Hasil Pertemuan: Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Cuma Pangkas Sekali di Tengah Perang?

Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Cuma Pangkas Sekali di Tengah Perang?

Jakarta, CNBC Indonesia – The Federal Reserve (The Fed) menetapkan suku bunga pada tingkat 3,50-3,75% dalam pertemuan terbaru. Pemutusan kebijakan ini dilakukan setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung selama dua hari, Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026).

The Fed mempertahankan suku bunga di level yang sama sejak Januari 2026, meskipun perang dengan Iran memicu kenaikan harga minyak. Dalam rapat tersebut, anggota FOMC memberikan suara 11 berbanding 1 untuk mengunci kebijakan suku bunga. Pernyataan resmi Fed menyebutkan bahwa ketidakpastian mengenai ekonomi AS masih tinggi, dengan dampak konflik di Timur Tengah belum dapat diprediksi secara jelas.

Proyeksi dan Dilema Kebijakan

Chairman The Fed, Jerome Powell, mengakui bahwa kebijakan moneter tengah menghadapi keterbatasan. Di satu sisi, penurunan suku bunga diharapkan untuk mengatasi tekanan pada pasar tenaga kerja, sementara di sisi lain, inflasi yang cenderung naik memaksa suku bunga tetap tinggi.

“Kami berada dalam situasi yang sulit. Kami harus menyeimbangkan kedua risiko tersebut,” ujarnya, dikutip dari CNBC International.

Powell menegaskan bahwa kondisi ekonomi AS saat ini relatif stabil, meskipun efek perang Iran belum bisa dipastikan. Ia juga menyatakan bahwa istilah stagflasi lebih cocok untuk era 1970-an, ketika pengangguran mencapai dua digit dan inflasi melonjak tajam. “Sekarang tingkat pengangguran kita mendekati normal, dan inflasi hanya sedikit di atas target,” tambahnya.

Data Ekonomi Terkini

Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,4% pada Februari 2026, dari 4,3% di bulan sebelumnya. Angka ini sedikit di atas ekspektasi pasar dan mendekati level tertinggi empat tahun terakhir, yaitu 4,5% yang dicatat pada November 2025.

READ  Kebijakan Baru: 20 Negara dengan Utang Segunung, Ada Tetangga RI

Sementara itu, inflasi tahunan AS tetap stabil di 2,4% (year on year/YoY) pada Februari 2026, tidak berubah dari Januari. Meski demikian, Powell memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak akibat perang Iran bisa mendorong inflasi naik dalam jangka pendek.

Pemangkasan Suatu Kali Lagi

Pejabat Fed menyampaikan sinyal bahwa beberapa penurunan suku bunga masih akan dilakukan. Grafik “dot plot” yang memperlihatkan proyeksi anggota FOMC menunjukkan kemungkinan satu kali penyesuaian tahun ini, serta satu lagi pada 2027, meski waktunya belum pasti.

Dari 19 peserta FOMC, tujuh orang memperkirakan penurunan suku bunga. Powell menyatakan bahwa pengaruh perang terhadap perekonomian belum bisa diukur secara menyeluruh, namun kenaikan harga minyak tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.