Usulkan Dapur MBG Berbasis Sekolah, Ketum Logis 08 Anshar Ilo: Solutif, Lebih Efektif dan Tepat Sasaran
Ketua Umum Logis 08 Anshar Ilo Sarankan Dapur Gratis Dikelola di Sekolah
Latest Program – JAKARTA – Dalam upaya meningkatkan ketersediaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia, Ketua Umum Logis 08 Anshar Ilo mengusulkan model baru yang menempatkan dapur-dapur penyediaan makanan bergizi di lingkungan sekolah. Usulan ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan program dan efisiensi distribusi, khususnya bagi siswa serta pelajar yang menjadi target utama.
“Logis 08 mengusulkan agar sebagian besar dapur MBG dibangun serta dioperasikan di sekolah-sekolah penerima manfaat. Selain lebih dekat dengan siswa, model ini akan meningkatkan efektivitas distribusi, pengawasan, dan kualitas makanan yang diberikan,” ujar Anshar Ilo, Rabu (10/6/2026).
Anshar Ilo, yang juga mantan Wakil Ketua Umum DPP KNPI, menegaskan bahwa pendekatan berbasis sekolah memiliki keuntungan signifikan dibandingkan sistem dapur terpusat yang terkadang kurang tepat sasaran. Dengan membangun dapur di lingkungan sekolah, pihaknya yakin akan lebih mudah mengawasi kualitas makanan serta memastikan distribusi yang teratur.
Menurut Anshar, model ini juga memberikan dampak positif bagi kehidupan sehari-hari para siswa. Dengan makanan langsung disajikan di sekolah, anak-anak tidak hanya lebih mudah mengaksesnya, tetapi juga terhindar dari risiko distribusi yang terlambat atau rusak. Selain itu, dapur yang berada di sekolah dapat beroperasi secara lebih efisien karena lebih terjangkau dalam jarak dan koordinasi.
Ketua Umum Logis 08 tersebut menambahkan bahwa kebijakan ini akan mengurangi beban logistik yang selama ini menghambat penerapan program MBG secara nasional. Dapur terpusat, kata Anshar, membutuhkan sistem distribusi yang kompleks dan memakan banyak waktu serta sumber daya, sementara model berbasis sekolah menghilangkan hambatan-hambatan ini.
Usulan Anshar Ilo tidak hanya berfokus pada efisiensi operasional, tetapi juga pada penguatan keterlibatan masyarakat dalam program gizi. Dengan membangun dapur di sekolah, maka seluruh pihak, termasuk guru, orang tua, dan siswa, dapat terlibat langsung dalam pengawasan dan peningkatan kualitas makanan. Ia menekankan bahwa keberhasilan MBG bergantung pada keterlibatan aktif semua pihak.
Anshar Ilo menuturkan, model dapur berbasis sekolah akan memungkinkan adanya adaptasi terhadap kebutuhan spesifik setiap sekolah. Misalnya, dapur bisa disesuaikan dengan menu yang disukai oleh siswa setempat, sehingga lebih efektif dalam meningkatkan konsumsi makanan bergizi. Selain itu, sistem ini juga bisa mengintegrasikan program gizi dengan kegiatan belajar mengajar, mengurangi risiko konsumsi makanan yang tidak sehat di luar jam sekolah.
Menurut Anshar, pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) perlu mempertimbangkan usulan ini karena bisa meningkatkan keberlanjutan program MBG. Dapur terpusat sering kali mengalami masalah seperti peningkatan biaya transportasi, risiko pemborosan, dan kurangnya kepedulian terhadap preferensi makanan siswa. Dengan model berbasis sekolah, semua masalah ini bisa diminimalkan.
Dalam wawancara dengan JPNN.com, Anshar Ilo menjelaskan bahwa keberhasilan program MBG harus diukur dari manfaat yang diterima oleh target utamanya. Ia menegaskan bahwa model ini bisa memberikan solusi yang lebih tepat sasaran karena lebih dekat dengan sumber daya dan kebutuhan langsung penerima manfaat. “Sistem dapur terpusat justru bisa mengakibatkan ketidakseimbangan distribusi, terutama di daerah yang jauh dari pusat,” katanya.
Usulan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif. Dengan memastikan anak-anak menerima makanan bergizi secara langsung di lingkungan sekolah, program ini bisa memperkuat kesehatan dan konsentrasi belajar mereka. Anshar menambahkan bahwa pendekatan ini bisa menjadi langkah awal dalam mengembangkan model kebijakan yang lebih solutif di masa depan.
Ketua Umum Logis 08 tersebut menjelaskan bahwa alasan utama usulan ini berasal dari pengalaman langsung pihaknya dalam mengelola program serupa di masa lalu. Dapur berbasis sekolah, katanya, tidak hanya memudahkan pengawasan, tetapi juga memungkinkan adanya kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pihak terkait dalam menjamin kualitas makanan. “Kami percaya bahwa model ini akan lebih mudah diimplementasikan dan terukur hasilnya,” ujarnya.
Menurut Anshar, pengelolaan dapur oleh sekolah juga akan mempercepat proses distribusi karena tidak perlu melalui jalur transportasi yang panjang. Ini berdampak langsung pada peningkatan ketersediaan makanan yang lebih cepat dan lebih baik. Selain itu, kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi biaya operasional secara signifikan, karena tidak ada kebutuhan untuk membangun pusat distribusi besar.
Dapur berbasis sekolah, menurut Anshar, juga bisa menjadi pendorong untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi. Siswa yang lebih terlibat langsung dalam pengambilan makanan akan lebih memahami nilai nutrisi yang terkandung dalam makanan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan, tetapi juga pada pendidikan gizi yang baik.
Ketua Umum Logis 08 Anshar Ilo. Foto: Source for JPNN.com
