Jumlah Penumpang Transportasi Umum di Jakarta Naik Drastis

1 bulan ago  ·  4 min read
By Anthony Lopez - pesonatropis.com
ab227ba8-bb1b-4d80-9347-7c9b2a91a6b7-0

Peningkatan Penumpang Transportasi Umum di Jakarta Mencatatkan Peningkatan Signifikan

Laporan BPS DKI Jakarta Mengungkap Kenaikan Pasif Penumpang Tahunan di Bulan Mei

Pesonatropis.com – Dalam laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, terungkap adanya peningkatan signifikan jumlah penumpang yang menggunakan moda transportasi umum di ibu kota, khususnya di bulan Mei 2026. Kenaikan ini terjadi secara tahunan, dengan ketiga sistem transportasi utama—MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Transjakarta—menunjukkan peningkatan yang beragam. Angka penumpang pada bulan tersebut mencerminkan perbaikan kecil dalam aktivitas transportasi sehari-hari, meski masih ada perbedaan signifikan antar moda. Pengamat menyebut hal ini sebagai indikator awal perbaikan ekonomi dan mobilitas masyarakat di tengah perubahan pola kehidupan yang terus berlangsung.

Menurut data yang dirilis BPS DKI Jakarta, angka penumpang MRT Jakarta mencapai 3.857.969 orang pada Mei 2026, naik sebesar 5,03 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Kenaikan ini disebut sebagai pertumbuhan yang stabil, terutama mengingat MRT Jakarta telah menjadi tulang punggung transportasi massal di sebagian besar kawasan Jakarta Selatan. Meski demikian, angka peningkatan ini masih lebih rendah dibandingkan tren tahunan dari moda transportasi lainnya.

“Dibandingkan kondisi Mei 2025, jumlah penumpang MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Transjakarta mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,03 persen, 11,23 persen, dan 6,98 persen,” kata Kadarmanto, Kepala BPS DKI Jakarta, Rabu (1/7). Ia menambahkan bahwa kenaikan ini terjadi meski terdapat fluktuasi di tingkat bulanan, yang menjadi tantangan tersendiri bagi sistem transportasi tersebut.

Sementara itu, LRT Jakarta mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi, dengan jumlah penumpang sebanyak 119.185 orang. Penambahan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem transportasi ringan yang mulai digunakan di daerah strategis seperti Kota Tua dan Kota Bambu. Namun, meski ada peningkatan tahunan, volume penumpang LRT tetap tergantung pada aktivitas sektor tertentu, seperti kunjungan wisata atau kegiatan ekonomi di sekitar jalur operasionalnya.

Transjakarta, termasuk layanan Mikrotrans, menunjukkan kenaikan terbesar dengan mencapai 35.585.808 penumpang. Angka ini mencerminkan peran penting Transjakarta sebagai sarana transportasi umum yang terjangkau bagi berbagai kalangan, termasuk masyarakat ekonomi menengah. Penumpang Transjakarta pun tercatat sebagai peningkatan signifikan dibandingkan Mei 2025, dengan kenaikan 6,98 persen. Hal ini bisa dipengaruhi oleh kebijakan pengurangan tarif atau peningkatan rute baru yang diresmikan sepanjang tahun 2025.

Meski demikian, tren bulanan mengisyaratkan adanya penurunan jumlah penumpang. Pada bulan Mei 2026, data menunjukkan bahwa MRT Jakarta mengalami penurunan sebesar 0,55 persen, LRT Jakarta menurun 0,28 persen, sementara Transjakarta turun hampir 6,16 persen. Penurunan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pembatasan jam operasional akibat kelembapan tinggi, atau pengaruh libur nasional yang berdampak pada mobilitas masyarakat. Kadarmanto menyebutkan bahwa kenaikan tahunan tetap menjadi penekanan utama, meski fluktuasi bulanan memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Peningkatan jumlah penumpang di bulan Mei 2026 menunjukkan adanya kemajuan dalam penggunaan transportasi umum di Jakarta. Dengan jumlah penumpang yang terus bertambah, sistem transportasi ini diharapkan mampu mengurangi beban lalu lintas di jalan raya, terutama di area padat penduduk. Namun, untuk memaksimalkan dampaknya, pemerintah perlu terus memperbaiki fasilitas dan pelayanan agar masyarakat lebih nyaman menggunakan alat transportasi massal. Peningkatan keberlanjutan dan efisiensi juga menjadi kunci utama dalam menjaga daya tarik pengguna.

Transjakarta, yang memiliki jaringan terluas, menjadi pilar utama dalam menunjang kebutuhan transportasi masyarakat Jakarta. Jumlah penumpangnya yang mencapai 35 juta lebih pada Mei 2026 menggambarkan adanya kepercayaan yang lebih besar terhadap layanan ini. Kenaikan 11,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan perbaikan dalam frekuensi layanan dan kualitas pengalaman pengguna. Namun, perlu diperhatikan bahwa penurunan bulanan sebesar 6,16 persen menunjukkan adanya perubahan kebiasaan atau faktor eksternal yang memengaruhi penggunaan Transjakarta.

Bagi masyarakat Jakarta, kenaikan jumlah penumpang pada Mei 2026 memberikan harapan baru bahwa transisi ke transportasi umum lebih masif akan terus berlanjut. Peningkatan ini juga berdampak positif pada lingkungan, karena penggunaan transportasi umum diharapkan mampu mengurangi emisi karbon dan kerusakan lingkungan akibat kendaraan pribadi. Namun, untuk mencapai efisiensi maksimal, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat.

Penggunaan MRT Jakarta yang naik 5,03 persen mencerminkan peningkatan keandalan layanan tersebut, terutama setelah pemberian kenyamanan tambahan seperti peningkatan fasilitas kesehatan atau keamanan. Meski jumlah penumpangnya lebih rendah dibandingkan Transjakarta, MRT tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan selatan Jakarta. Kenaikan ini pun menjadi bukti bahwa kebijakan pemerintah dalam pengembangan transportasi umum berdampak nyata pada mobilitas warga.

Dari data yang dirilis BPS DKI Jakarta, jelas terlihat bahwa keberhasilan penggunaan transportasi umum tidak hanya bergantung pada jumlah penumpang, tetapi juga pada kebijakan pengelolaan yang tepat. Dengan adanya peningkatan tahunan di ketiga moda tersebut, pemerintah harus terus memperkuat sistem transportasi untuk mencegah penurunan bulanan dan menjaga konsistensi kinerja. Konsistensi ini sangat penting, terutama untuk menunjang dinamika kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Peningkatan jumlah penumpang transportasi umum di Jakarta pada Mei 2026 juga bisa dianggap sebagai langkah awal menuju visi kota yang lebih hijau dan ramah lingkungan. Dengan semakin banyak warga beralih ke alat transportasi umum, Jakarta dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pribadi, yang sebelumnya menjadi penyebab utama kemacetan dan polusi udara. Namun, perlu ada kebijakan tambahan untuk memastikan hal ini terus berjalan stabil dan berkelanjutan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jakarta di Google News untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan terkini tentang perkembangan transportasi umum di kota metropolitan ini.

MORE FROM THIS CATEGORY