ke publik bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saja,” jelas Yatalathof. Ia menekankan bahwa lokasi Bundaran HI dipilih sebagai simbol keberadaan masyarakat sipil yang ingin berbicara langsung dengan pihak berwenang.

Aksi tersebut disertai dengan lima tuntutan utama yang dibawa oleh peserta. Tuntutan-tuntutan ini dirancang untuk menyoroti isu-isu nasional yang dinilai menjadi sorotan penting. Meski dihadang oleh polisi, mahasiswa tetap berusaha mengikuti jadwal aksi mereka dan memastikan pesan yang ingin disampaikan dapat terdengar.

Kendala dan Tanggapan dari Petugas Kepolisian

Kondisi jalan yang sempit dan pengadangan yang terus-menerus membuat mahasiswa kesulitan bergerak. Dalam beberapa titik, polisi terlihat mengatur lalu lintas dengan cara yang berbeda dari biasanya. Seorang mahasiswa menyebut bahwa petugas kepolisian lebih memilih menghindari dialog daripada menjelaskan alasan pengadangan tersebut. “Mereka seperti bingung, jadi hanya tertawa dan tidak menjawab pertanyaan kami,” ujar salah satu peserta aksi.

Bundaran HI, yang merupakan pusat kota Jakarta, dipilih sebagai titik fokus aksi karena dinilai strategis. Lokasi ini menjadi tempat berkumpulnya banyak orang, sehingga bisa memperbesar dampak dari tuntutan yang disampaikan. Namun, pengadangan di jalan raya mengganggu kemungkinan aksi tersebut berjalan lancar. Seorang mahasiswa menyebutkan bahwa kegiatan ini seharusnya diatur dengan lebih baik agar tidak mengganggu lalu lintas tetapi tetap bisa menyampaikan pesan yang ingin ditujukan.

Perspektif Mahasiswa tentang Kepolisian

Dalam wawancara terpisah, Yatalathof Ma’shum Imawan menegaskan bahwa mahasiswa melakukan aksi untuk memperkuat keberatan terhadap kondisi pemerintahan saat ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari masyarakat,” katanya. Menurutnya, pengadangan oleh polisi dianggap sebagai bentuk penindasan terhadap kebebasan berekspresi. “Jika polisi tidak mengizinkan kami bergerak, maka itu menunjukkan ketidakpuasan terhadap keberadaan kami,” imbuh Yatalathof.

Beberapa peserta aksi menyebut bahwa sikap polisi yang tertawa saat menerima pertanyaan mahasiswa terkesan menggambarkan penjajahan terhadap suara generasi muda. Mereka berharap pihak kepolisian bisa lebih proaktif dalam berkomunikasi dan menjelaskan alasan pengadangan yang dilakukan. “Kami bukan ingin memancing konflik, tapi hanya ingin berbicara secara jelas,” ujar salah satu mahasiswa.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (12/6) tersebut menimbulkan perdebatan di antara mahasiswa dan petugas kepolisian. Beberapa menyebut bahwa polisi terlalu mengendalikan aksi, sementara yang lain merasa perlu untuk menjelaskan maksud pengadangan tersebut. Meski demikian, tujuan utama mahasiswa tetap jelas: menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi politik dan sosial Indonesia. Sejumlah peserta aksi juga menyoroti bahwa Bundaran HI menjadi tempat yang tepat untuk memperkuat pesan mereka.

Dalam konteks ini, aksi pengadangan dianggap sebagai bentuk penegakan hukum yang kaku. Mahasiswa menginginkan kesempatan untuk berbicara langsung, sementara polisi lebih memilih menghentikan pergerakan mereka. Kedua pihak sepakat bahwa komunikasi yang terbuka dan efektif adalah kunci untuk menyelesaikan masalah ini. “Kami berharap ke depannya, polisi bisa lebih menghargai peran kami dalam menyuarakan isu penting,” harap Yatalathof. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa aksi seperti ini perlu dikoordinasikan agar tidak terjadi gangguan lalu lintas.

Konten menarik lainnya dari JPNN.com dapat dibaca di Google News. Sebagai wadah berita yang berpengaruh, JPNN.com terus mengawasi kegiatan mahasiswa dan memastikan informasi disampaikan secara akurat kepada publik. Dengan pengadangan yang terjadi, masyarakat semakin tertarik untuk mengetahui alasan di balik aksi demonstrasi tersebut. Apakah ini hanya tindakan pencegahan, ataukah ada kebijakan tertentu yang mendasari?

Leave a Comment