Program Permata Dorong Kemandirian Perempuan Prasejahtera di Banyumas
Kecamatan Cilongok Jadi Lokasi Peluncuran Inisiatif Baznas
Pesonatropis.com – Baznas meluncurkan program Permata, yang bertujuan meningkatkan kemandirian perempuan prasejahtera, di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Acara peluncuran bertepatan dengan kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, ke daerah tersebut pada Kamis (25/6/). Program ini dicanangkan sebagai bagian dari upaya percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem, dengan fokus pada pemberdayaan perempuan sebagai agent perubahan ekonomi.
Program Permata menyasar 30 kepala keluarga (KK) perempuan yang berada dalam kondisi ekonomi rentan. Total bantuan yang disediakan mencapai Rp194,84 juta, yang digunakan untuk mendukung kegiatan usaha peternakan ayam. Wakil Ketua Baznas, Zainut Tauhid Sa’adi, mengatakan inisiatif ini mencerminkan komitmen Baznas dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan tingkat kemiskinan di Banyumas. “Komitmen Baznas terhadap program pemerintah untuk percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem semakin ditegaskan melalui Permata,” terang Zainut dalam pernyataan resmi.
“Banyumas memiliki konsentrasi penduduk miskin yang cukup tinggi, sehingga Permata diharapkan menjadi solusi strategis dalam meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan prasejahtera,” ujar Zainut dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/).
Dalam program ini, para peserta akan diberikan modal usaha untuk membangun usaha peternakan ayam secara berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan mencakup pelatihan teknis, akses ke bahan baku, serta pemberdayaan komunitas melalui pengelolaan sumber daya lokal. Zainut menekankan bahwa inisiatif tersebut bukan hanya memberikan bantuan sekali saja, tetapi juga membangun kapasitas perempuan untuk berdiri sendiri di tengah tantangan ekonomi.
Baznas RI tidak sendirian dalam mendorong program ini. Baznas Kabupaten Banyumas memberikan dukungan anggaran pendamping sebesar Rp240 juta, yang digunakan untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan. Dana tersebut terutama dialokasikan untuk penyediaan peralatan produksi, seperti mesin tetas, di 12 desa lainnya di Banyumas. Dengan adanya fasilitas tersebut, perempuan yang terlibat diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil ternak mereka.
Usaha peternakan ayam dianggap sebagai strategi yang tepat karena memerlukan modal relatif kecil namun bisa memberikan keuntungan berkelanjutan. Dalam konteks Banyumas, yang tergolong daerah dengan potensi pertanian dan peternakan tinggi, program ini menjadi wadah untuk menyalurkan bantuan secara tepat sasaran. Selain itu, program juga memperhatikan aspek keberlanjutan, dengan memastikan para perempuan memiliki pengetahuan teknis dan akses ke pasar yang stabil.
Peluncuran program Permata menunjukkan bahwa Baznas aktif menggandeng pihak-pihak terkait untuk menciptakan solusi berbasis komunitas. Zainut menjelaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif perempuan, serta dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. “Kami berharap program ini menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan perempuan dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga secara holistik,” tambahnya.
Di sisi lain, program ini juga memberikan ruang bagi perempuan untuk mengakses pelatihan teknologi pertanian modern. Dengan teknik seperti penggunaan mesin tetas, mereka bisa meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual. Selain itu, Baznas menyiapkan program pendampingan berkelanjutan, seperti bimbingan pengelolaan keuangan dan koneksi dengan pelaku usaha skala kecil.
Perempuan yang terpilih dalam program ini memiliki kriteria khusus, yaitu usia produktif dan tingkat pendapatan di bawah ambang kemiskinan. Dengan bantuan awal sebesar Rp194,84 juta, mereka akan dibina selama beberapa bulan hingga dapat membangun usaha mandiri. Anggaran tambahan dari Baznas Banyumas, senilai Rp240 juta, memastikan program ini bisa berjalan optimal di seluruh wilayah yang dituju.
Menurut Zainut, program Permata juga bertujuan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. “Perempuan prasejahtera sering kali mengalami kesulitan mengakses sumber daya, oleh karena itu kita memberikan paket bantuan yang menyeluruh,” jelasnya. Selain itu, program ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, terutama di daerah-daerah yang masih terpencil.
Dengan adanya mesin tetas di 12 desa, para peserta bisa memproduksi telur secara lebih efisien dan menjangkau pasar yang lebih luas. Hal ini memungkinkan perempuan untuk memperluas skala usaha, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga mereka. Pemilihan desa-desa yang tergolong kurang berkembang dipertimbangkan agar bantuan bisa sampai ke masyarakat yang paling membutuhkan.
Program ini menjadi bagian dari kebijakan nasional Baznas dalam menjawab tantangan kemiskinan. Dengan menargetkan perempuan sebagai sektor yang rentan, Baznas ingin menciptakan momentum perubahan ekonomi yang berdampak luas. Selain itu, program juga memperkuat sinergi antara Baznas dengan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan nasional pengentasan kemiskinan.
Zainut menambahkan, keberhasilan program Permata akan menjadi bahan evaluasi untuk inisiatif serupa di daerah lain. “Kami berharap keberhasilan di Banyumas bisa menjadi referensi bagi wilayah-wilayah yang memiliki situasi serupa,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi lokal.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News.

