Dokter Icha

1 bulan ago  ·  4 min read
By William Garcia - pesonatropis.com
3136c087-9bca-4b73-ae03-e775ba1ea868-0

Dokter Icha

Pesonatropis.com – What You Need to Know – Dalam perjalanan menuju Buffalo yang saya lalui ini, suasana alam terasa begitu indah dan memikat. Namun, selama perjalanan, lima berita duka menghiasi layar ponsel saya, menggantikan keindahan pemandangan dengan perasaan sedih yang dalam. Salah satu dari mereka adalah kisah dokter Icha, yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri setelah menghadapi tekanan dari dua anggota DPRD di NTT. Berita ini memicu pertanyaan: bagaimana seorang dokter terkenal bisa merasa terluka hingga mengambil langkah ekstrem?

Bu Muslimah, Meninggal di Belitung

Kemudian ada berita tentang Bu Muslimah, tokoh legendaris yang pernah menjadi peran utama dalam film *Laskar Pelangi*. Ia meninggal dunia di Belitung, sebuah kota yang juga dikenal sebagai tempat bersejarah bagi perjuangan kemerdekaan. Meski telah berumur panjang, kisahnya tetap mengejutkan, karena kepergiannya terasa seperti akhir dari sebuah perjalanan yang penuh makna. Berita tentang kematian Bu Muslimah muncul seiring perjalanan yang menyusuri Connecticut ke Buffalo, mengingatkan saya pada kehilangan yang sering datang tanpa peringatan.

Sementara itu, seorang tetangga dekat rumah lama saya meninggal dunia hanya sebulan setelah ia bercerita tentang harapan akan segera masuk surga. Ia menyatakan, “Aku pasti langsung ke surga, karena udah terlalu lama di neraka.” Kalimat itu dulu hanya sekadar bercanda, tapi kini menjadi kenangan yang menyayat hati. Ia adalah Prof. Anton Prijatno SH, tokoh utama Yayasan Universitas Surabaya (Ubaya), yang juga pernah menjabat sebagai rektor di kampus tersebut. Kepergiannya membawa rasa kehilangan yang kompleks, karena ia dikenang sebagai kader Golkar yang sangat setia.

“Sudah lama di neraka,” kata orang terdekatnya, Kolonel Purnama Moh Said, yang dulu menjadi ketua partai tersebut. Istilah itu mencerminkan tekanan berat yang dialami Prof. Anton, terutama karena hubungannya dengan seorang tokoh militer yang keras. Kol Purn (Alm) Moh Said, yang tetap menjadi pengambil keputusan utama, memicu berbagai konflik yang berujung pada kematian sang rektor.

Berita tentang Ubaya juga muncul di sepanjang perjalanan. Sejarah kampus ini menyerupai kisah Trisakti di Jakarta, dengan perubahan nama dan pemilik yang terjadi sebagai korban Orde Baru. Ubaya dulu terkait dengan satu aliran Tionghoa yang menjadi fokus kritik pada masa Orde Lama. Ketegangan tersebut memperlihatkan bagaimana kekuasaan bisa memengaruhi perjalanan institusi pendidikan.

Empat Kematian di Latihan Militer

Dalam rangkaian duka ini, ada juga kejadian lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang meninggal dunia saat mengikuti latihan militer. Insiden tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan para peserta dan dampaknya terhadap masyarakat yang mempercayai mereka sebagai pilihan lokal. Kematian mereka tidak hanya menjadi kehilangan individu, tapi juga menggambarkan tekanan yang mungkin dialami oleh para kader di tengah kompetisi politik dan administratif.

Perjalanan ke Buffalo juga mengingatkan saya pada nasib para penyandang duka yang terkadang muncul di sela-sela kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang tetangga dekat rumah lama saya yang memperoleh kejutan dengan berita kematian sebulan setelah mengungkapkan harapan akan langit baru. Ia memang sosok yang selalu penuh semangat, tapi kini kehidupan yang ia kehendaki ternyata tidak berlangsung lama.

Sementara itu, kejadian kematian Bu Muslimah di Belitung memberikan gambaran tentang bagaimana kehidupan bisa berubah drastis. Ia dikenang sebagai tokoh yang membangun peradaban pendidikan di daerahnya, namun kini nama besar itu lenyap bersamaan dengan kepergiannya. Film *Laskar Pelangi* yang menjadi kenangan kolektif, kini hanya meninggalkan rasa sedih yang memperlihatkan bagaimana kehidupan seorang penyair bisa berakhir secara tak terduga.

Kisah Ubaya dan Trisakti

Kisah Ubaya memang tak terlepas dari sejarah nasional Indonesia. Mirip dengan Trisakti di Jakarta, kampus ini pernah berubah nama dan pemiliknya sebagai hasil dari tekanan Orde Baru. Perubahan itu bukan hanya simbolik, tapi juga menandai pergeseran kontrol politik yang mengubah arah pengembangan institusi pendidikan. Dulu, Ubaya dikaitkan dengan satu aliran Tionghoa, sebuah kritik yang sekarang mungkin sudah lama berlalu, tapi kesan trauma masih terasa.

Di sisi lain, keindahan alam Connecticut dan Buffalo terasa jauh lebih menonjol di tengah suasana sedih yang menggantung. Saat melewati sungai Susquehanna yang meliuk indah, saya menyadari panjangnya lebih dari 700 kilometer. Airnya jernih dan tenang, seolah menjadi simbol ketenangan yang berlawanan dengan kekacauan di sekitar saya. Kini, terdapat keinginan untuk membaca kembali berita-berita tentang kehidupan yang hilang di perjalanan itu, sekaligus menikmati keindahan alam yang justru menjadi pengingat akan kehidupan dan kematian.

Sebagai kesimpulan, perjalanan Connecticut-Buffalo ini menyimpan duka yang dalam dan keindahan yang mengagumkan. Setiap langkah menyusuri jalan mengingatkan saya pada hubungan antara kehidupan manusia dan alam. Di satu sisi, kisah dokter Icha, Bu Muslimah, dan para calon manajer Merah Putih menunjukkan betapa rentannya manusia di bawah tekanan. Di sisi lain, sungai Susquehanna dan pemandangan sekitarnya memperlihatkan bahwa keindahan alam tetap mengalir, tak tergantung pada berita-berita yang mengejutkan.

Karena itulah, saya mencoba mencermati perjalanan ini dengan hati yang lebih terbuka. Duka dan kegembiraan, seperti dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Sejarah Ubaya, yang menyerupai Trisakti, mengingatkan saya pada perjuangan pendidikan yang terus-menerus menghadapi tekanan. Tapi di tengah itu, ada kejutan kecil: sungai Susquehanna yang panjang dan jernih

MORE FROM THIS CATEGORY