Diumumkan: Iran Tembak Jatuh 11 Drone Canggih MQ-9 Reaper, AS Tekor Rp5,5 Triliun
Iran Tembak Jatuh 11 Drone Canggih MQ-9 Reaper, AS Tekor Rp5,5 Triliun
TEHERAN – Angkatan Udara AS kehilangan 11 unit drone MQ-9 Reaper setelah diserang pasukan Iran sejak operasi militer AS-Israel melawan Iran dimulai 28 Februari lalu. Total kerugian akibat 11 drone tersebut mencapai lebih dari USD330 juta, setara Rp5,5 triliun. Menurut pejabat AS yang berbicara kepada CBS News pada Selasa (10/3/2026), dua unit drone terakhir tersebut jatuh dalam serangan terbaru oleh pasukan Teheran, sehingga jumlah keseluruhan menjadi 11.
Drone MQ-9 Reaper adalah pesawat tanpa awak yang digunakan untuk tugas intelijen, pemantauan, serta serangan tepat sasaran. Meski dirancang untuk operasi antiterorisme di wilayah dengan pertahanan udara rendah, para pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa drone ini rentan diserang di area yang memiliki sistem pertahanan udara canggih. Kecepatan maksimum MQ-9 Reaper sekitar 480 km/jam, jauh lebih lambat dibanding jet tempur yang bisa mencapai 1.200 hingga 1.900 mil/jam.
“Saya pikir perang sudah sangat lengkap, hampir,” kata Presiden Donald Trump dalam wawancara telepon. Ia mengungkapkan bahwa Iran kehilangan Angkatan Laut, komunikasi, dan Angkatan Udara, serta rudal mereka hampir tidak ada. “Rudal mereka tinggal sedikit, dan drone mereka diledakkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone mereka,” lanjutnya.
Militer AS mengklaim telah menyerang lebih dari 3.000 target Iran dalam minggu pertama operasi. Trump menyatakan bahwa Iran kini tidak memiliki lagi kekuatan militer yang signifikan. “Tidak ada yang tersisa dalam arti militer,” tambahnya.
Sementara itu, Iran mengumumkan pada Minggu malam bahwa Ayatollah Mojtaba Khamenei menggantikan almarhum Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut. Trump mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki pesan untuk sang pemimpin baru, dan menekankan fokusnya pada orang lain yang ia anggap sebagai tokoh utama.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, menolak klaim Trump bahwa perang hampir selesai. Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan dan menuduh Trump mencoba memperlebar kebohongan militer. “Kami tahu amunisi Anda akan segera habis, dan Anda mencari jalan keluar yang terhormat dari perang ini,” kata Naeini kepada kantor berita Tasnim. Ia juga menegaskan bahwa Iran masih memiliki kemampuan rudal lengkap dan serangan terus berlangsung dengan volume proyektil yang lebih besar.
