Antisipasi Blackout, Pengembangan Panas Bumi Perlu Dipercepat

1 bulan ago  ·  4 min read
By Jennifer Miller - pesonatropis.com
6c078d38-26d2-4417-a554-334541d940a5-0

Antisipasi Blackout, Pengembangan Panas Bumi Perlu Dipercepat

Pesonatropis.com – Jakarta – Feiral Rizky Batubara, seorang ahli energi, menekankan perlunya percepatan pengembangan sumber daya panas bumi untuk memperkuat kestabilan sistem kelistrikan nasional dan mengurangi risiko terjadinya pemadaman listrik massal, yang dikenal sebagai blackout. Menurutnya, ancaman kecolongan energi harus diprediksi lebih dini, mengingat berbagai penyebab yang bisa memicu gangguan tersebut, seperti ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan listrik, serta kompleksitas infrastruktur yang terus meningkat.

Pengaruh Gangguan Pasokan Listrik

Gangguan pada sistem distribusi listrik tidak hanya menghambat kegiatan sehari-hari masyarakat, tetapi juga berdampak signifikan pada sektor industri. Dalam kondisi kritis, hal ini bisa mengganggu proses produksi, menaikkan biaya operasional, dan memperlambat alur distribusi barang. Feiral menyatakan bahwa ancaman blackout semakin serius karena pertumbuhan konsumsi energi yang pesat, sehingga sistem kelistrikan perlu diperkuat secara menyeluruh.

“Panas bumi dapat menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan karena mampu berfungsi sebagai baseload,” ujarnya dalam sambungan telepon dengan awak media di Jakarta, baru-baru ini.

Feiral menekankan bahwa sumber daya geothermal memiliki keunggulan unik, yakni kemampuan beroperasi konsisten selama 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca. Hal ini menjadikannya solusi yang sangat layak diandalkan dalam jangka panjang, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan ketergantungan pada sumber daya lain yang lebih rentan terhadap perubahan lingkungan.

Upaya Penguatan Infrastruktur

Meski geothermal menjadi pilihan yang strategis, Feiral menyatakan bahwa pengembangan sumber daya tersebut tidak cukup untuk memastikan sistem kelistrikan aman. Pemerintah juga perlu melakukan peningkatan pada jaringan transmisi dan distribusi, serta memperluas penyimpanan energi melalui teknologi Battery Energy Storage System (BESS). Diversifikasi sumber energi dari berbagai jenis, seperti solar, angin, dan biomassa, dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber utama.

Feiral menambahkan bahwa ketersediaan sumber daya panas bumi di Indonesia sangat besar, mencapai sekitar 24 gigawatt (GW) atau hampir 40 persen dari total potensi dunia. Sebaran sumber daya ini menurutnya bisa mendukung kebutuhan energi di berbagai wilayah, terutama daerah-daerah yang jauh dari pusat pembangkit listrik konvensional. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut data yang disebutkan, saat ini hanya sekitar 2,7 GW dari total 24 GW potensi yang sudah dikembangkan. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan panas bumi masih terbatas, sehingga masih ada peluang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi. Feiral menilai bahwa keberhasilan dalam pengembangan sumber daya ini akan memperkuat keandalan pasokan listrik nasional, terutama dalam menghadapi skenario kemacetan energi yang semakin sering terjadi.

Kebutuhan Diversifikasi Sumber Energi

Dalam rangka meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan, Feiral meminta pemerintah tidak hanya fokus pada pengembangan panas bumi, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain, seperti perbaikan infrastruktur listrik dan investasi dalam teknologi penyimpanan energi. Penguatan jaringan transmisi yang memadai diperlukan agar energi yang dihasilkan bisa sampai ke konsumen tanpa hambatan signifikan. Selain itu, peningkatan cadangan daya juga dianggap penting untuk mengatasi fluktuasi permintaan yang tiba-tiba.

Keberadaan sumber daya geothermal di Indonesia disebutkan sebagai salah satu keuntungan besar dalam upaya mengurangi risiko blackout. Sumber daya ini bisa menjadi jaminan kestabilan pasokan listrik, terlepas dari kondisi cuaca. Dengan daya 24 GW yang ada, Feiral optimis bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri dalam menghasilkan energi, selama ada komitmen kuat untuk mengembangkan sumber daya tersebut.

Dalam konteks ini, Feiral menyoroti pentingnya perencanaan yang matang dan kebijakan yang mendukung pengembangan geothermal. Ia menilai bahwa pemerintah perlu menetapkan target khusus untuk meningkatkan produksi energi panas bumi dalam waktu dekat, sekaligus mendorong kolaborasi antara sektor publik dan swasta. “Kita perlu mempercepat proyek pemanfaatan panas bumi agar tidak tertinggal dari negara-negara lain yang sudah lebih awal mengembangkan energi terbarukan,” imbuhnya.

Menurut Feiral, kemajuan teknologi dan investasi yang tepat bisa mempercepat proses pemanfaatan sumber daya panas bumi. Ia mencontohkan bahwa beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Australia sudah mampu memanfaatkan geothermal secara luas, dengan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan energi nasional. Indonesia, yang memiliki modal besar di bidang sumber daya alam, diperkirakan mampu mencapai tingkat tersebut selama ada dukungan yang komprehensif.

Feiral juga menyarankan agar pemerintah memperhatikan aspek ekonomi dan lingkungan dalam pengembangan geothermal. Ia menegaskan bahwa sumber daya ini bukan hanya memiliki potensi teknis, tetapi juga dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang berdampak pada emisi karbon. Dengan demikian, geothermal tidak hanya menjadi solusi untuk menghindari blackout, tetapi juga alat untuk mencapai tujuan keberlanjutan lingkungan.

Dalam kesimpulan, Feiral berharap bahwa pengembangan panas bumi bisa menjadi pilar utama dalam penguatan sistem kelistrikan nasional. Ia menegaskan bahwa perlu ada kolaborasi antarinstansi dan kebijakan yang konsisten untuk memastikan sumber daya ini bisa berkembang secara maksimal, sekaligus menjawab tantangan energi yang dihadapi Indonesia saat ini.

MORE FROM THIS CATEGORY