Pertemuan Antara Sarwendah dan Ruben Onsu Terancam Batal, Begini Penjelasan Pihak Ruben Onsu
Pesonatropis.com – JAKARTA – Informasi mengenai batalnya pertemuan antara Sarwendah dan Ruben Onsu kembali menjadi sorotan publik. Dalam pernyataan terbaru, pihak Sarwendah menyebutkan bahwa jadwal pertemuan pada 11 Juli 2026 mungkin tidak akan terlaksana. Namun, Ruben Onsu dan tim kuasa hukumnya, Minola Sebayang, memberikan respons yang menegaskan sikap mereka terhadap keputusan tersebut.
Minola Sebayang: Pertemuan Batal Tidak Ada Hubungannya dengan Ruben Onsu
Dalam wawancara melalui Zoom yang dilakukan pada Jumat (3/7), Minola Sebayang menjelaskan bahwa pihak Sarwendah yang mengambil inisiatif untuk membatalkan pertemuan tersebut. “Yang batalkan kan mereka, yang batalkan kan bukan dari pihak Ruben Onsu, bukan dari pihak abang yang batalkan,” ujarnya dalam wawancara tersebut. Menurut Minola, keputusan untuk menunda pertemuan tergantung sepenuhnya pada pihak Sarwendah, tanpa ada campur tangan dari Ruben Onsu.
“Yang batalkan kan mereka, yang batalkan kan bukan dari pihak Ruben Onsu, bukan dari pihak abang yang batalkan,” kata Minola Sebayang.
“Jadi seharusnya enggak apa-apa pertemuan tanggal 11 itu silakan saja. Kan, masing-masing pihak itu kan bebas ya untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam rangka untuk mempertahankan hak asuh anak,” ucapnya.
“Kalau memang misalnya mereka menganggap bahwa join meeting itu adalah sebagai salah satu cara untuk bisa menyelesaikan masalah ini, silakan saja. Kenapa mesti langsung mundur begitu lho hanya gara-gara ada gugatan hak asuh anak begitu lho,” sambungnya.
Meski ada kemungkinan pertemuan dibatalkan, Minola menegaskan bahwa Ruben Onsu dan timnya tetap optimis. Ia menilai, pertemuan tersebut justru penting untuk memperkuat posisi dalam perseteruan hak asuh anak. “Setiap pihak memiliki hak untuk menentukan langkah mereka sendiri. Tapi keputusan itu harus jelas alasan dan tujuannya,” jelasnya. Dalam konteks kasus ini, Minola mengatakan bahwa pengambilan keputusan untuk membatalkan pertemuan harus dijelaskan secara rinci, terutama karena Ruben Onsu telah melakukan langkah hukum.
Menurut Minola, gugatan hak asuh anak yang telah diajukan Ruben Onsu seharusnya menjadi alasan untuk semakin aktif berkomunikasi, bukan justru menjadi penghalang. “Kan, tujuan gugatan itu adalah untuk mencari solusi. Jadi mengapa pertemuan yang bisa mempercepat proses itu malah dibatalkan?” tanyanya. Ia menambahkan, pihak Sarwendah mungkin merasa bahwa pertemuan tersebut tidak efektif atau tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
Dalam percakapan dengan media, Minola juga menyebutkan bahwa perseteruan hak asuh anak tidak bisa dihindari. Setiap orangtua memiliki hak untuk menjaga hubungan dengan anak, tetapi keputusan harus didasarkan pada kepentingan terbaik si kecil. “Pertemuan tersebut bukan hanya tentang pertemuan, tapi juga tentang komunikasi yang sehat untuk mencapai kesepakatan bersama,” imbuhnya.
Sementara itu, pihak Sarwendah masih menjaga sikap terbuka. Mereka menyatakan bahwa keputusan membatalkan pertemuan bersifat sementara dan bisa diubah jika diperlukan. “Kita masih menunggu respons lebih lanjut dari pihak Ruben Onsu. Semua pihak ingin menyelesaikan masalah ini secara harmonis,” ujar salah satu sumber yang diwawancarai. Namun, Minola menilai bahwa keputusan tersebut perlu dijelaskan dengan jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Perspektif Hukum: Hak Asuh Anak sebagai Fokus Utama
Kasus hak asuh anak antara Ruben Onsu dan Sarwendah telah berlangsung cukup lama. Sejak beberapa bulan lalu, keduanya terlibat dalam perdebatan mengenai bagaimana membagi waktu bersama anak-anak mereka. Ruben Onsu mengajukan gugatan untuk menegaskan hak asuhnya, sementara Sarwendah berupaya mempertahankan ikatan emosional dengan anak-anak.
Dalam proses hukum, pertemuan antara kedua belah pihak dianggap sebagai salah satu metode untuk mencapai kesepakatan. Namun, Minola menilai bahwa pembatalan pertemuan di tengah proses tersebut mungkin menimbulkan efek negatif. “Jika mereka ingin menyelesaikan masalah, mengapa tidak menyambut pertemuan dengan terbuka? Kalau tidak bisa, mungkin mereka harus menyiapkan argumen yang lebih kuat,” katanya.
Minola juga mengingatkan bahwa keputusan membatalkan pertemuan tidak boleh semata-mata dianggap sebagai penolakan. “Mungkin mereka mempertimbangkan berbagai faktor, seperti situasi emosional atau kondisi saat itu. Tapi jangan sampai keputusan itu dianggap sebagai tindakan menutup diri,” tambahnya. Ia berharap, pihak Sarwendah bisa memberikan penjelasan yang lebih jelas mengenai alasan pembatalan, agar masyarakat dapat memahami konteksnya.
Di sisi lain, Ruben Onsu tetap menjaga komunikasi dengan pihak Sarwendah. Meski pertemuan belum pasti terlaksana, ia tidak menutup kemungkinan untuk terus berusaha mencari solusi bersama. “Kita masih bisa berdiskusi, bahkan melalui jalur lain. Yang penting, anak-anak tetap diperhatikan,” ujarnya dalam keterangan terpisah.
Kasus ini memperlihatkan dinamika hubungan antara kedua orangtua dalam menjaga kepentingan anak. Meski ada perbedaan pendapat, komunikasi tetap menjadi kunci untuk menyelesaikan konflik. Dengan begitu, Ruben Onsu dan Sarwendah bisa menemukan titik temu yang saling menguntungkan.
Bagi penggemar, kasus ini menjadi bahan diskusi dan perhatian. Banyak yang berharap pertemuan antara keduanya bisa dilaksanakan, sebagai langkah untuk memperbaiki hubungan dan menjaga kesejahteraan anak-anak. Sementara itu, proses hukum tetap berjalan sesuai rencana, dengan harapan bahwa keputusan akhir akan memberikan kejelasan.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News.

