Rencana Khusus: Harga minyak naik, PHE: Investasi di Indonesia Timur makin menarik

PHE: Investasi Migas di Indonesia Timur Terdorong Kenaikan Harga Minyak

Malang, Jawa Timur (ANTARA) – Dalam acara media gathering di kota ini, Kamis, Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PT Pertamina Hulu Energi, Edi Karyanto, menyatakan bahwa kenaikan harga minyak global akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat telah membuat investasi proyek migas di berbagai wilayah, termasuk Indonesia Timur, semakin menarik.

“Ya (semakin menarik). Tak hanya di Indonesia Timur, tetapi semua rencana kerja kami juga semakin menarik lagi pastinya,” ujar Edi.

Harga minyak dunia saat ini mencapai 95–100 dolar AS per barel, lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada Januari 2026 yang sebesar 64 dolar AS untuk Brent (ICE). Edi optimis jika Indonesian Crude Price (ICP) mencapai angka lebih tinggi dari kuartal I 2026, proyek-proyek hulu migas akan semakin menguntungkan.

“Semakin feasible untuk kita eksekusi, semakin reasonable, dan memiliki argumen keekonomian yang kuat, baik di Indonesia Timur maupun daerah lain,” tambahnya. Dengan ICP yang meningkat, pendapatan perusahaan diperkirakan bertambah signifikan. Jika biaya operasional tidak mengalami perubahan signifikan, keekonomian berbagai rencana kerja Pertamina akan membaik.

Sementara itu, harga minyak dunia sempat mengalami penurunan tajam hingga 13-17 persen setelah pengumuman gencatan senjata bilateral selama dua minggu antara AS dan Iran. Data perdagangan Rabu (8/4) pagi menunjukkan Brent berjangka Juni turun 12,6 persen menjadi 91,92 dolar AS per barel, yang merupakan pertama kalinya sejak 23 Maret harga ini menyentuh di bawah 92 dolar AS.

Pada Selasa (7/4) malam, Presiden AS Donald Trump mengumumkan persetujuan gencatan senjata dengan Iran. Pemimpin AS itu juga menyebutkan bahwa Iran setuju menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, serangan udara Israel ke Dahiyeh, Lebanon, Rabu (8/4), memicu kembali kenaikan harga minyak Brent pada Kamis (9/4) karena laporan Iran dan gangguan di Selat Hormuz yang menimbulkan ketakutan terhadap pasokan global.

READ  Program Terbaru: Amar Bank cetak laba bersih Rp249,6 miliar sepanjang 2025

WTI berjangka Mei turun 16,6 persen menjadi 94,10 dolar AS per barel, tetapi kenaikan harga Brent menunjukkan dampak krisis regional terhadap pasar energi masih terasa.