Petugas Gabungan Gerak Cepat Padamkam Karhutla di Muara Enim – Cegah Kobaran Api Meluas

1 bulan ago  ·  4 min read
By David Johnson - pesonatropis.com
5a833205-701d-44ff-b418-6a4f1055ff13-0

Petugas Gabungan Bergerak Cepat Padamkan Karhutla di Muara Enim, Cegah Api Meluas

Pesonatropis.com – Baru-baru ini, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), kembali menjadi lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengkhawatirkan. Api yang membara berhasil merusak area seluas sekitar satu hektare di Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang, daerah yang terletak di bagian tenggara Sumsel. Kebakaran ini terjadi pada Minggu (5/7) dan langsung mendapat respons cepat dari tim gabungan yang berupaya memadamkan kobaran api sebelum merambat lebih luas.

Tim penanggulangan kebakaran terdiri dari personel Manggala Agni Daops Sumatera XVI/Lahat, dibantu oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muara Enim. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan bahwa proses pemadaman dilakukan secara intensif untuk memastikan tidak ada sisa api yang tersisa di lapisan tanah. “Pada hari pertama penanganan, tim berhasil memadamkan sekitar 0,25 hektare dari lahan yang terbakar,” tutur Ferdian.

Pemadaman ini terbilang kompleks karena vegetasi yang terbakar berupa semak belukar yang tumbuh di atas lahan gambut tipis dengan kedalaman sekitar 80 sentimeter. Jenis vegetasi ini memberi tantangan tersendiri dalam upaya memadamkan api, karena kebakaran bisa merambat ke lapisan bawah tanah jika tidak ditangani dengan hati-hati. Ferdian menekankan bahwa perlengkapan dan strategi yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan lokal untuk meminimalkan risiko kebakaran kembali.

“Kami tetap waspada karena sisa-sisa asap tipis yang masih terdeteksi di lokasi bisa memicu kembalinya api jika tidak diatasi secara menyeluruh,” kata Ferdian, Minggu (5/7).

Pemadaman dilakukan dengan kombinasi metode darat dan udara, tergantung pada kondisi medan. Petugas menggunakan alat seperti pompa air, semprotan busa, serta drone untuk memantau area secara real-time. Selain itu, tim juga melakukan pembersihan tumpukan daun kering dan ranting yang berpotensi menjadi sumber api sekunder. Upaya ini bertujuan menghentikan penyebaran api ke wilayah sekitar, termasuk ke hutan tetangga dan lahan pertanian.

Kebakaran di Muara Enim menimbulkan dampak signifikan terhadap lingkungan, khususnya karena lahan gambut yang mudah terbakar. Kebakaran semak belukar bisa memicu pembakaran kembali pada lapisan tanah jika sisa-sisa arang atau tumbuhan kering tidak dikelola dengan baik. Ferdian mengungkapkan bahwa lapisan gambut yang tipis mempercepat proses penyebaran api, sehingga kecepatan respons menjadi faktor kritis dalam pencegahan kebakaran besar.

Sebagai langkah pencegahan, petugas juga melakukan sensus area yang sudah terbakar untuk memastikan semua titik panas teratasi. Ferdian menambahkan bahwa petugas tetap berjaga di lokasi sepanjang hari, terutama pada malam hari, karena suhu dan kelembapan udara bisa memengaruhi intensitas api. “Penanganan ini membutuhkan kolaborasi yang intens antara tim darat, udara, dan juga masyarakat sekitar,” jelasnya.

Kebakaran hutan di Muara Enim menjadi perhatian serius karena rawan menimbulkan polusi udara yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Asap yang terbang ke udara bisa menyebabkan kenaikan tingkat partikulat udara (PM2.5), yang berisiko terhadap sistem pernapasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Muara Enim kerap menjadi korban karhutla akibat aktivitas manusia seperti pembakaran lahan untuk perkebunan atau pertanian. Ferdian menyarankan bahwa masyarakat perlu lebih waspada dalam pengelolaan lahan kering, terutama pada musim kemarau.

Pemerintah daerah juga melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan semua sumber api diidentifikasi. Pemadaman yang dilakukan hingga saat ini berjalan lancar, namun Ferdian mengingatkan bahwa penyelesaian penuh masih membutuhkan waktu. “Kami berharap tidak ada titik panas yang terlewat, karena satu sisa api bisa memulai kembali kebakaran dalam waktu singkat,” ujarnya.

Kebakaran di Muara Enim tidak hanya mengancam kehutanan, tetapi juga ekosistem sekitarnya. Karena lahan gambut tipis, api bisa merambat cepat ke hutan hujan dan tanah liat di sekitarnya. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya pencegahan dini, terutama dalam penggunaan alat pemadam yang tepat. Ferdian menegaskan bahwa keberhasilan pemadaman tergantung pada kecepatan dan ketelitian petugas, serta dukungan dari warga sekitar.

Dalam beberapa hari terakhir, kabupaten tersebut juga mengalami kenaikan suhu udara yang signifikan, menciptakan kondisi ideal bagi api untuk berkembang. Untuk mengatasi hal ini, tim penanggulangan menggunakan teknik pemadaman yang beragam, termasuk pembuatan alur air untuk mengisolasi area terbakar dan penggunaan pelindung dari asap. Ferdian menambahkan bahwa peran masyarakat sangat penting, baik dalam pencegahan maupun penanggulangan langsung.

Kebakaran hutan dan lahan memang menjadi masalah yang berkelanjutan di Indonesia, dan Muara Enim menjadi contoh nyata bagaimana kecepatan respons petugas dapat mencegah kerusakan lebih besar. Proses pemadaman ini bukan hanya sekadar menghentikan api, tetapi juga menciptakan kembali kestabilan lingkungan. Dengan langkah-langkah yang tepat, harapan Ferdian adalah bahwa kebakaran dapat dipastikan tidak menyebar ke wilayah lain, menjaga keamanan ekosistem dan masyarakat di sekitar.

Dalam konteks lingkungan global, kebakaran di Muara Enim menunjukkan pentingnya upaya pencegahan yang lebih ketat. Kebakaran hutan bisa menyebabkan emisi karbon yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Ferdian menging

MORE FROM THIS CATEGORY