Yang Dibahas: WWF usul transformasi pembiayaan hutan Indonesia demi keberlanjutan
WWF Berikan Saran Perubahan Sistem Pendanaan Hutan Indonesia untuk Dukung Keberlanjutan Lingkungan
Dalam upaya meningkatkan perlindungan hutan, organisasi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengusulkan adopsi pendekatan baru dalam pendanaan sektor kehutanan. Pandangan ini diungkapkan dalam diskusi bertema “Menutup Celah Pembiayaan Hutan di Indonesia” yang berlangsung di Jakarta, Rabu. Menurut Risyad Tri Setiaputra, yang menjabat sebagai Sustainable Finance Manager WWF Indonesia, defisit pendanaan di sektor hutan mencapai sekitar lima miliar dolar AS setiap tahun. Hal ini memicu perlunya transformasi kebijakan investasi agar lebih sejalan dengan tujuan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
“Kesenjangan pendanaan saat ini menunjukkan bahwa aliran dana yang merugikan lingkungan hutan jauh lebih besar dibandingkan dana konservasi yang dimiliki. Jika tidak diperbaiki segera, keberhasilan target keberlanjutan lingkungan nasional akan semakin terancam,” kata Risyad.
Berdasarkan riset yang dilakukan WWF bersama Conservation Strategy Fund (CSF), aliran dana positif ke sektor kehutanan mencapai 244 juta dolar AS per tahun. Sementara itu, dana negatif mencapai 3,4 miliar dolar AS, dengan sebagian besar berasal dari sektor swasta yang berbasis lahan. Fenomena ini mencerminkan ketimpangan dalam alokasi pendanaan yang perlu diatasi melalui perubahan kebijakan.
“Kondisi ini memperlihatkan perlunya pengalihan arah investasi ke sektor kehutanan untuk mendukung pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” tambah Desta Pratama, Indonesia Country Director CSF.
Transformasi pendanaan hutan, menurut Risyad, tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga pada kinerja sektor ekonomi. Dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan, dana yang dialokasikan bisa berkontribusi pada pengurangan defisit serta penguatan keberlanjutan lingkungan secara keseluruhan.
