Strategi Penting: Menperin diversifikasi ekspor baja RI, sasar kawasan Timur Tengah

Menperin Dorong Diversifikasi Ekspor Baja Indonesia

Dalam upaya meningkatkan ketahanan sektor baja nasional, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan rencana untuk mengembangkan pasar ekspor ke wilayah Timur Tengah serta negara-negara dengan industri baja yang masih berkembang. Hal ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada satu pasar utama, khususnya Tiongkok, yang hingga kini menjadi destinasi utama ekspor baja Indonesia.

Menperin mengingatkan bahwa fokus ekspor pada Tiongkok berpotensi menimbulkan risiko ketika terjadi gangguan ekonomi di negara tersebut. “Ketergantungan pada satu pasar terlalu besar, jadi kita perlu siapkan alternatif,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa meskipun permintaan dari Tiongkok tetap memberikan kontribusi positif, negara-negara lain seperti Timur Tengah dan pasar industri berkembang dianggap sebagai peluang strategis untuk meratakan distribusi ekspor.

“Negara-negara yang kekuatan industri bajanya belum stabil, atau kawasan sekitarnya yang belum memiliki basis industri yang kuat, bisa menjadi target market kita selanjutnya,” tambah Menperin.

Ekspor Baja Nasional pada 2025

Dalam lima tahun terakhir, kinerja perdagangan besi dan baja Indonesia menunjukkan peningkatan. Pada 2025, ekspor mencapai 23,97 juta ton, sementara impor sekitar 16,69 juta ton, menghasilkan surplus sebesar 7,28 juta ton, yang menjadi angka tertinggi dalam periode tersebut.

Sebaliknya, jika komoditas ferronikel dikeluarkan dari perhitungan, neraca perdagangan menunjukkan defisit. Tahun ini, defisit sekitar 3,7 juta ton dengan impor mencapai 16,07 juta ton, sedangkan ekspor hanya 12,3 juta ton. Impor utamanya berasal dari bahan baku yang menyumbang 86 persen dari total volume.

Tantangan Global dan Domestik

Ketahanan industri baja Indonesia juga terpengaruh oleh kondisi pasar global yang menunjukkan kelebihan kapasitas produksi. Proyeksi OECD memperkirakan kapasitas baja dunia pada 2027 mencapai 2.637 juta ton, sementara kebutuhan hanya sekitar 1.916 juta ton, menyebabkan defisit hampir 38 persen.

READ  Strategi Penting: Percepat Cakupan Imunisasi Campak, Kemenkes Pastikan Stok Vaksin MR Aman

Di samping itu, kebijakan perdagangan internasional seperti tarif protektif Amerika Serikat dan mekanisme Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa berdampak pada daya saing produk baja Indonesia. Kebijakan ini mendorong transformasi menuju produksi yang lebih ramah lingkungan.

Strategi Kemenperin untuk Penguatan Industri

Menyikapi berbagai tantangan, Kementerian Perindustrian telah merancang beberapa langkah strategis. Strategi tersebut mencakup penguatan instrumen trade remedies, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara konsisten, percepatan produksi baja hijau, serta peningkatan investasi di sektor hulu. Selain itu, hilirisasi yang terintegrasi dengan industri strategis seperti perkapalan, otomotif, dan infrastruktur juga menjadi fokus utama.

Tantangan dalam negeri termasuk masuknya baja prafabrikasi dan potensi praktik penghindaran kebijakan. Kemenperin berupaya memperkuat instrumen perlindungan industri dari hulu hingga hilir untuk menghadapi ancaman tersebut.