67,6 Persen Balita Masih Konsumsi Kental Manis, CISDI: Alarm Darurat Bagi Pemerintah

3 minggu ago  ·  2 min read
By John Hernandez - pesonatropis.com
khrisna-gen-1783876191-d91b1b2b0c

Special Plan: 67,6% Balita Masih Konsumsi Kental Manis

Pesonatropis.com – Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memastikan pemenuhan gizi optimal bagi anak-anak usia balita. Data terbaru menunjukkan bahwa 67,6 persen balita masih mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu, padahal regulasi pelarangan sudah berlaku sejak lama. Fenomena ini menjadi perhatian serius dari Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) yang menyebutnya sebagai alarm darurat bagi kesehatan nasional. Special Plan ini menyoroti perlunya tindakan konkret dari pemerintah untuk mengatasi kesenjangan antara regulasi dan implementasi di masyarakat.

Regulasi vs Realita di Lapangan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan Peraturan Nomor 31 Tahun 2018 yang diperkuat dengan Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2021. Kedua regulasi ini secara tegas melarang kental manis dipromosikan sebagai produk susu pertumbuhan. Namun, Nida Adzilah Auliani, Lead Food and Nutrition Center CISDI, mencatat bahwa implementasi di tingkat rumah tangga masih jauh dari harapan. Special Plan yang diusulkan CISDI menekankan bahwa penerbitan regulasi saja tidak cukup tanpa edukasi masif kepada masyarakat.

“Selama bertahun-tahun, masyarakat terpapar promosi yang membangun citra kental manis sebagai produk susu yang identik dengan pertumbuhan dan kesehatan anak. Persepsi yang telah terbentuk dalam waktu lama tentu tidak dapat diubah hanya dengan menertibkan regulasi,” ujar Nida saat dihubungi pada Jumat (10/7).

Dampak Kesehatan Jangka Panjang

Kegagalan menggeser persepsi keliru ini berpotensi membebani target pemerintah dalam menurunkan angka stunting dan malnutrisi. Kental manis mengandung kadar gula sangat tinggi dengan nutrisi yang tidak seimbang dibandingkan susu murni. Konsumsi berlebihan produk ini dapat menyebabkan obesitas dan diabetes tipe 2 pada anak-anak. Special Plan dari CISDI juga menyoroti rendahnya literasi gizi masyarakat yang masih menganggap kental manis sebagai sumber protein, kalsium, dan vitamin D yang memadai.

Ketergantungan terhadap kental manis mencerminkan masalah yang lebih dalam dalam sistem gizi nasional. Banyak orang tua percaya bahwa produk ini dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak, padahal kandungan nutrisinya jauh lebih rendah dibandingkan susu segar atau susu formula. Strategi pemasaran agresif produsen kental manis selama beberapa dekade terakhir semakin memperkuat persepsi keliru ini di kalangan masyarakat Indonesia.

Solusi Holistik yang Diperlukan

CISDI menekankan bahwa penanganan masalah ini memerlukan pendekatan komprehensif dari berbagai pemangku kepentingan. Edukasi berkelanjutan harus menjadi prioritas, bukan sekadar kampanye singkat yang tidak meninggalkan dampak jangka panjang. Selain itu, pengawasan terhadap iklan dan promosi kental manis perlu diperketat agar tidak menyesatkan konsumen lagi. Special Plan yang diusulkan mencakup insentif fiskal untuk mendorong produksi dan konsumsi susu lokal yang lebih sehat.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kebijakan pajak dan insentif untuk mendorong pergeseran dari kental manis ke produk susu bernutrisi. Dengan alternatif yang lebih baik dan termotivasi, masyarakat diharapkan dapat beralih secara bertahap. Tanpa langkah-langkah konkret ini, target penurunan stunting dan peningkatan gizi anak-anak Indonesia akan terus tertinggal. Special Plan dari CISDI menjadi roadmap penting untuk memastikan bahwa alarm darurat ini tidak hanya terdengar, tetapi juga ditindaklanjuti dengan tindakan nyata.

MORE FROM THIS CATEGORY