Main Agenda: Mahfud MD Pujikan Kiai Zulfa Mustofa sebagai Ulama NU yang Langka
Pesonatropis.com – Jakarta — Dalam sebuah acara peluncuran kitab yang berlangsung di Masjid Sunda Kelapa pada hari Jumat tanggal 10 Juli, Profesor Mahfud MD memberikan pujian tinggi kepada Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa. Main Agenda mencatat bahwa sebagai pakar hukum tata negara yang telah lama berkecimpung di dunia akademik, Mahfud MD menyampaikan pandangannya secara mendalam mengenai sosok ulama yang ia kenal baik sebagai sahabat maupun kolega selama bertahun-tahun.
Karakteristik Ulama yang Langka di Era Modern
Main Agenda menyoroti bahwa menurut pandangan Mahfud MD, Kiai Zulfa Mustofa termasuk dalam kategori ulama yang jarang ditemukan di era modern ini. Hal ini dikarenakan beliau mampu menggabungkan beberapa kualitas penting secara bersamaan. Pertama, kedalaman ilmu yang dimilikinya tidak diragukan lagi. Kedua, kemampuan beliau dalam menyampaikan gagasan-gagasan keilmuan kepada masyarakat. Ketiga, produktivitas dalam berkarya yang konsisten. Keempat, dan yang paling menonjol, sikap tawaduk atau kerendahan hati yang tetap terjaga meskipun telah mencapai posisi terhormat.
Kiai Zulfa adalah sosok yang sangat baik. Menurut saya beliau termasuk ulama yang langka. Beliau pandai berbicara dengan retorika yang baik, pandai menulis karya yang bernas, dan yang tidak kalah penting tetap memiliki sifat tawaduk, ujar Mahfud MD dengan penuh penghargaan.
Main Agenda mencatat bahwa Profesor Mahfud MD menekankan bahwa ketiga karakter utama tersebut—keahlian berbicara, kemampuan menulis, dan sikap rendah hati—seringkali tidak dimiliki secara bersamaan oleh seorang ulama. Biasanya, seseorang mungkin unggul dalam satu aspek namun kurang dalam aspek lainnya. Namun, Kiai Zulfa berhasil menunjukkan keseimbangan yang harmonis di antara ketiganya.
Nilai Akademik Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa
Selain memberikan apresiasi personal terhadap karakter Kiai Zulfa, Main Agenda juga mencatat bahwa Mahfud MD menyoroti bobot ilmiah dari kitab yang diluncurkan. Kitab tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tambahan bagi khazanah literatur Islam, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa tradisi keilmuan pesantren terus menghasilkan karya-karya yang relevan dengan perkembangan zaman.
Main Agenda melaporkan bahwa dalam kesempatan tersebut, Mahfud MD menjelaskan bahwa kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa memiliki konstruksi akademik yang kuat. Pembahasan di dalamnya telah memenuhi tiga pilar utama bangunan ilmu pengetahuan. Pada aspek epistemologi, KH Zulfa berhasil menghubungkan teori hukum Islam klasik dengan berbagai fatwa kontemporer yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Majelis Ulama Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa metodologi fikih tetap relevan dalam menjawab persoalan masyarakat modern.
Main Agenda menambahkan bahwa kehadiran kitab ini juga menjadi momen penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana tradisi keilmuan pesantren berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Dengan demikian, peluncuran kitab ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah peristiwa bersejarah yang menandai kesinambungan tradisi keilmuan Islam di Indonesia.
Main Agenda juga mencatat bahwa Mahfud MD menambahkan bahwa penilaian terhadap Kiai Zulfa didasarkan pada pengamatan selama bertahun-tahun. Beliau telah mengenal karakter Kiai Zulfa sejak lama, baik dalam konteks keilmuan maupun interaksi sosial. Hal ini memberikan bobot tambahan pada pujian yang disampaikan, karena bukan sekadar kesan awal, melainkan hasil dari pemahaman mendalam terhadap sosok ulama tersebut.
Main Agenda mengakhiri laporan dengan menyatakan bahwa acara peluncuran kitab di Masjid Sunda Kelapa ini juga menjadi wadah bagi para pecinta ilmu untuk menghargai kontribusi ulama-ulama NU dalam menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan Islam. Melalui karya-karya seperti Ithafu Ummati Al Muqtafa, generasi muda dapat belajar dari warisan keilmuan yang telah dibangun oleh para pendahulu mereka.

