Bernadya Mengajak Nostalgia Lewat Pop-up Zone Semoga Hanya di Mimpi
Pesonatropis.com – Pada 27 dan 28 Juni 2026, penyanyi bernama Bernadya mengadakan acara pop-up zone dengan nama Semoga Hanya di Mimpi di Main Atrium, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk merayakan peluncuran album keduanya yang baru saja diterbitkan oleh JUNI Records, dengan judul yang sama, Semoga Hanya di Mimpi. Pop-up zone ini dirancang sebagai pengalaman langsung yang menghadirkan atmosfer dan konsep dari album tersebut ke dunia nyata.
Penjelasan Bernadya tentang Konsep Album
Bernadya mengungkapkan antusiasmenya dengan mengatakan, “Sangat bersemangat, semuanya bisa merasakan universe yang saya bangun dalam album Semoga Hanya di Mimpi. Seolah-olah mereka mengalami perasaan yang saya sampaikan melalui lagu-lagu ini,” kata Bernadya. Ia menjelaskan bahwa album ini bertujuan menciptakan sebuah ruang imajinatif yang mampu membangkitkan kenangan akan masa kecil para pendengarnya.
“Semua elemen dalam album ini dirancang untuk menggambarkan zamannya 2000an, seperti cara berpakaian, musik, hingga bahasa yang digunakan. Saya ingin pendengar bisa merasakan bagaimana atmosfer itu menyebar ke hidup nyata,” tutur Bernadya.
Dalam acara pop-up zone, pengunjung diberikan kesempatan untuk menyatu dengan dunia musik Bernadya. Tidak hanya sebagai pengenalan album, kegiatan ini juga bertujuan menghidupkan kembali nostalgia yang terasa hangat dan familiar. Bernadya berharap melalui konsep ini, para penggemarnya bisa merasakan kembali kehangatan masa kecil mereka, yang kini dianggap sebagai bagian dari cinta dan keinginan yang terkandung dalam lagu-lagunya.
Upaya JUNI Records dalam Merayakan Peluncuran Album
Adryanto Pratono, CEO JUNI Records, menjelaskan bahwa pop-up zone ini bertujuan mengaktifkan kembali nuansa dan konsep album Bernadya yang baru saja diluncurkan. “Kami ingin menghidupkan kembali elemen-elemen album ini secara langsung di dunia nyata, karena album bagi Bernadya adalah cerita lengkap dalam bentuk packaging. Album ini berbicara melalui karya-karyanya sendiri, dan kami sebagai label ingin memastikan pendengar bisa lebih memahami latar belakang dan dunia ini,” tutur Boim, sapaan akrab Adryanto.
“Kami percaya bahwa musik bukan hanya tentang suara, tetapi juga tentang pengalaman. Pop-up zone ini adalah langkah untuk membawa dunia Semoga Hanya di Mimpi ke ruang fisik, sehingga para penggemar bisa merasakan bagaimana album ini membangkitkan kenangan dan emosi yang sama seperti ketika mereka mendengarkannya pertama kali,” kata Adryanto.
Album Bernadya – Semoga Hanya di Mimpi memang mengusung konsep nostalgia yang kental. Setiap lagu dan desain visualnya dipenuhi dengan elemen yang membangkitkan kenangan akan masa kecil, seperti kehidupan di desa, bercanda dengan teman-teman, atau tawa yang tak terbatas. Dalam pop-up zone, pengunjung dibawa ke dunia yang terasa seperti masa lalu, dengan dekorasi, musik, dan aktivitas yang dirancang secara detail.
Acara ini juga menjadi kesempatan bagi Bernadya untuk mengeksplorasi cara baru dalam mempromosikan musiknya. Dengan memadukan teknologi dan seni visual, JUNI Records berharap bisa menciptakan pengalaman yang berbeda dari cara biasa peluncuran album. Pop-up zone tidak hanya sebagai event musik, tetapi sebagai komunikasi yang lebih personal dan menyentuh.
Adryanto menambahkan, “Kami menghadirkan berbagai elemen yang ada di album ini ke ruang fisik, agar audiens bisa merasakan bagaimana musik Bernadya menggambarkan kehidupan zaman 2000an. Tidak hanya melalui lagu-lagunya, tetapi juga melalui tata ruang dan interaksi yang kami buat di acara ini.” Pemilihan lokasi Main Atrium, yang merupakan pusat komersial, dianggap sebagai tempat yang tepat untuk memadukan musik dengan dunia sehari-hari.
Konten pop-up zone juga mencakup berbagai aktivitas kreatif, seperti sesi fotografi, penggunaan properti nostalgia, dan pertunjukan mini yang dirancang untuk memperkuat pengalaman emosional. Bernadya menyatakan bahwa ia memilih konsep ini karena ingin membuat pengalaman yang lebih dalam dan lebih berkesan. “Saya ingin semua orang merasakan bagaimana album ini tidak hanya mendengarkan, tetapi juga merasakan. Seperti memasuki sebuah kisah yang bisa mereka kenang seumur hidup,” ujarnya.
Dalam satu minggu setelah peluncuran album, acara ini menjadi bagian dari upaya JUNI Records untuk memperkuat koneksi dengan audiens. Dengan merancang pop-up zone, label musik tersebut mencoba menggabungkan dunia digital dan fisik, agar para pendengar bisa merasakan kembali kehangatan masa kecil mereka. Acara ini juga diharapkan menjadi wadah untuk mengeksplorasi potensi musik Bernadya di ranah offline.
Menurut Adryanto, selain sebagai ajang promosi, pop-up zone ini juga berfungsi sebagai langkah eksperimen kreatif. “Kami ingin melihat bagaimana konsep nostalgia ini bisa diadaptasi dalam bentuk event yang interaktif. Jika berhasil, mungkin akan kami terapkan di proyek-proyek berikutnya,” katanya. Dengan demikian, acara ini tidak hanya sekadar peluncuran album, tetapi juga langkah strategis dalam mengembangkan identitas musik Bernadya.
Sebagai bagian dari serangkaian kegiatan yang dirancang JUNI Records, pop-up zone Semoga Hanya di Mimpi dianggap sebagai inisiatif yang inovatif. Dalam era di mana musik sering kali dikenalkan melalui platform digital, kegiatan ini memberikan ruang untuk mengingatkan kembali tentang kekuatan storytelling dalam musik. Bernadya juga berharap, melalui acara ini, para penggemarnya bisa merasakan bagaimana album ini menjadi bagian dari kenangan bersama.
Pop-up zone ini berlangsung dalam dua hari, dengan tema yang konsisten pada setiap bagian. Pengunjung akan disuguhi berbagai nuansa yang membuat mereka merasakan seperti kembali ke masa lalu. Adryanto menegaskan bahwa perusahaan berharap event ini bisa menjadi katalis untuk menciptakan koneksi yang lebih kuat antara musik dan pendengarnya.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News.

