Proyek Padel di Keputih Diprotes Petani Tambak, Pengembang Buka Suara Soal Legalitas
Proyek Padel di Keputih Diprotes Petani – Sebuah proyek pembangunan lapangan padel di wilayah Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, tengah menimbulkan kontroversi. Petani tambak setempat mengeluhkan adanya penggunaan lahan yang diduga menyentuh sungai serta sempadan air di sekitarnya. Sementara itu, pihak pengembang menegaskan bahwa proyek tersebut telah memenuhi persyaratan legalitas. Dalam wawancara terpisah, Project Director Grand Eastern Johan Prajitno menjelaskan bahwa pembangunan berjalan sesuai dengan izin yang diperoleh.
Legalitas Proyek Diakui Pengembang
Johan Prajitno mengatakan, proyek pembangunan lapangan padel berlangsung di atas lahan milik perusahaan. “Kami membangun sesuai dengan hak kepemilikan yang dimiliki, serta perizinan yang berlaku,” ujarnya saat dihubungi pada Jumat (29/5). Menurutnya, lahan yang digunakan telah memiliki sertifikat jelas dan telah melewati proses verifikasi oleh instansi terkait. “Tidak ada kesalahan dalam hal legalitas, karena semua sudah sesuai dengan aturan,” tambah Johan.
Pengembang menekankan bahwa proyek ini tidak hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga melibatkan pengelolaan lingkungan yang terencana. Mereka menyatakan telah mengajukan berbagai dokumen kecil dan besar untuk mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah serta lingkungan sekitar. Johan juga menjelaskan bahwa proyek ini bertujuan untuk meningkatkan fasilitas olahraga di Surabaya, dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan.
Petani Tambak Mengeluhkan Pengaruh pada Ekosistem
Sebelumnya, petani tambak di wilayah Keputih mengeluhkan proyek ini karena merasa dampaknya mengganggu ekosistem air. Mereka menyatakan bahwa lahan yang dibangun mengalami pengambilan tanah yang diduga menyentuh aliran sungai dan daerah sempadan. Kondisi ini berpotensi mengurangi volume air, serta mengganggu kehidupan ikan dan tanaman yang ada di sekitar lokasi.
Dalam pernyataannya, Johan Prajitno mengakui adanya kesalahan yang terjadi pada awal pembangunan. Ia menjelaskan bahwa karena posisi lahan yang dekat dengan sungai, ada kejadian kelalaian saat proses konstruksi. “Saat pembangunan dimulai, ada bagian yang terlalu dekat dengan aliran air, tetapi setelah itu kami segera melakukan penyesuaian,” ujarnya.
Menurut Johan, penyesuaian tersebut melibatkan perubahan bentuk lahan, serta pemindahan area konstruksi ke lokasi yang lebih aman. Proses penyesuaian dilakukan berdasarkan perizinan yang telah diperoleh. “Setelah perubahan tersebut, semua berjalan sesuai dengan rencana, dan tidak ada konflik lagi,” tambahnya. Ia juga menegaskan bahwa proyek ini tidak menimbulkan masalah hukum, karena seluruh dokumen telah diperiksa dan disetujui.
Kontroversi Berlanjut, Perlu Komunikasi Lebih Baik
Sementara itu, para petani tambak menilai bahwa pihak pengembang perlu melakukan komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat sekitar. Mereka berharap ada pertemuan terbuka untuk membahas dampak jangka panjang proyek tersebut. “Kami berharap ada kesepakatan bersama, agar proyek ini bisa memberikan manfaat tanpa mengorbankan kepentingan kita,” ujar salah satu petani.
Johan Prajitno mengakui bahwa pihak pengembang masih perlu memperbaiki komunikasi dengan masyarakat. Ia menyatakan akan mengadakan pertemuan untuk menjelaskan lebih jelas tentang perizinan dan pengelolaan lahan. “Kami bersedia mendengarkan keluhan mereka, dan bersedia menyesuaikan jika ada kekurangan dalam proses kami,” jelasnya.
Proyek ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk masyarakat, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial. Lapangan padel dianggap sebagai fasilitas olahraga yang bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat Surabaya. Namun, para petani menilai bahwa proyek ini juga perlu memperhatikan dampak lingkungan dan keberlanjutan daerah pertanian.
Menurut Johan, pihak pengembang telah berupaya maksimal untuk memastikan proyek ini berjalan lancar dan sesuai dengan aturan. Ia menegaskan bahwa seluruh proses telah dilakukan dengan transparan, dan dokumen legalitas juga bisa dipertanggungjawabkan. “Kami yakin bahwa proyek ini memberikan kontribusi positif bagi daerah, selama ada kesepakatan bersama dengan masyarakat,” ujarnya.
Perlu Kesadaran Bersama dalam Pembangunan
Kontroversi ini menjadi contoh bagaimana pentingnya kesadaran masyarakat dalam pembangunan. Johan Prajitno mengajak para petani untuk bersikap lebih terbuka terhadap proyek yang bisa memberikan dampak ekonomi. “Kami juga ingin menolong masyarakat, selama ada keselarasan dalam tujuan,” katanya.
Sementara itu, para petani masih menginginkan jaminan bahwa proyek ini tidak akan mengganggu kegiatan pertanian mereka. Mereka berharap ada kesepakatan yang bisa menyeimbangkan antara kebutuhan masyarakat dan perlindungan lingkungan. “Kami memohon agar ada pertimbangan lebih matang, agar proyek ini bisa berjalan harmonis,” ujar salah satu perwakilan petani.
Dengan adanya proyek padel ini, muncul pertanyaan apakah pihak pengembang sudah memenuhi semua syarat yang dibutuhkan masyarakat. Johan Prajitno menjelaskan bahwa proses perizinan telah memperhatikan berbagai aspek, termasuk keselamatan lingkungan. “Kami sudah mengajukan izin kawasan, dan semua perencanaan dilakukan dengan hati-hati,” ujarnya.
Kontroversi yang terjadi di Keputih menunjukkan bahwa proyek pembangunan tidak hanya memerlukan izin administratif, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Johan Prajitno mengatakan bahwa pihak pengembang bersedia menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat. “Kami akan terus berusaha agar proyek ini bisa berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak,” pungkasnya.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News
