Eddy Soeparno Paparkan Program Prioritas Ketahanan Energi Nasional
Pesonatropis.com – Jakarta – Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan mencapai 8 persen harus diiringi dengan peningkatan ketahanan energi dan pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini diungkapkan dalam pidato utama Eddy pada Indonesia Youth SDGs Summit 2026, yang digelar oleh Universitas Bakrie dengan tema “Next-Gen Solutions for Energy and Food Security”. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Prof. Emil Salim, pakar lingkungan hidup Indonesia, serta Prof. Sofia Alisjahbana, Rektor Universitas Bakrie, bersama para akademisi, mahasiswa, dan pemuda dari berbagai daerah di Tanah Air.
Ketahanan Energi sebagai Pilar Pembangunan
Dalam sambutannya, Eddy menjelaskan bahwa dunia kini menghadapi tantangan serius yang dipicu oleh krisis iklim serta peningkatan ketegangan geopolitik. Kedua faktor ini berdampak langsung pada stabilitas energi, kelancaran rantai pasok global, dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, situasi ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi pembangunan nasional melalui penerapan Sustainable Development Goals (SDGs) yang sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945.
“Keberlanjutan bukan hanya sekadar pilihan, tetapi juga menjadi prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang tangguh. Ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pembangunan rendah karbon harus dipandang sebagai investasi strategis untuk menjaga daya saing Indonesia di masa depan,” ujar Eddy.
Eddy menekankan bahwa bencana alam akibat perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kerugian ekonomi besar yang akan dialami jika pembangunan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Ia menyoroti bahwa implementasi SDGs perlu dijadikan instrumen utama dalam mengarahkan pembangunan nasional, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai doktor ilmu politik dari UI, Eddy mengatakan bahwa strategi pembangunan yang berkelanjutan adalah kunci untuk menghadapi tantangan global. Ia mencontohkan bahwa krisis energi tidak hanya memengaruhi perekonomian, tetapi juga mengancam kehidupan sehari-hari masyarakat. “Ketegangan geopolitik yang meningkat selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketergantungan pada sumber daya energi global memerlukan perencanaan yang matang,” tambahnya.
Dalam pembahasan program prioritas ketahanan energi nasional, Eddy memaparkan bahwa Indonesia harus memperkuat sumber daya energi lokal, seperti bahan bakar nabati dan energi terbarukan. Ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi pasokan energi untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu jenis sumber daya. “Dengan menyiapkan sumber energi yang lebih mandiri, kita bisa mengurangi dampak dari fluktuasi harga energi internasional,” paparnya.
Ketahanan pangan menjadi bagian integral dari strategi ini, menurut Eddy. Ia menyebutkan bahwa perlindungan lingkungan harus selaras dengan peningkatan produksi pangan nasional. “Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat bagaimana perubahan iklim mengganggu hasil pertanian dan distribusi makanan. SDGs menjadi cara untuk menyelaraskan tujuan ekonomi dengan perlindungan ekosistem,” jelasnya.
Eddy juga menekankan bahwa pembangunan rendah karbon tidak hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang ekonomi yang lebih efisien. Ia menyampaikan bahwa transisi menuju energi bersih memerlukan investasi jangka panjang, tetapi akan menghasilkan manfaat yang signifikan dalam jangka waktu yang lebih luas. “Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan adalah jalan untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif di tingkat global,” tambahnya.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Emil Salim dan Sofia Alisjahbana menunjukkan dukungan kuat dari kalangan akademisi dan pemimpin kebijakan terhadap inisiatif ini. Emil Salim, dalam kesempatan yang sama, menambahkan bahwa keberlanjutan harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional. “Kita tidak bisa memisahkan isu lingkungan dengan tata kelola ekonomi yang sehat,” ujarnya.
Peran Generasi Muda dalam SDGs
Indonesia Youth SDGs Summit 2026 menjadi platform untuk menyoroti peran generasi muda dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan. Eddy menyampaikan bahwa pemuda di seluruh Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk berkontribusi pada pencapaian SDGs. “Mereka adalah pilar utama perubahan, baik dalam bidang energi, pangan, maupun lingkungan,” katanya.
Summit ini juga menjadi ajang diskusi mengenai inovasi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. Sejumlah mahasiswa mengusulkan penggunaan teknologi hijau dalam industri dan pertanian, sementara yang lain berfokus pada perubahan pola konsumsi masyarakat. Eddy menilai ide-ide dari generasi muda sangat relevan untuk mengisi celah kebijakan yang ada.
Menurut Eddy, keberhasilan program prioritas ketahanan energi tergantung pada komitmen bersama. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak bisa dicapai hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga peran aktif masyarakat. “Kami harus membangun kesadaran bahwa setiap tindakan kecil, seperti penggunaan energi hemat, bisa berkontribusi besar dalam jangka panjang,” ujarnya.
Acara tersebut menutup dengan kesepakatan bersama untuk mempercepat implementasi SDGs di tingkat lokal. Para peserta berharap bahwa kebijakan nasional bisa selaras dengan kebutuhan masyarakat daerah. Eddy menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk membangun Indonesia yang lebih kuat dan tangguh.
Doktor Ilmu Politik UI ini juga menyebutkan bahwa krisis energi dan pangan memerlukan solusi yang holistik. “Kita perlu mengintegrasikan berbagai aspek, seperti teknologi, kebijakan, dan partisipasi masyarakat, agar program ini bisa berjalan efektif,” tambahnya. Dengan pendekatan yang komprehensif, Indonesia bisa menjadi contoh bagus bagi negara-negara lain dalam menghadapi tantangan global.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News.

