Karhutla di Lahan Gambut OKI Belum Jinak, Helikopter Water Bombing Dikerahkan Padamkan Api

1 bulan ago  ·  3 min read
By Patricia Jones - pesonatropis.com
6ca42831-0efb-41c8-9ec3-879cedcb688a-0

Karhutla di Lahan Gambut OKI Belum Jinak, Helikopter Water Bombing Dikerahkan Padamkan Api

Api di Desa Sumber Hidup Masih Merayap, Penanganan Dilakukan dari Udara dan Darat

Pesonatropis.com – Sejak Kamis, 2 Juli 2026, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, terus menjadi sorotan. Meski berbagai langkah pemadaman telah diambil, khususnya dengan penerbangan helikopter water bombing, api yang melahap lahan gambut di Desa Sumber Hidup, Kecamatan Pedamaran Timur, masih belum bisa diatasi sepenuhnya. Lokasi kebakaran terus berkembang, mengancam area sekitar yang menjadi tempat tinggal warga sekitar.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan bahwa api kini memakan sekitar 6 hektare lahan masyarakat. Medan yang cukup sulit, seperti kekeringan dan struktur tanah gambut yang mudah terbakar, menjadi penghalang utama dalam upaya pemadaman. Ferdian menambahkan, perubahan arah angin dan kepulan asap yang menggelayut membuat pekerjaan di lapangan semakin kompleks.

“Api masih belum padam, sehingga diperlukan langkah penanganan lebih lanjut. Kondisi angin yang tidak stabil membuat pemanasan di lokasi lebih sulit,” ujar Ferdian.

Kebakaran pertama kali terdeteksi oleh patroli udara yang memantau area rawan kebakaran. Setelah titik api terkonfirmasi, tim gabungan langsung turun ke lapangan untuk mengendalikan kobaran api. Pemadaman dilakukan dengan kombinasi alat berat dan manusia, tetapi hambatan alami seperti arah angin dan asap tebal masih menggangu efektivitas operasi.

Untuk mempercepat penanganan, jumlah personel Manggala Agni ditingkatkan. Sebelumnya, operasi melibatkan 11 anggota dari unit Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI, 60 personel Regu Pemadaman Kebakaran (RPK) PT PSM, serta 2 orang dari Polsek Pedamaran Timur, 3 anggota TNI, dan 3 warga yang bergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA). Kini, jumlah anggota yang terlibat telah bertambah menjadi 45, termasuk penambahan dari sumber lain untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.

Pemadaman di lokasi ini memerlukan koordinasi yang rapat antara berbagai instansi. Helikopter water bombing, yang merupakan bagian dari operasi udara, digunakan untuk menyiram area yang sulit dijangkau. Namun, meski teknologi ini efektif, penggunaannya terbatas karena kondisi medan dan kepadatan asap yang menyelimuti kawasan. Ferdian menjelaskan bahwa kekeringan di lahan gambut memperparah situasi, karena tanah jenis ini mudah terbakar dan sulit dikendalikan.

Tim gabungan terus bekerja ekstra untuk menekan penyebaran api. Sementara itu, penduduk setempat juga berperan aktif dalam upaya pemadaman. Beberapa warga ikut membantu memadamkan api dengan alat sederhana, sementara yang lain berusaha mengungsikan hewan ternak dan peralatan pertanian. Ferdian mengapresiasi partisipasi masyarakat, tetapi mengingatkan bahwa perlunya dukungan lebih dari pemerintah untuk menjamin keberhasilan operasi.

Pemadaman di OKI dilakukan dalam rangka mencegah dampak lebih besar terhadap lingkungan dan masyarakat. Kebakaran hutan bukan hanya mengancam kehidupan flora dan fauna, tetapi juga mengurangi kualitas udara di sekitar. Asap yang menggelayut dapat menyebabkan gangguan pernapasan, terutama bagi warga yang tinggal di dekat kawasan terbakar. Ferdian menyebut bahwa selama dua hari terakhir, kondisi cuaca dan angin terus berubah, sehingga memperumit upaya memadamkan api.

Beberapa upaya tambahan telah diambil, seperti menambahkan alat berat untuk mengangkat tanah gambut yang terbakar dan membangun jalur pemadaman. Namun, penyebaran api yang mempercepat akibat angin dari arah yang berbeda membuat lokasi pemadaman terus berpindah. Ferdian mengatakan bahwa kebakaran ini menunjukkan pentingnya monitoring rutin dan siap sedia sumber daya pemadaman di daerah rawan.

Sebagai langkah preventif, pemerintah setempat juga sedang mengevaluasi kebijakan pengelolaan lahan gambut. Ferdian menyoroti bahwa kawasan tersebut rentan terbakar, terutama jika tidak ada kelembapan yang cukup. Selain itu, faktor cuaca seperti kemarau panjang dan angin kencang menjadi penyebab utama terjadinya Karhutla. “Dengan adanya pengendalian yang lebih baik, kita bisa mengurangi risiko kebakaran di masa depan,” tambahnya.

Kebakaran di OKI juga memicu kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dan sosial. Lahan gambut yang terbakar merupakan sumber penghasil kayu dan lahan pertanian bagi warga sekitar. Ferdian mengingatkan bahwa kebakaran yang terus berlangsung bisa mengganggu aktivitas ekonomi dan menyebabkan kerugian yang signifikan. Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya mengendalikan api sebelumnya meluas ke area lain.

Operasi pemadaman terus berjalan meski tantangan semakin berat. Helikopter water bombing dan tim darat terus bekerja beriringan untuk memadamkan api. Ferdian menuturkan bahwa pengendalian Karhutla memerlukan waktu, karena proses ini tidak hanya bergantung pada jumlah personel, tetapi juga pada

MORE FROM THIS CATEGORY