Key Strategy: Kemenkes: Membaca buku instrumen jaga kesehatan jiwa kelompok rentan

Kemenkes: Buku sebagai Alat Bantu Kesehatan Jiwa untuk Kelompok Rentan

Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia, Kementerian Kesehatan menggarisbawahi peran penting membaca buku sebagai alat bantu kesehatan jiwa. Tindakan ini dianggap efektif dalam meningkatkan ketahanan mental, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap tekanan psikologis. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, menjelaskan bahwa momentum ini menjadi peluang untuk mendorong literasi sebagai bentuk intervensi kesehatan.

Dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, Imran menegaskan bahwa kegiatan membaca tidak hanya sebagai aktivitas budaya, tetapi juga sebagai cara untuk menciptakan ruang tenang. “Buku memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dan memulihkan pikiran dalam kehidupan yang terus-menerus bergerak cepat,” ujarnya. Menurutnya, rutinitas membaca selama 20 hingga 30 menit sehari dapat memperkuat daya ingat serta fungsi kognitif.

“Membaca bukan sekadar budaya, tetapi memberikan jeda tenang yang mampu menurunkan ketegangan saraf dan menata ulang pikiran di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern,” kata Imran.

Imran menambahkan bahwa buku fiksi berperan dalam meningkatkan empati melalui imajinasi, sementara buku nonfiksi menawarkan solusi praktis untuk menghadapi tantangan hidup. Dengan demikian, keduanya membantu seseorang menangani situasi sulit secara lebih tenang. Selain itu, ia menyarankan pengembangan klub buku di tingkat komunitas untuk mencegah isolasi sosial dan mengurangi rasa kesepian.

Menurut laporan Kemenkes, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca secara konsisten berdampak positif pada kesehatan mental. “Kebiasaan ini penting untuk menjaga fungsi otak seiring bertambahnya usia,” jelas Imran. Ia juga mengusulkan akses buku di ruang publik dan sesi baca lintas generasi sebagai strategi inklusif dalam membangun komunitas yang lebih erat.

Dalam keterangan tersebut, Imran menyampaikan harapan agar buku bisa dianggap sebagai alat transformasi pribadi. Ia menyebut bahwa penggunaan buku cetak sebelum tidur dapat meningkatkan kualitas istirahat dan memberikan manfaat bagi kesehatan otak. Tahun ini, UNESCO menetapkan Kota Rabat di Maroko sebagai World Book Capital, yang diharapkan mendorong peningkatan literasi di tingkat nasional.

READ  Sejumlah penumpang luka-luka dalam insiden kecelakaan kereta di Bekasi

Kota Rabat, yang dikenal sebagai pusat penerbitan buku internasional, memiliki akses literasi terbesar ketiga di Benua Afrika. Dengan penunjukan ini, Kemenkes ingin menekankan bahwa buku bukan hanya hiburan, tetapi juga alat untuk memperkuat jiwa dan membangun hubungan sosial yang lebih harmonis.