PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Ketum LOGIS 08 Ingatkan Aksi Penolakan Kenaikan BBM Tetap Tertib dan Tidak Disusupi Kepentingan Tertentu

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Nancy Garcia

Ketum LOGIS 08 Ingatkan Aksi Penolakan Kenaikan BBM Tetap Tertib dan Tidak Disusupi Kepentingan Tertentu

Aksi Mahasiswa dan Respons dari Relawan Pendukung Pemerintah

Special Plan - JAKARTA - Mahasiswa yang turut serta dalam aksi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali memperoleh perhatian dari relawan yang mendukung pemerintah. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum LOGIS 08, Anshar Ilo, yang menekankan pentingnya menjaga ketertiban dan kedamaian dalam setiap bentuk penyampaian aspirasi. Dalam wawancara bersama media, Anshar mengingatkan bahwa aksi penolakan kebijakan pemerintah, seperti kenaikan BBM, adalah bagian dari hak demokrasi yang dimiliki oleh warga negara. Namun, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut harus dilakukan secara terorganisir, tanpa mengganggu stabilitas nasional.

“Mahasiswa memiliki peran penting sebagai pengontrol sosial. Kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah hal yang wajar dan menjadi bagian dari dinamika demokrasi. Akan tetapi, aksi harus tetap berlangsung tertib, damai, serta sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujar Anshar Ilo, Jumat (12/6).

Ketua Umum LOGIS 08, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP KNPI, menyoroti bahwa kebijakan kenaikan BBM memang menjadi isu yang menarik perhatian publik. Ia menjelaskan, meski penolakan terhadap kebijakan ini bisa dianggap sebagai sikap kritis yang sah, perlu dipastikan bahwa aksi tersebut tidak disusupi oleh pihak-pihak yang memiliki agenda politik lain. Anshar menekankan bahwa mahasiswa harus menjadi suara yang jujur dan objektif, bukan hanya sebagai alat untuk menyalurkan kepentingan kelompok tertentu.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum DPP Relawan Prabowo-Gibran LOGIS 08, Fuad B, juga memberikan pernyataan serupa. Fuad, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Ikatan Lembaga Senat Mahasiswa Ilmu Sosial Politik Indonesia, mengingatkan bahwa situasi global saat ini semakin kompleks. Ia menambahkan, dengan adanya tantangan ekonomi dan politik yang menghiasi berbagai sektor, seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, harus saling menjaga keseimbangan dalam menyampaikan pendapat.

“Kondisi global saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan, sehingga seluruh elemen bangsa perlu menjaga stabilitas nasional. Aksi mahasiswa seharusnya menjadi bentuk partisipasi yang konstruktif, bukan justru menjadi bahan untuk menciptakan ketegangan atau kekacauan,” jelas Fuad B.

Fuad menyoroti bahwa Indonesia telah sukses menghadapi berbagai momen politik dan sosial sebelumnya, sekaligus menjaga kondusivitas nasional. Ia menilai bahwa aksi protes yang dilakukan oleh mahasiswa perlu tetap terukur, agar tidak merusak keharmonisan antar-kelompok. “Jangan sampai gerakan yang lahir dari idealisme mahasiswa justru digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana atau memicu instabilitas,” tambah Fuad.

Menurut Fuad B, kebijakan kenaikan BBM tidak bisa dianggap sebagai keputusan yang sepenuhnya salah. Ia menekankan bahwa aksi mahasiswa harus didasari oleh pertimbangan yang matang, serta memiliki tujuan untuk memperbaiki kebijakan, bukan hanya untuk mengekspresikan ketidakpuasan secara emosional. “Mahasiswa harus tetap menjadi pilar kritis dalam demokrasi, tetapi dengan cara yang tidak merugikan kepentingan rakyat secara keseluruhan,” kata Fuad.

Dalam konteks ini, LOGIS 08 dianggap sebagai salah satu organisasi yang berperan aktif dalam mengarahkan aspirasi mahasiswa ke jalur yang benar. Organisasi ini dikenal memiliki komitmen untuk memperkuat konsensus antar-aktor politik dan sosial. Anshar Ilo menjelaskan bahwa kebijakan kenaikan BBM adalah langkah yang diambil demi kepentingan nasional, seperti menangani defisit anggaran atau menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok. “Kenaikan BBM mungkin tidak disukai oleh semua pihak, tetapi keputusan ini tidak boleh dijadikan bahan untuk memicu konflik yang tidak terkendali,” tambahnya.

Ketum LOGIS 08 juga menyoroti pentingnya keterlibatan relawan dalam mendukung aksi mahasiswa yang bertujuan baik. Ia menegaskan bahwa relawan pemerintah dan mahasiswa bisa bekerja sama untuk menemukan solusi yang memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga harmoni. “Kolaborasi antara relawan dan mahasiswa adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Anshar.

Di samping itu, Fuad B menambahkan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa aksi penolakan kenaikan BBM bisa menjadi sarana untuk menekan pemerintah agar lebih transparan dalam pengambilan keputusan. Namun, ia juga menekankan bahwa mahasiswa harus mampu membedakan antara kritik konstruktif dan tindakan yang terlalu ekstrem. “Kritik adalah bagian dari demokrasi, tetapi jika dilakukan tanpa pertimbangan, bisa jadi mengganggu kestabilan politik,” jelas Fuad.

Aksi mahasiswa yang menolak kenaikan BBM dianggap sebagai bagian dari dinamika sosial yang wajar. Namun, ketua umum LOGIS 08 menegaskan bahwa seluruh pihak perlu tetap waspada terhadap potensi disusupinya agenda tertentu. Misalnya, kepentingan kelompok-kelompok ekonomi atau politik yang ingin memanfaatkan aksi ini untuk memperkuat posisi mereka. “Gerakan mahasiswa harus tetap bersih dari kepentingan-kepentingan pihak luar, agar tetap bisa diakui sebagai bagian dari tuntutan rakyat yang sah,” tegas Anshar.

Menurut Anshar Ilo, aksi penolakan kenaikan BBM bisa menjadi contoh bagus bagaimana mahasiswa mampu mengambil peran sebagai pemandu perubahan. Ia menilai bahwa jika aksi tersebut dilakukan dengan tertib dan diimbangi dengan komunikasi yang baik, maka kebijakan pemerintah bisa diperbaiki melalui dialog, bukan hanya konfrontasi. “Sikap kritis adalah bagian dari demokrasi, tetapi harus disampaikan dengan cara yang tidak merusak keutuhan bangsa,” ujarnya.

Di sisi lain, Fuad B menekankan bahwa aksi mahasiswa tidak boleh dianggap sebagai bentuk penolakan total terhadap pemerintah. Ia mengatakan bahwa kebijakan kenaikan BBM mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut, tetapi aksi yang dilakukan harus didasarkan pada fakta dan data. “Mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menolak kebijakan, tetapi juga mampu memberikan alternatif yang lebih baik,” jelas Fuad.

Ketum LOGIS 08 berharap bahwa aksi penolakan kenaikan BBM akan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas antar-anggota masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Ia menilai bahwa peran mahasiswa dalam mengawasi pemerintah sangat penting, tetapi harus selalu diimbangi dengan kemampuan untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan. “Jika aksi ini bisa tetap terukur, maka masyarakat akan melihat mahasiswa sebagai bagian dari kemajuan politik Indonesia,” pungkas Anshar Ilo.

Sebagai tambahan, LOGIS 08 juga menawarkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan dialog yang konstruktif. Organisasi ini menilai bahwa per