Peneliti IPB Kembangkan Model Penyuluhan Stunting Berbasis WhatsApp di Lombok Timur

2 minggu ago  ·  3 min read
By Robert Johnson - pesonatropis.com

Model Penyuluhan Stunting Berbasis WhatsApp Ciptaan Peneliti IPB University Teruji Efektif di Lombok Timur

Pesonatropis.com – Indriani, seorang peneliti dari Sekolah Pascasarjana IPB University, telah berhasil mengembangkan sebuah inovasi dalam bidang kesehatan masyarakat. Inovasi tersebut berupa model konseling pengasuhan pemberian makan yang memanfaatkan platform WhatsApp. Model ini dinamai SEMETON dan telah diimplementasikan di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengembangan ini merupakan buah dari penelitian disertasi yang berhasil dipertahankan dalam sidang promosi doktor pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University. Sidang tersebut berlangsung pada hari Rabu, tanggal 15 Juli di Bogor.

Mengatasi Masalah Stunting dengan Teknologi Digital

Stunting masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan anak-anak di Indonesia. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap masalah ini, termasuk pola asuh dan pemberian makan yang belum optimal. Dalam konteks ini, SEMETON hadir sebagai solusi komunikasi yang dekat dengan keseharian orang tua. Platform WhatsApp dipilih karena sudah menjadi ruang interaksi sosial yang hidup di masyarakat. Hal ini memungkinkan edukasi gizi masuk tanpa terasa menggurui atau memaksa.

Menurut Indriani, pendekatan digital ini sangat relevan mengingat tingginya penetrasi smartphone di kalangan orang tua. Dengan demikian, informasi kesehatan dapat disampaikan secara konsisten dan interaktif. Model ini dirancang untuk memperbaiki sikap dan praktik pemberian makan orang tua sebagai upaya pencegahan stunting. Pendekatan ini dianggap lebih efektif dibandingkan metode penyuluhan konvensional yang sering kali bersifat satu arah.

Keunikan Nama dan Komponen SEMETON

Nama SEMETON memiliki makna ganda yang menarik. Dalam bahasa Sasak, kata ini berarti saudara atau kerabat. Hal ini mencerminkan hubungan kekeluargaan yang ingin dibangun antara penyuluh dan orang tua. Selain itu, SEMETON juga merupakan akronim dari enam komponen model yang dikembangkan. Keenam komponen tersebut adalah Sosial, Edukasi, Mediasi, Transmisi, Orientasi, dan Norma. Setiap komponen memiliki peran spesifik dalam proses penyuluhan.

Komponen sosial membangun hubungan emosional, sementara edukasi memberikan pengetahuan gizi. Mediasi berfungsi sebagai jembatan komunikasi, dan transmisi memastikan informasi tersampaikan dengan baik. Orientasi mengarahkan pada tujuan kesehatan, sedangkan norma menetapkan standar perilaku. Kombinasi keenam elemen ini menciptakan ekosistem penyuluhan yang holistik dan terstruktur.

Metodologi Penelitian dan Hasil Temuan

Penelitian ini dilakukan selama periode Juli hingga Oktober 2025. Sebanyak 128 responden yang terdiri dari orang tua dan anak usia dini dilibatkan dalam studi ini. Responden tersebar di enam lembaga PAUD yang berbeda di Lombok Timur. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuasi-eksperimen dengan pembagian kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Metode ini memungkinkan perbandingan yang valid antara kedua kelompok.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok intervensi. Intervensi penyuluhan dengan video singkat yang didistribusikan melalui WhatsApp secara signifikan meningkatkan sikap orang tua atau pengasuh dengan nilai p=0,010. Selain itu, praktik pemberian makan juga mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai p=0,011. Temuan ini membuktikan bahwa model SEMETON efektif dalam mengubah perilaku orang tua.

“WhatsApp dipilih karena sudah menjadi ruang interaksi sosial yang hidup di masyarakat, sehingga edukasi gizi bisa masuk tanpa terasa menggurui,” kata Indriani dikonfirmasi JPNN, Sabtu (18/7).

Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Masyarakat

Keberhasilan model SEMETON di Lombok Timur membuka peluang untuk implementasi di daerah lain. Teknologi digital yang digunakan bersifat skalabel dan dapat disesuaikan dengan konteks lokal. Peneliti berharap model ini dapat menjadi referensi bagi program pencegahan stunting nasional. Dengan memanfaatkan platform yang sudah familiar, biaya operasional penyuluhan dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas materi.

Indriani juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dalam proses penyuluhan. Hubungan kekeluargaan yang dibangun melalui pendekatan SEMETON menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Orang tua tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktif dalam berbagi pengalaman. Dinamika ini memperkuat efektivitas program dalam jangka panjang.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dengan pendekatan sosial dapat menjadi solusi inovatif. Model SEMETON tidak hanya memperbaiki praktik pemberian makan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya gizi anak. Ke depan, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi potensi model ini untuk mengatasi masalah kesehatan lainnya di masyarakat.

MORE FROM THIS CATEGORY