PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Tak Hanya IHSG, Rupiah Juga Ambyar 94 Poin, USD Tembus Rp 17.856

Published Juni 18, 2026 · Updated Juni 18, 2026 · By Michael Taylor

Tak Hanya IHSG, Rupiah Juga Ambyar 94 Poin, USD Tembus Rp 17.856

Topics Covered - Kamis pagi, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penurunan signifikan, mencapai Rp 17.856 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,53 persen dibandingkan level penutupan sebelumnya di Rp 17.762 per USD. Pergerakan kurs rupiah mencerminkan ketidakstabilan pasar yang dipicu oleh berbagai faktor eksternal, khususnya kebijakan moneter Amerika Serikat.

Analisis Pergerakan Kurs dari Bank Woori Saudara

Dalam wawancara dengan JPNN.com, Rully Nova dari Bank Woori Saudara menyoroti bahwa pelemahan rupiah terutama dipengaruhi oleh keputusan The Fed (Federal Reserve) dalam pertemuan FOMC terbaru. "Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp 17.730 hingga Rp 17.810 per USD," kata Rully. Menurutnya, indeks dolar yang naik memperkuat tekanan terhadap rupiah, terutama dalam kondisi ekonomi global yang kritis.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp 17.730 hingga Rp 17.810 per USD,” ucap Rully Nova. Dia menambahkan bahwa faktor-faktor global memainkan peran penting dalam menentukan dinamika nilai tukar rupiah. Investor menganggap keputusan suku bunga The Fed yang tidak berubah serta pernyataan hawkish yang menegaskan kenaikan suku bunga akan berlangsung lama menjadi alasan utama pelemahan mata uang lokal.

Keputusan The Fed dan Peran Kevin Warsh

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dipimpin oleh Kevin Warsh menandai keputusan untuk mempertahankan suku bunga dalam rentang 3,5-3,75 persen. Langkah ini memperkuat sentimen pasar yang memperkirakan inflasi tetap menjadi ancaman utama, terlepas dari upaya-upaya pemerintah AS untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Rully Nova mengungkapkan bahwa indeks dolar yang terus meningkat, mencapai di atas 100, menjadi indikator bahwa investor cenderung memilih aset kuat di tengah ketidakpastian global.

Geopolitik dan Pasokan Energi sebagai Pendorong

Pelemahan rupiah tidak hanya terkait kebijakan The Fed, tetapi juga dipengaruhi oleh krisis geopolitik di Timur Tengah serta gangguan pasokan energi. Konflik regional yang memanas menyebabkan ketidakpastian dalam rantai pasok internasional, sementara harga minyak yang fluktuatif memengaruhi biaya produksi dan kebijakan moneter Indonesia. "Kenaikan suku bunga The Fed memupus harapan penurunan satu kali dalam tahun ini," jelas Rully. Ini menunjukkan bahwa pasar global tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada risiko inflasi yang tak terkendali.

“Selain itu, meningkatnya indeks dolar tembus di atas 100,” ungkap Rully Nova. Menurutnya, kebijakan moneter The Fed yang konservatif dan proyeksi suku bunga akan tinggi hingga lama menimbulkan tekanan terhadap mata uang Asia Tenggara, termasuk rupiah. Dengan demikian, investor mengalihkan alur dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, yang menyebabkan rupiah terus tertekan.

Kondisi Ekonomi Indonesia dan Dampaknya

Pelemahan rupiah mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar keuangan. Pada Kamis pagi, nilai tukar rupiah merosot 94 poin, yang berarti rupiah melorot 0,53 persen dari level sebelumnya. Perubahan ini berdampak langsung pada sektor ekspor dan impor, di mana biaya impor meningkat sementara pendapatan dari ekspor berpotensi menurun. "Kondisi ini bisa memperburuk defisit neraca perdagangan Indonesia," tambah Rully, yang menekankan perlunya kebijakan stabilisasi dalam kurun waktu dekat.

Analisis Pasar dan Prospek Kurs

Kebijakan The Fed menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pasar valuta asing. Rully Nova mengungkapkan bahwa keputusan untuk menjaga suku bunga tetap memperkuat ekspektasi inflasi yang tinggi, terutama karena gejolak harga energi dan permintaan di sektor konsumsi yang belum menunjukkan penurunan signifikan. "Pernyataan hawkish dari The Fed mengisyaratkan bahwa penyesuaian suku bunga akan dilakukan secara bertahap, tetapi konsisten," papar analis tersebut.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global lainnya. Meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko seperti saham AS atau obligasi berdolar memperkuat tekanan terhadap rupiah. Meski ekonomi Indonesia masih mengalami pertumbuhan, kekuatan mata uang lokal tergantung pada kebijakan domestik dan kondisi eksternal yang tidak stabil. Rully Nova memproyeksikan bahwa rupiah akan terus mengalami tekanan hingga perangkat kebijakan moneter dalam negeri mencerminkan kebijakan The Fed.

Konteks Global dan Persiapan Indonesia

Kondisi global saat ini menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas kurs dan pertumbuhan ekonomi. Rully Nova menyarankan pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperkuat pengawasan terhadap inflasi serta memastikan likuiditas pasar tetap terjaga. "Dengan indeks dolar yang naik, rupiah perlu mendapatkan dukungan dari sektor keuangan dalam negeri agar tidak terus terpuruk," tambahnya.

Sementara itu, keputusan The Fed tidak hanya memengaruhi rupiah, tetapi juga memperkuat dinamika pasar keuangan global. Dengan suku bunga yang stabil, investor lebih cenderung menanamkan dana di negara-negara dengan ekonomi kuat, termasuk AS. Peristiwa ini juga memengaruhi penguasaan mata uang asing di pasar Asia Tenggara, yang terus berupaya memperbaiki daya saingnya di tengah tekanan global.

Untuk menangani situasi ini, Indonesia perlu memperhatikan arah kebijakan