Ray Rangkuti Sebut Ada Indikasi ‘Kudeta Merambat’ di Indonesia, Begini Penjelasannya

4 minggu ago  ·  3 min read
By David Johnson - pesonatropis.com
khrisna-gen-1783544202-b65c9b1dec

Ray Rangkuti Mengungkap Tanda-Tanda Kudeta Merambat di Indonesia: Sebuah Analisis Mendalam

Pesonatropis.com – Jakarta, 8 Juli 2026 — Dalam sebuah diskusi publik yang berlangsung di Jakarta Pusat, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, menyampaikan pandangannya mengenai kondisi politik terkini di tanah air. Ia menyoroti bahwa meskipun Indonesia tampaknya aman dari ancaman kudeta militer konvensional, terdapat indikasi kuat bahwa bentuk lain dari kudeta sedang merambat di berbagai sektor negara. Diskusi tersebut bertajuk “Militer, Bisnis, dan Politik: Pelajaran dari Kudeta Militer di Berbagai Negara” ini menghadirkan analisis komprehensif tentang dinamika kekuasaan yang berubah di era modern.

Kudeta Klasik vs Kudeta Merambat: Memahami Perbedaan Mendasar

Ray Rangkuti memulai penjelasannya dengan meninjau tren dan data yang berkembang belakangan ini. Menurutnya, Indonesia memiliki karakteristik yang membuat kudeta militer bergaya klasik menjadi hal yang sangat sulit terjadi. Fenomena ini berbeda dengan pengalaman negara-negara lain seperti Myanmar, Nigeria, Gabon, Turki, serta beberapa negara lainnya yang pernah mengalami pergantian kekuasaan secara paksa melalui kekuatan militer. Namun, peringatan penting datang dari ancaman yang lebih halus namun berbahaya, yaitu kudeta merambat.

“Kudeta dalam era modern disebut kudeta merambat. Ia berbeda dengan pengertian kudeta yang selama ini kita kenal. Maksud dari kudeta model ini yakni memasuki instrumen-instrumen negara lalu mengusainya, tanpa sama sekali menggunakan senjata. Mereka seharusnya tidak berada di sana”, jelas Ray Rangkuti, Direktur LIMA Indonesia.

Konsep kudeta merambat ini mengacu pada proses di mana elemen-elemen tertentu secara bertahap mengambil alih fungsi-fungsi negara tanpa perlu melakukan demonstrasi kekuatan fisik. Tidak ada senjata yang ditarik, tidak ada penguncian gedung pemerintahan, namun kekuasaan secara perlahan berpindah tangan melalui mekanisme yang lebih subtil dan terstruktur.

Militarisasi versus Militerisme: Dua Fenomena yang Berbeda

Salah satu poin penting yang ditonjolkan oleh Ray adalah perbedaan mendasar antara kondisi militarisasi dan militerisme yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Ia menekankan bahwa kita tidak lagi berada dalam fase militarisasi, melainkan telah memasuki fase militerisme yang semakin menguat. Kedua konsep ini sering kali disamakan, padahal memiliki makna yang sangat berbeda dalam konteks politik nasional.

“Militerisasi itu sebatas penempatan militer di ruang sipil yang tidak punya landasan hukum atau kebijakan. Sedangkan militerisme adalah sebuah paham yang menganggap militer yang paling hebat. Indonesia sudah masuk pada fase militerisme” ujar Ray.

Militarisasi dapat dipahami sebagai proses penempatan personel militer dalam berbagai posisi sipil, seringkali tanpa dasar hukum yang jelas atau kebijakan yang terukur. Sementara itu, militerisme merupakan sebuah ideologi atau paham yang menempatkan militer sebagai entitas paling unggul dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Standar Militer sebagai Tolok Ukur Segala Hal

Ray Rangkuti menjelaskan lebih lanjut bahwa karena adanya cara pandang yang menganggap militer sebagai yang paling hebat, maka militer juga dianggap sebagai yang paling unggul. Konsekuensi logisnya, seluruh aspek kehidupan masyarakat dan negara diukur menggunakan perspektif militer itu sendiri. Hal ini menciptakan sebuah ekosistem di mana segala sesuatu harus mengikuti standar militer.

Untuk memperjelas pemahamannya, Ray memberikan beberapa contoh konkret. Jika seseorang ingin menunjukkan disiplin, maka disiplin tersebut haruslah disiplin ala militer. Jika ingin memiliki karakter yang kuat, karakter tersebut harus berkarakter ala militer. Begitu pula ketika berbicara tentang etika dan bela negara, semuanya harus mengikuti model militer. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa semua standar yang berlaku adalah standar militer.

“Kondisi kita sekarang, semua standarnya standar militer”. “Kalau semua hal harus diukur dengan cara pandang dan standar militer itulah ‘isme’ atau paham” kata dia.

Proses ini menciptakan transformasi budaya di mana nilai-nilai sipil mulai tergeser oleh nilai-nilai militer. Masyarakat tidak lagi melihat alternatif lain selain mengikuti cara kerja militer dalam berbagai bidang kehidupan. Ini adalah esensi dari militerisme yang sedang merambat di Indonesia, sebuah fenomena yang memerlukan perhatian serius dari seluruh komponen bangsa untuk memastikan bahwa keseimbangan kekuasaan tetap terjaga.

MORE FROM THIS CATEGORY