156 Casis Melaju ke Pendidikan Bintara & Tamtama, Brigjen Astawa Berpesan

3 minggu ago  ·  4 min read
By Jennifer Miller - pesonatropis.com
89e2c1bc-c65c-48ea-835f-61c245b23c53-0

156 Casis Melaju ke Pendidikan Bintara & Tamtama, Brigjen Astawa Berpesan

Pesonatropis.com – Denpasar, Bali – Polda Bali akhirnya mengadakan Sidang Terbuka Penentuan Kelulusan Akhir Tingkat Panda Penerimaan Bintara dan Tamtama Polri 2026, pada Jumat (3/7) kemarin. Acara ini dilaksanakan setelah para peserta melalui proses seleksi yang ketat selama hampir empat bulan. Sidang terbuka ini dihadiri oleh Wakapolda Bali Brigjen I Made Astawa, sejumlah pejabat utama, pengawas internal serta eksternal, dan para calon peserta (casis) bersama orang tua mereka. Presensi orang tua menjadi bukti komitmen Polda Bali dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas seluruh tahapan perekrutan.

Sejak dimulai pada 9 Maret 2026, seleksi untuk menentukan penerimaan Bintara dan Tamtama Polri menghadirkan ribuan pendaftar yang saling bersaing untuk mendapatkan kuota kelulusan. Berdasarkan data yang diumumkan, jumlah peserta awal mencapai 1.649 orang, terdiri dari 1.617 calon Bintara (1.354 laki-laki dan 263 perempuan) serta 32 calon Tamtama (28 dari Brimob dan 4 dari Polair). Proses ini mencerminkan animo masyarakat Bali terhadap karier di institusi kepolisian, sekaligus menguji kesiapan para peserta dalam menghadapi tantangan menjadi anggota Polri.

Sidang terbuka menjadi momen penentuan akhir bagi 156 orang yang lolos dari seleksi yang berlangsung panjang. Dari total 1.649 pendaftar, hanya 156 yang berhasil mempertahankan posisi hingga tahap ini. Perincian peserta yang lolos terdiri dari 139 calon Bintara (125 laki-laki dan 14 perempuan) serta 17 calon Tamtama (14 dari Brimob dan 3 dari Polair). Jumlah tersebut menunjukkan tingkat persaingan yang ketat, terutama dalam jalur Bintara, di mana lebih banyak laki-laki yang terpilih dibandingkan perempuan.

Peserta Seleksi Sisihkan Kekuatan dan Kemampuan

Sidang terbuka ini dianggap sebagai ujian terakhir sebelum para peserta resmi dianggap lolos dan siap mengikuti pendidikan di institusi Polri. Dalam proses rekrutmen, Polda Bali berupaya memastikan bahwa seluruh tahapan dilakukan secara objektif, terukur, serta bebas dari intervensi yang tidak seharusnya. Wakapolda Bali Brigjen I Made Astawa menegaskan bahwa kebersihan proses seleksi menjadi prioritas utama dalam mencari talenta terbaik untuk mengisi kebutuhan kepolisian di Bali.

“Seluruh proses rekrutmen ini dipastikan bersih dari praktik KKN. Kami memanfaatkan teknologi di setiap tahapan agar penilaian berlangsung objektif, terukur, dan bebas intervensi,” kata Brigjen I Made Astawa saat membuka sidang terbuka.

Menurut Brigjen Astawa, pemanfaatan teknologi dalam seleksi tidak hanya meminimalkan potensi kecurangan, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan keakuratan dalam menilai kemampuan setiap peserta. Metode ini mencakup sistem pengisian formulir online, pelaksanaan ujian komputer, serta pemantauan digital untuk memastikan transparansi di seluruh proses. Hal ini diharapkan menjadi contoh bagi institusi kepolisian lain dalam mengadopsi inovasi untuk memperkuat integritas perekrutan.

Kepada para peserta yang berhasil lolos, Brigjen Astawa memberikan pesan untuk tetap menjaga semangat dan konsistensi selama masa pendidikan. “Calon Bintara dan Tamtama wajib siap menghadapi tantangan berat, baik secara fisik maupun mental. Proses ini adalah langkah awal menuju menjadi anggota Polri yang berkualitas,” ujarnya. Pesan ini sejalan dengan tujuan Polda Bali untuk menciptakan generasi baru kepolisian yang profesional, tangguh, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Sebagai bentuk komitmen terhadap keterbukaan informasi, sidang terbuka dihadiri oleh seluruh pihak terkait, termasuk para pengawas eksternal yang bertugas memastikan tidak ada kecurangan dalam perekrutan. Dalam kesempatan ini, para peserta diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri, memberikan penjelasan tentang latar belakang, serta menjawab pertanyaan dari tim evaluasi. Proses ini menunjukkan bahwa Polda Bali tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga sikap dan tanggung jawab para calon peserta.

Seleksi untuk Bintara dan Tamtama Polri 2026 digelar dalam beberapa tahapan, mulai dari tes fisik, psikotes, wawancara, hingga penilaian berdasarkan performa di seluruh fase. Polda Bali juga memperkenalkan sistem penilaian yang lebih terstruktur, dengan penekanan pada kompetensi khusus untuk setiap jalur penerimaan. Misalnya, untuk Tamtama, penekanan lebih pada kemampuan dasar dan kesiapan menghadapi tugas lapangan, sementara Bintara membutuhkan keahlian lebih dalam dalam manajemen dan kepemimpinan.

Brigjen Astawa menekankan bahwa keberhasilan seleksi tidak hanya bergantung pada hasil tes, tetapi juga pada komitmen peserta untuk berkembang seiring waktu. “Kami menilai kesiapan mental, fisik, dan etika para peserta. Semua faktor ini menjadi penentu dalam memilih individu yang layak mengemban tugas kepolisian,” tambahnya. Hal ini sejalan dengan visi Polda Bali untuk membangun kepolisian yang lebih modern dan adaptif terhadap tantangan masa kini.

Dengan jumlah peserta yang besar, kompetisi untuk menjadi anggota Polri menjadi semakin sengit. Namun, Brigjen Astawa yakin bahwa sistem yang diterapkan memberikan peluang yang adil bagi semua calon. “Kami tidak hanya mencari calon terbaik, tetapi juga memastikan bahwa setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ujarnya. Selain itu, Polda Bali juga terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui perekrutan yang lebih selektif dan berstandar tinggi.

Para peserta yang lolos akan melanjutkan pendidikan di berbagai akademi kepolisian sesuai jalur yang mereka pilih. Dalam pidatonya, Brigjen Astawa juga mengapresiasi partisipasi masyarakat Bali dalam mendukung perekrutan ini. “Kehadiran orang tua dan keluarga memperkuat komitmen kita untuk membangun kepolisian yang unggul dan dipercaya oleh masyarakat,” katanya. Harapan ini diharapkan menjadi bantalan bagi para peserta yang akan menempuh pendidikan lebih lanjut.

Sidang terbuka ini juga memberikan wawasan tentang proses rekrutmen yang transparan dan terukur. Dengan adanya pengawasan eksternal, Polda Bali memastikan bahwa semua keputusan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Brigjen Astawa menambahkan bahwa hal ini menjadi jaminan bagi publik bahwa perekrutan kepolisian di Bali dilakukan secara adil dan berbasis data. “Kami ingin menjadi contoh bagi institusi lain dalam melakukan proses perekrutan yang jujur dan terbuka,” ujarnya.

Sebagai penutup, Polda Bali mengimbau masyarakat untuk tetap mendukung kegiatan perekrutan ini. Selain itu, para peserta yang lolos akan menjadi bagian dari kepolisian Bali yang baru, yang diharapkan mampu memberikan layanan lebih baik bagi masyarakat. Dengan jumlah peserta yang signifikan, Polda Bali percaya bahwa kepolisian akan memiliki tenaga yang cukup untuk menjaga keamanan dan ketertiban di daerah tersebut.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News.

MORE FROM THIS CATEGORY