Program Terbaru: Mayday Mayday! Perang Picu Krisis Energi, Asia Menuju Era Pandemi
Krisis Energi Global Akibat Perang, Asia Terapkan Strategi Serupa dengan Era Pandemi
Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam menghadapi tekanan harga bahan bakar yang meningkat, sejumlah negara Asia mulai merancang kebijakan yang mirip dengan masa pandemi, seperti kerja jarak jauh dan stimulus ekonomi. Persoalan ini berakar dari gangguan pasokan minyak mentah yang diakibatkan oleh konflik di Selat Hormuz, jalur utama bagi lebih dari 80% kebutuhan energi kawasan tersebut. Iran, sejak 28 Februari, secara signifikan membatasi aliran minyak dari wilayah ini.
Rekomendasi IEA Mendorong Penghematan Energi
Menteri Energi Korea Selatan, Kim Sung-whan, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah setelah saran dari International Energy Agency (IEA). “Saya rasa itu ide yang baik,” ujarnya saat diwawancara Reuters, Rabu (25/3/2026). “Kami akan membahasnya dengan lembaga terkait dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kebutuhan energi di luar,” tambah Kim.
“Ada contoh nyata, seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina, negara-negara Eropa mengadopsi langkah serupa. Ini membantu mereka melewati kesulitan tanpa pasokan energi dari Rusia, sambil tetap mempertahankan penerangan,” kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dalam konferensi di Sydney.
IEA telah menyetujui pengeluaran rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk mengatasi krisis. Selain itu, lembaga tersebut menyarankan penghematan energi, termasuk mendorong penggunaan transportasi umum dan membatasi perjalanan udara.
Inisiatif Negara-Negara Asia
Sejumlah negara mengambil langkah konkret untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Korea Selatan, misalnya, meluncurkan kampanye publik yang mendorong masyarakat menghemat air, mengisi baterai ponsel di siang hari, dan mengurangi penggunaan mesin penyedot debu. Di Filipina, pemerintah telah memangkas durasi kerja di beberapa kantor sejak awal bulan ini. Presiden Ferdinand Marcos juga mengumumkan keadaan darurat energi nasional, menyebut konflik berpotensi mengganggu pasokan bahan bakar secara mendadak.
Sementara itu, Sri Lanka memperpanjang minggu kerja dengan menetapkan hari libur setiap Rabu. Pakistan, di sisi lain, menutup sekolah selama dua minggu dan mewajibkan pegawai lebih banyak bekerja dari rumah. Singapura mendorong penggunaan alat hemat energi dan kendaraan listrik, sementara Thailand memerintahkan birokrat menunda perjalanan ke luar negeri serta mengatur suhu pendingin ruangan di atas 25 derajat Celsius.
Stimulus untuk Meringankan Beban Rumah Tangga
Dengan biaya bahan bakar yang melejit, beberapa negara mengeluarkan bantuan keuangan. Jepang mengalokasikan 800 miliar yen (sekitar US$5 miliar) dari dana cadangan untuk subsidi harga bensin. Kebijakan ini diperkirakan menghabiskan hingga 300 miliar yen per bulan. Selandia Baru, sejak April, memberikan bantuan sementara 50 dolar per minggu bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Menteri Keuangan Selandia Baru, Nicola Willis, menjelaskan, “Kami sadar keluarga-keluarga ini sangat terkena dampak oleh kenaikan harga bahan bakar global. Kami memberikan bantuan secara cepat untuk memastikan kesejahteraan mereka.”
Dalam situasi yang berbeda dari pandemi, bank sentral tidak langsung menurunkan suku bunga. Justru, sebagian mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebagai upaya mengendalikan inflasi akibat krisis energi. Sementara itu, stimulus ekonomi yang diberikan di masa pandemi terutama berfokus pada memulihkan kegiatan ekonomi yang tertunda, sedangkan kali ini fokusnya lebih pada biaya kehidupan yang meningkat.
