Program Terbaru: Mayoritas Siswa Jakarta Tak Habiskan MBG, DPR: Perlu Ada Prioritas Sekolah Agar Tepat Sasaran

Mayoritas Siswa Jakarta Tak Habiskan MBG, DPR: Sekolah Perlu Diberi Prioritas

Komisi IX DPR mengungkap bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta belum sepenuhnya efektif, karena sebagian besar siswa tidak menghabiskan seluruh makanan yang diberikan. Wakil Ketua Komisi IX, Yahya Zaini, menekankan perlunya adanya penjelasan yang jelas tentang kriteria dan prioritas sekolah penerima MBG. “Sasaran MBG harus lebih tepat, dengan penegasan kejelasan menu dan kondisi sekolah,” katanya, Kamis (5/3). Yahya juga menyarankan agar Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi terhadap variasi makanan agar tidak menimbulkan kebosanan pada anak-anak.

Penelitian FISIP UI: MBG Tidak Dimakan Secara Lengkap

Temuan riset Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menunjukkan bahwa di lima Sekolah Dasar (SD) di Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat, hanya empat hingga lima siswa dari 32–34 murid per kelas yang benar-benar menghabiskan makanan MBG. “Bayangkan, dalam satu kelas hanya empat sampai lima orang yang makan habis, sementara siswa lainnya hanya mengonsumsi sedikit atau bahkan tidak tuntas,” ujar Dian Sulistiawati, dosen antropologi yang memimpin studi tersebut. Riset dilakukan dari Juni hingga September 2025 dengan metode wawancara dan observasi langsung terhadap siswa, guru, pengelola sekolah, SPPG, serta BGN.

“Siswa tidak habiskan makanan karena menu tidak bervariasi, sehingga menimbulkan kebosanan. Saya meminta BGN untuk mengedukasi SPPG agar memperhatikan tiga hal: kandungan gizi, keamanan makanan, dan variasi menu agar anak-anak tertarik makan,” beber Yahya.

Menurut Dian, program MBG tidak hanya tentang penyediaan makanan teknis, tetapi juga mencerminkan konstruksi budaya kebiasaan makan. “Perubahan kebiasaan membutuhkan pendekatan yang lebih holistik, termasuk partisipasi aktor lokal dan pengelolaan tata kelola yang baik,” jelasnya. BGN menyebutkan alasan penyajian spageti dan burger dalam MBG, yaitu untuk mengatasi kejenuhan terhadap nasi. Mereka juga menanyakan secara berkala keinginan siswa agar menu tidak monoton.

READ  Strategi Penting: Dewan Profesor Unpad Kecam Serangan Israel-AS ke Iran, Minta Pemerintah Bersikap Tegas

Dalam beberapa sekolah, siswa diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena tidak semua SPPG melarangnya. Hal ini menimbulkan potensi pemborosan makanan (food waste) dalam program. “Sungguh ironis jika MBG, yang bertujuan mengatasi masalah nutrisi, justru menyebabkan pemborosan,” tambah Dian. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi peluang, hambatan, dan strategi dalam implementasi MBG di tingkat sekolah.

Di sisi lain, orang tua di Sumatera Selatan menyatakan bahwa program MBG membantu mengurangi pengeluaran harian mereka. Namun, dampak positif terbesar dari MBG, menurut Ketua DPRD Bangka Tengah, Batianus, adalah penumbuhan nilai kebersamaan dan kesadaran akan gizi makanan. “MBG menjadi alat untuk memperkuat hubungan antara siswa, guru, dan masyarakat sekitar,” katanya. Pada bulan Ram…