Strategi Penting: Kemenperin: Industri pulp-kertas tunjukkan peran pacu manufaktur

Kemenperin: Industri Pulp-Kertas Pacu Pertumbuhan Manufaktur

Dari Jakarta, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan industri pulp dan kertas nasional terus berkontribusi signifikan dalam memacu pertumbuhan sektor manufaktur. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, berdasarkan data tahun 2025, industri kertas, barang kertas, dan percetakan menyumbang 3,73 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas. Di sisi ekspor, pulp mencapai 3,6 miliar dolar AS, sedangkan kertas mencapai 4,57 miliar dolar AS.

Peran Strategis di Pasar Global

Indonesia menduduki posisi ketujuh dalam industri pulp dan peringkat keenam dalam industri kertas, serta menempati urutan kedua dan keempat di Asia. Menurut Menperin, kontribusi sektor ini terhadap PDB nonmigas menunjukkan perannya sebagai penopang utama manufaktur nasional. Selain itu, industri ini juga menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung, dari total 113 perusahaan.

“Dengan kontribusi terhadap PDB pengolahan nonmigas, sektor pulp dan kertas telah membuktikan perannya sebagai penstabil utama industri manufaktur. Penyerapan tenaga kerja yang luas juga mencerminkan dampak signifikan terhadap perekonomian,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita.

Potensi Tumbuh dan Inovasi Bahan Baku

Menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika, industri ini memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi nasional. “Industri pulp dan kertas menghasilkan berbagai produk berkualitas, seperti pulp, kertas industri, tisu, kertas khusus, hingga rayon/viscose yang digunakan secara luas oleh berbagai sektor,” tambahnya.

Potensi pertumbuhan semakin terbuka karena tren global menunjukkan peningkatan penggunaan kemasan berbasis kertas dan flexible packaging. Saat ini, paperboard menguasai sekitar 31,8 persen pasar kemasan dunia, sementara pasar flexible packaging telah mencapai lebih dari 270 miliar dolar AS dan diperkirakan tumbuh 5–6 persen setiap tahun hingga 2032.

READ  Strategi Penting: Pramono: Sinergi DKI-Muhammadiyah perkuat Jakarta sebagai kota global

Pertumbuhan ini didukung oleh kebutuhan kemasan dari sektor makanan, minuman, serta e-commerce. Selain itu, tren substitusi plastik ke bahan ramah lingkungan dan inovasi bahan baku alternatif, seperti pisang, sereh wangi, tandan kosong kelapa sawit, dan kenaf, semakin mendorong perluasan industri.

Tantangan dan Strategi Pengembangan

Walau demikian, industri masih menghadapi tantangan, termasuk keterbatasan pasokan kertas daur ulang dalam negeri, kebijakan impor bahan baku, dan dinamika regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), hambatan non-tarif, serta tarif resiprokal dari Amerika Serikat.

“Meski ada tantangan, industri pulp dan kertas tetap menunjukkan perkembangan positif, dengan tetap menerapkan prinsip industri hijau dan ekonomi sirkular,” kata Putu Juli Ardika.

Kemenperin terus mengambil langkah strategis untuk memperkuat daya saing, seperti konsolidasi kebijakan bahan baku, pengoptimalan rantai pasok kertas daur ulang, serta penguatan ekosistem industri hijau. Selain itu, pemerintah juga menerapkan kebijakan wajib SNI untuk kertas dan karton kemasan pangan melalui Permenperin Nomor 6 Tahun 2025 guna meningkatkan kualitas dan kepercayaan pasar.

Komitmen keberlanjutan juga diperkuat melalui pembatasan impuritas kertas daur ulang serta inovasi pengelolaan limbah, seperti Refuse Derived Fuel (RDF). Di sisi ekspansi pasar, partisipasi Indonesia sebagai Partner Country di INNOPROM 2026 di Rusia dianggap sebagai peluang strategis untuk memperluas akses ke kawasan Eurasia. Dari sisi kinerja, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 mencatatkan angka 54,02, yang menunjukkan tren positif di sektor manufaktur nasional.