Rencana Khusus: Krisis Energi Mulai Cekik Eropa, Putin Tawarkan Diri Jadi Juru Selamat

Krisis Energi Mulai Cekik Eropa, Putin Tawarkan Diri Jadi Juru Selamat

Jakarta, CNBC Indonesia – Jalur distribusi energi global yang sempit di Selat Hormuz kini mengalami hambatan akibat ketegangan di wilayah Timur Tengah. Situasi ini memberi peluang bagi Rusia untuk kembali menjadi mitra pasokan energi bagi Eropa. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan negara-negara Eropa bisa kembali bekerja sama dengan Moskow, asalkan hubungan tersebut didasarkan pada kesepakatan jangka panjang yang stabil dan tidak dipengaruhi tekanan politik.

Kondisi Pasar Energi Global

Stratifikasi energi global tersebut menjadi jalur utama untuk sekitar 20% pasokan minyak dunia dan gas alam cair. Pernyataan Putin diberikan dalam wawancara televisi Senin (9/3/2026), saat konflik Timur Tengah mengakibatkan pengiriman energi terhambat. Ia menekankan bahwa Rusia siap memberikan bantuan energi kepada Eropa jika ada komitmen konsisten dari pihak penerima.

“Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan pembeli menyatakan keinginan untuk kembali membangun kerja sama berkelanjutan, bebas dari tekanan politik, kami akan siap menjalani kemitraan tersebut,” ujar Putin, sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Upaya Eropa Mengurangi Ketergantungan

Pasca konflik Ukraina, Eropa telah berupaya mengurangi ketergantungan pada energi Rusia. Sejak 2022, Uni Eropa membatasi impor minyak mentah Rusia melalui jalur laut, sementara ekspor minyak melalui jaringan pipa Druzhba ke Hungaria dan Slovakia terhenti efektif sejak Januari 2022 akibat kerusakan jalur di Ukraina. Sebelum perang, Rusia menyuplai lebih dari 40% kebutuhan gas Eropa, tetapi angka ini turun ke sekitar 13% pada 2025.

READ  Program Terbaru: Perang dengan Iran, AS Minta Warganya Segera Tinggalkan Timur Tengah

Dalam upaya mengatasi kekurangan pasokan, Moskow mengalihkan ekspor ke Asia dengan menawarkan harga diskon. Ketegangan di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran di Eropa mengenai keseimbangan antara tekanan politik terhadap Rusia dan kebutuhan menjaga stabilitas pasokan energi. Beberapa jam setelah pernyataan Putin, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán meminta Uni Eropa meninjau kembali sanksi energi terhadap Rusia.

Perdebatan di Eropa

Orbán menyarankan pemberhentian sementara sanksi minyak dan gas Rusia untuk mengurangi tekanan harga energi. Ini memicu diskusi mengenai kebijakan Eropa yang menggabungkan tekanan politik dan kebutuhan pasokan energi. Sementara itu, krisis pasokan yang terjadi sejak perang Ukraina memaksa Rusia mencari pasar baru di Asia, dengan diskon besar untuk mempertahankan volume ekspor.