Agenda Utama: Sikap Eropa terbelah soal serangan AS-Israel terhadap Iran

Sikap Eropa terbelah soal serangan AS-Israel terhadap Iran

Brussels – Di tengah krisis di Timur Tengah yang semakin memanas, beberapa negara Eropa menunjukkan perbedaan pendapat mengenai tindakan militer AS-Israel terhadap Iran. Meski tekanan dari Amerika Serikat mengharapkan dukungan untuk operasi tersebut, para anggota Uni Eropa (UE) serta Inggris belum sepakat mengenai langkah strategis yang perlu diambil. Pernyataan bersama dari blok tersebut menekankan pentingnya pengendalian diri dan upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi global.

Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Sekretaris Pers Karoline Leavitt, menyatakan bahwa ia mengharapkan “semua sekutu Eropa” turut mendukung serangan militer terhadap Iran. Trump secara terbuka mengkritik ketidakpastian pemerintah Eropa dan menyindir Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang menolak mendukung operasi tersebut. “Ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” kata Trump, menggambarkan sikap Starmer yang menolak “perubahan rezim dari langit.”

“Tanpa memulihkan hukum internasional dan akuntabilitas, kita akan terus menyaksikan pelanggaran hukum, gangguan, dan kekacauan,” kata Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE.

Sementara itu, Inggris mengadopsi pendekatan yang hati-hati, menggabungkan kritik terhadap Iran dengan dukungan untuk diplomasi. Starmer menjelaskan keputusan Inggris untuk tidak ikut serta dalam serangan militer, dengan menyebut solusi terbaik adalah “kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Iran, di mana mereka melepaskan ambisi nuklirnya.” Meski sempat membatasi penggunaan pangkalan Diego Garcia oleh AS, London kembali mengizinkan fasilitas tersebut untuk mendukung keamanan Israel. Inggris juga menambahkan pasukan jet tempur Typhoon di Qatar.

Prancis menekankan perlunya menghormati hukum internasional. Presiden Emmanuel Macron memperingatkan bahwa tindakan militer di luar kerangka hukum dapat merusak stabilitas global, sehingga menyerukan pembahasan darurat di Dewan Keamanan PBB. Paris berusaha menghindari konfrontasi langsung dengan Washington, tetapi mengecam serangan balasan Iran. Pihaknya memperbolehkan pesawat AS singgah di beberapa pangkalan sementara, dengan syarat tidak digunakan untuk menyerang Iran.

READ  Info Terbaru: Telantarkan Istri dan Anak, Hakim PN Kraksaan Diberhentikan MA

Kanselir Jerman Friedrich Merz menggambarkan Iran sebagai ancaman utama keamanan, menyebut sanksi dan diplomasi selama puluhan tahun gagal menghentikan destabilisasi Teheran. Dalam kunjungannya ke Gedung Putih, Trump memuji Merz sebagai “pemimpin yang sangat baik” dan menyoroti penggunaan Pangkalan Udara Ramstein oleh pasukan AS. Merz mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan bisa berdampak luas, termasuk pada pasokan energi, keamanan, dan migrasi.

PM Spanyol Pedro Sánchez menilai serangan terhadap Iran sebagai “kesalahan luar biasa” yang berpotensi mengganggu stabilitas global. Madrid menolak izin penggunaan pangkalan udara oleh AS, meski tetap memperhatikan kepentingan regional. Dalam pernyataan resmi, UE juga menekankan perlunya melindungi warga sipil serta menghormati Piagam PBB dan hukum humaniter internasional.

Beberapa negara Eropa menghadapi tekanan global akibat keputusan mereka. Sementara Prancis memprioritaskan upaya diplomasi, Jerman lebih mendukung langkah AS-Israel, sementara Inggris dan Spanyol mengambil sikap kritis terhadap serangan tersebut. Dengan peta kekuasaan yang berbeda, Eropa tetap menjadi blok yang terpecah dalam merespons konflik yang semakin rumit.