Mengatasi Masalah: Kemenkes: Penertiban iklan film provokatif cegah peniruan bunuh diri

Kemenkes: Penertiban Iklan Film Provokatif Cegah Peniruan Bunuh Diri

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pentingnya penyaringan materi promosi film yang dianggap kontroversial, seperti Aku Harus Mati, agar tidak memicu peniruan tindakan bunuh diri pada kalangan rentan. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa media dan promosi memiliki kemampuan besar dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap isu kesehatan mental. Ia menyoroti bahwa judul, gambar, atau narasi yang menyederhanakan bunuh diri sebagai solusi bisa melemahkan ketahanan individu yang sedang mengalami gangguan.

“Paparan berulang pesan yang meromantisasi atau menormalisasi bunuh diri berpotensi memicu individu dengan riwayat depresi, impulsifitas, atau pengalaman traumatis,” ujarnya di Jakarta, Senin.

Menurut Imran, konteks penyajian pesan menjadi kunci. Ia membedakan antara penyajian yang memposisikan bunuh diri sebagai bagian dari kompleksitas masalah kesehatan mental versus yang menekankan aspek dramatisnya. “Kekhawatiran profesional kesehatan jiwa dan langkah penertiban materi promosi yang dilaporkan menunjukkan bahwa efek provokatif bukan sekadar spekulasi. Pilihan kata yang tampak sepele, seperti menggambarkan bunuh diri sebagai ‘pilihan’ atau ‘pembebasan’, bisa dianggap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa,” tambahnya.

Peningkatan Kematian Bunuh Diri dan Permintaan Layanan Krisis

Dari laporan Kepolisi pada tahun 2023, tercatat 1.350 kasus kematian akibat bunuh diri, yang meningkat menjadi 1.450 pada 2024. Di sisi lain, layanan krisis kesehatan jiwa menunjukkan peningkatan signifikan. Volume panggilan ke layanan healing119 naik dari sekitar 400 per hari di Agustus 2025 menjadi 550 per hari pada 2026.

READ  Prakiraan Cuaca BMKG Minggu 1 Maret 2026: Waspadai Hujan Lebat di Jateng hingga Kalimantan

Penelitian terkini mengenai paparan bunuh diri memperkirakan bahwa satu kematian karena bunuh diri dapat memengaruhi hingga 135 orang dalam tingkat intensitas beragam, mulai dari rasa sedih hingga stres atau risiko kesehatan mental lainnya. Untuk menghadapi situasi ini, Imran menekankan perlunya tanggung jawab bersama dari pembuat film, tim pemasaran, pengelola ruang publik, serta media.

“Konsultasi dengan ahli kesehatan jiwa saat merancang kampanye, penghapusan atau revisi materi berisiko, serta penyertaan pesan dukungan dan rujukan layanan pada setiap promosi yang menyentuh tema bunuh diri, adalah langkah efektif untuk mengubah nada komunikasi dari provokatif menjadi protektif,” katanya.

Pola Penyebab Bunuh Diri yang Kompleks

Di tingkat masyarakat, Imran menekankan perlunya kesadaran bahwa bunuh diri biasanya tidak terjadi karena satu penyebab saja. Peristiwa ini sering muncul dari kombinasi faktor seperti gangguan mood, tekanan sosial, krisis situasional, serta aspek biologis atau riwayat trauma. Dengan menyoroti elemen-elemen ini dalam promosi, risiko peniruan dapat dikurangi, sekaligus membantu membangun narasi pencegahan daripada sensasi.