Selat Nusa Penida Bali Dibidik Jadi Percontohan Pembangkit Listrik Arus Laut

1 bulan ago  ·  4 min read
By Nancy Garcia - pesonatropis.com
09acf19f-8db5-44bb-88fc-b4bb16f3d862-0

Percontohan Pembangkit Listrik Arus Laut di Selat Nusa Penida Jadi Prioritas Bali Mandiri Energi

Pesonatropis.com – Pemerintah Provinsi Bali terus memperkuat langkah-langkah konkret untuk mewujudkan visi Bali Mandiri Energi. Dalam upaya ini, pihaknya membidik potensi energi arus laut di Selat Nusa Penida sebagai lokasi utama pengembangan proyek percontohan yang bisa menjadi model bagi daerah lain. Hal ini diungkapkan dalam acara Sosialisasi Pre-Feasibility Study (Pra-Studi Kelayakan) Proyek Percontohan Energi Laut Terbarukan yang berlangsung di Four Star by Trans Hotel, Denpasar, Selasa (30/6). Kebijakan strategis ini sejalan dengan implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih, yang mengharuskan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) di berbagai sektor.

EBT sebagai Pilar Pembangunan Berkelanjutan

Dalam pidatonya, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menjelaskan bahwa EBT telah menjadi bagian integral dari kebijakan pemerintah daerah. “Gubernur Bali sangat berkomitmen mendukung penggunaan energi terbarukan, mulai dari pengembangan kendaraan listrik hingga wajibnya instalasi PLTS atap untuk instansi pemerintah, perusahaan, dan industri pariwisata,” kata Dewa Made Indra. Ia menekankan bahwa penggunaan energi arus laut bukan hanya sekadar potensi, tetapi juga solusi nyata untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi karbon.

“Salah satu kebijakan strategis pemerintah adalah mewujudkan Bali Mandiri Energi. Gubernur berkomitmen penuh mendukung penggunaan EBT, mulai dari implementasi kendaraan listrik hingga kewajiban pemanfaatan PLTS atap untuk instansi pemerintah, swasta, dan industri pariwisata,” ujar Dewa Made Indra.

Studi kelayakan yang dilakukan oleh USAID-SINAR dan EBTKE-ESDM membuktikan bahwa energi arus laut di Indonesia, khususnya di Bali, memiliki sumber daya yang sangat melimpah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah perairan Bali, terutama Selat Nusa Penida, menjadi salah satu daerah paling potensial untuk pengembangan teknologi pembangkit listrik berbasis arus laut. Tidak hanya itu, studi tersebut juga menyoroti bahwa keberlanjutan energi maritim bisa diwujudkan melalui teknologi yang ramah lingkungan dan minim dampak sosial.

Pemprov Bali mengungkapkan bahwa selain energi arus laut, sejumlah sumber daya EBT lainnya juga sedang dikembangkan. Dari total 300 proyek EBT yang direncanakan, sebanyak 50 di antaranya telah terwujud. Namun, fokus utama masih tertuju pada penggunaan energi maritim karena potensinya yang sangat besar. “EBT menjadi pilar utama dalam upaya transisi energi yang sehat dan berkelanjutan,” tambah Dewa Made Indra. Ia juga menyebutkan bahwa pengembangan ini selaras dengan target pengurangan emisi karbon hingga 30% pada 2030 sebagai bagian dari komitmen Bali sebagai destinasi ekowisata.

Dalam acara tersebut, para peserta dan peneliti mendiskusikan kemungkinan pemanfaatan teknologi arus laut sebagai solusi inovatif dalam kebutuhan energi. Selat Nusa Penida, yang terkenal dengan alam bawah lautnya yang indah, juga memiliki keunggulan geografis yang mendukung penggunaan teknologi ini. Ombak dan arus laut yang konsisten di daerah tersebut menjadi sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan secara optimal. “Kondisi geografis Selat Nusa Penida sangat menjanjikan untuk pengembangan infrastruktur energi terbarukan,” jelas salah satu peserta acara.

Menurut data USAID-SINAR, energi arus laut memiliki keunggulan dibandingkan sumber energi lainnya. Karena beroperasi 24 jam sehari, energi ini bisa menjadi alternatif stabil untuk menggantikan bahan bakar fosil yang seringkali mengalami fluktuasi harga. Selain itu, energi arus laut juga dianggap sebagai salah satu sumber energi terbarukan paling ramah lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara dan air. Pemprov Bali berharap proyek ini bisa memberikan contoh bagaimana daerah pesisir bisa memanfaatkan potensi alamnya tanpa merusak ekosistem bawah laut.

Proyek percontohan ini juga menjadi wadah untuk menguji sejumlah teknologi baru yang bisa digunakan di Bali. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi ini sudah mulai diterapkan di berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Eropa. Namun, Bali menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang serius membidik keberhasilan implementasi energi arus laut. “Kami ingin menunjukkan bahwa Bali bukan hanya destinasi pariwisata, tetapi juga pusat inovasi energi hijau,” terang Dewa Made Indra.

Dalam rangka mempercepat proyek ini, Pemprov Bali juga memberikan dukungan berupa anggaran dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk stakeholder pariwisata dan perusahaan energi. Pemimpin proyek, yang merupakan tim dari Badan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE-ESDM), menyatakan bahwa tahap pra-studi kelayakan ini bertujuan mengidentifikasi lokasi terbaik dan menghitung potensi produksi energi yang mungkin tercapai. “Studi ini bisa menjadi dasar untuk langkah-langkah lebih lanjut, seperti pengadaan lisensi dan investasi dari pihak swasta,” tambahnya.

Dengan keberhasilan proyek ini, Bali bisa menjadi referensi nasional dalam penggunaan energi terbarukan. Selain itu, proyek ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, seperti menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi daerah. “EBT tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan,” papar Dewa Made Indra. Ia menambahkan bahwa pembangunan ini akan dijalankan secara bertahap, dengan prioritas pada daerah yang memiliki akses terbaik ke sumber daya alam terbarukan.

Menurut pihak USAID-SINAR, Selat Nusa Penida memiliki keunggulan karena kondisi laut yang tidak terlalu dalam dan sirkulasi arus yang stabil. Hal ini memudahkan pemasangan alat-alat pembangkit listrik arus laut, yang biasanya memerlukan konstruksi di kedalaman laut yang tidak terlalu jauh. “Teknologi ini bisa dioperasikan dengan biaya rendah dan efisiensi tinggi, terutama di daerah dengan arus yang cukup kuat,” kata ahli yang hadir dalam acara tersebut. Ia menekankan bahwa keberhasilan proyek ini akan mengurangi ketergantungan pada energi import dan menambah keberlanjutan ekosistem bawah laut.

Dengan pengembangan energi arus laut di Selat Nusa Penida, Bali ingin menunjukkan komitmen dalam mencapai target zero net emission pada tahun 2050. Selain itu, proyek ini juga diharapkan bisa menjadi kontribusi signifikan dalam pembangunan kawasan ekowisata yang bertanggung jawab. “Bali ingin menjadi contoh bagaimana daerah pesisir bisa menggabungkan pariwisata dengan penggunaan energi terbarukan,” tutur Dewa Made Indra. Ia menambahkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Bali akan terus mengembangkan berbagai proyek EBT, termasuk energi angin dan surya, untuk menciptakan sistem energi yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News.

MORE FROM THIS CATEGORY