BPS: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Picu Inflasi
Pesonatropis.com – BPS – Menurut data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi selama bulan Juni 2026 berdampak pada tingkat inflasi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa dua kali penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juni 2026 telah memengaruhi indikator harga secara signifikan. Dalam penjelasannya, Ateng menekankan bahwa kenaikan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi pada kelompok transportasi mencapai 2,29 persen secara bulanan (mtm) pada bulan tersebut, dengan kontribusi sebesar 0,28 persen.
Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi pada Juni 2026
Dua kali perubahan harga BBM nonsubsidi dalam bulan Juni 2026 menjadi perhatian karena dampaknya terhadap indeks harga konsumen. Pertama, pada 1 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga untuk tiga jenis BBM, yaitu Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53). Pertamax Turbo mengalami kenaikan sebesar Rp850 atau 4 persen, sementara Dexlite dan Pertamina Dex mengalami penurunan harga sebesar Rp3.100 atau 12 persen, serta Rp3.150 atau 11 persen, masing-masing.
Perubahan ini terjadi sebagai respons terhadap berbagai faktor ekonomi, termasuk tekanan dari kenaikan biaya produksi dan perubahan kondisi pasar. Meski beberapa jenis BBM mengalami penurunan, dampak akhirnya terasa pada inflasi secara keseluruhan. Ateng mengungkapkan bahwa kenaikan harga bensin menjadi pemicu utama untuk kelompok transportasi, dengan kontribusi yang nyata terhadap tingkat inflasi.
Penyesuaian Harga BBM Kedua pada 10 Juni 2026
Di hari kedua perubahan harga BBM, yaitu pada 10 Juni 2026, PT Pertamina kembali mengubah harga Pertamax (RON 92) dengan kenaikan sebesar Rp4.050 atau 32 persen. Penyesuaian ini mencerminkan kebijakan harga yang lebih fleksibel, seiring dengan pergeseran permintaan konsumen dan dinamika pasokan energi. Kenaikan signifikan pada Pertamax RON 92 menambah tekanan inflasi, terutama dalam segmen transportasi yang menjadi bagian utama dari kategori tersebut.
Ateng menambahkan bahwa meskipun kenaikan harga bensin adalah faktor utama, terdapat komponen lain yang memperkuat angka inflasi. Diantaranya adalah kenaikan tarif angkutan udara dan perubahan harga pelumas atau oli mesin. Kenaikan tarif angkutan udara terutama disebabkan oleh meningkatnya permintaan seiring adanya periode libur sekolah di bulan Juni. Sementara itu, perubahan harga pelumas menunjukkan adanya tekanan permintaan dari sektor industri dan transportasi.
Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026
Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Juni 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 0,44 persen secara bulanan (mtm), naik dari angka 111,40 di bulan Mei 2026 menjadi 111,89. Kenaikan IHK ini mencerminkan kenaikan harga beberapa komoditas penting, termasuk BBM nonsubsidi, tarif angkutan udara, dan pelumas mesin. Dalam kategori transportasi, inflasi tercatat sebesar 2,29 persen, yang berkontribusi 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Menurut Ateng, kelompok transportasi memang menjadi salah satu kategori yang memberikan kontribusi signifikan. Namun, terdapat kategori lain yang juga berkontribusi, seperti makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mencatatkan inflasi sebesar 0,20 persen secara bulanan, dengan andil sebesar 0,06 persen. Meski kontribusinya lebih kecil dibandingkan transportasi, pengaruhnya tidak bisa diabaikan terutama dalam konteks kenaikan harga kecil namun berkelanjutan.
Analisis Kontribusi Komoditas Terhadap Inflasi
Kenaikan harga BBM nonsubsidi dianggap sebagai peristiwa utama yang berdampak pada tingkat inflasi. Ateng menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax Turbo dan Pertamax RON 92, memiliki dampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat. Kenaikan harga bensin memaksa konsumen memperbarui biaya transportasi, yang kemudian memengaruhi inflasi secara keseluruhan.
Selain BBM, tarif angkutan udara juga berkontribusi pada inflasi. Peningkatan permintaan tiket pesawat selama masa libur sekolah memicu kenaikan harga transportasi udara sebesar 0,05 persen. Sementara itu, pelumas atau oli mesin memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen. Meski kontribusinya tergolong kecil, perubahan harga ini menunjukkan adanya tekanan pada biaya operasional kendaraan dan alat industri.
Pengaruh Kebijakan Harga BBM Nonsubsidi
Kebijakan harga BBM nonsubsidi yang diumumkan oleh Pertamina memicu reaksi berbagai sektor. Dalam jangka pendek, kenaikan harga Pertamax Turbo dan Pertamax RON 92 berdampak pada daya beli masyarakat, terutama di daerah dengan mobilitas tinggi. Namun, dalam jangka panjang, kenaikan ini juga berpotensi memperkuat kebijakan subsidi yang lebih terarah.
Ateng menekankan bahwa inflasi yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh BBM, tetapi juga oleh faktor-faktor lain seperti permintaan pasar, ketersediaan barang, dan kondisi ekonomi makro. Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu memantau berbagai komponen yang berkontribusi pada inflasi untuk menjamin stabilitas harga dalam waktu yang lebih lama.
Kontribusi Kelompok Transportasi pada Inflasi Nasional
Kelompok transportasi tercatat sebagai salah satu kategori dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi Juni 2026. Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terjadi dalam dua periode memberikan dampak langsung terhadap biaya transportasi, yang kemudian memengaruhi angka inflasi nasional. Dalam penjelasannya, Ateng menyatakan bahwa kelomp

