PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solution For: Viral Foto Pocong Bikin Heboh Warga Gandus, Ternyata Cuma Rekayasa AI

Published Juni 2, 2026 · Updated Juni 2, 2026 · By Michael Taylor

Viral Foto Pocong Bikin Heboh Warga Gandus, Ternyata Cuma Rekayasa AI

Solution For - Sebuah gambar yang menampilkan sosok pocong misterius akhirnya menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Foto tersebut memicu reaksi emosional dari warga Gandus, membuat sebagian besar masyarakat merasa cemas dan waswas. Dalam beberapa hari terakhir, gambar yang beredar di internet menggambarkan bentuk tak bernyawa yang dianggap sebagai tanda-tanda kejadian ajaib atau bahkan ancaman dari dunia gaib. Namun, setelah melakukan investigasi, Polda Gandus berhasil memastikan bahwa foto tersebut hanyalah hasil pemrosesan teknologi digital yang menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Penelusuran Hingga Pengungkapan Fakta

Proses penelusuran dilakukan setelah masyarakat mengirimkan banyak laporan tentang ketakutan yang timbul akibat gambar pocong tersebut. Petugas kepolisian, khususnya Kapolsek Gandus AKP I Made Budi Harta, bersikap proaktif untuk mencari sumber informasi. Setelah menelusuri akun media sosial yang mengunggah foto, mereka berhasil mengidentifikasi si penyebar dan mengambil tindakan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gambar yang ramai diperbincangkan tidak berasal dari kejadian nyata, tetapi merupakan karya dari teknologi Artificial Intelligence (AI) yang digunakan oleh pelaku.

Teknologi AI: Dari Rekayasa Hingga Penyebaran

Pelaku, Febrianto (24), seorang wiraswasta yang tinggal di Gandus, mengakui bahwa ia memanfaatkan perangkat lunak berbasis AI untuk menciptakan foto tersebut. Menurutnya, teknologi ini memungkinkan ia mengedit gambar dengan memperbaiki detail dan menyusun wajah serta postur menyerupai makhluk mistis yang sering diceritakan dalam budaya lokal. Febrianto menjelaskan bahwa ia mengambil foto dari sumber terbuka, kemudian mengubahnya hingga terlihat nyata dan menarik perhatian. "Saya hanya ingin menghibur orang-orang dengan sesuatu yang menarik, tapi ternyata berdampak besar," ujarnya.

"Setelah kami lakukan pemeriksaan dan klarifikasi, yang bersangkutan mengakui bahwa foto pocong yang beredar di media sosial merupakan hasil editan AI dan bukan kejadian nyata," terang Budi, Senin (1/6/2026).

Febrianto menyebutkan bahwa ia memperhatikan cara gambar tersebut dibuat melalui aplikasi editing modern, termasuk penggunaan algoritma yang mampu meniru ciri khas pocong dalam tradisi lokal. Proses rekayasa ini memakan waktu sekitar satu minggu, dengan tujuan untuk meniru kondisi alam yang sedang gelap dan menambah kesan misterius. "Saya tidak bermaksud menakut-nakuti warga, tapi mungkin karena warna dan kontras foto yang menyerupai keadaan nyata, orang merasa terkejut," tambahnya.

Dampak pada Masyarakat dan Tindakan Kepolisian

Kehadiran foto tersebut menyebabkan berbagai reaksi, termasuk peningkatan jumlah pesan yang masuk ke grup grup media sosial. Beberapa warga menganggap ini sebagai bukti keberadaan makhluk tak terlihat, sementara yang lain khawatir bahwa pocong itu bisa menyusup ke rumah mereka. Sebagian bahkan membagikan foto tersebut tanpa memverifikasi asal-usulnya, hingga menyebar ke berbagai wilayah. Kapolsek Gandus menjelaskan bahwa kecepatan respons pihak kepolisian diambil untuk mencegah penyebaran lebih luas dan menghindari munculnya mitos yang tidak perlu.

Febrianto mengungkapkan bahwa ia memilih membuat foto ini karena tertarik dengan tren visual di media sosial. Dengan teknologi AI, ia mampu menghasilkan gambar yang tidak hanya menyerupai nyata, tetapi juga memicu imajinasi pengguna. "Saya menilai teknologi ini sangat mumpuni, bisa menciptakan sesuatu yang sempurna dari bahan-bahan biasa," katanya. Meski demikian, ia juga mengakui bahwa keterbukaan teknologi ini bisa berdampak ganda, baik positif maupun negatif, tergantung pada penggunaannya.

Perkembangan dan Penjelasan Lebih Lanjut

Berdasarkan hasil penelusuran, foto pocong yang viral tersebut adalah salah satu dari sekian banyak karya digital yang menggunakan algoritma pembelajaran mesin. Teknologi ini bekerja dengan menggabungkan data dari berbagai sumber gambar, lalu menghasilkan bentuk baru yang tidak ada dalam dunia nyata. Febrianto mengungkapkan bahwa proses ini membutuhkan pengetahuan dasar tentang pemrograman dan keterampilan dalam penggunaan perangkat lunak editing. "Saya mempelajari cara kerja AI dari video tutorial online, lalu mencoba membuatnya sendiri," jelasnya.

Kapolsek Gandus menegaskan bahwa perlu kesadaran lebih dari masyarakat dalam memeriksa sumber informasi, terutama di masa digital yang memudahkan akses ke berbagai konten. "Ini adalah contoh bagaimana teknologi bisa digunakan untuk menyebarkan berita yang menyerupai fakta, tapi sebenarnya hanya hasil imajinasi atau manipulasi," tegas Budi. Ia juga menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial.

Febrianto sendiri menyatakan bahwa ia tidak menyangka foto tersebut akan menyebarkan ketakutan sebesar itu. "Saya hanya ingin menciptakan sesuatu yang menarik, tapi mungkin kebetulan saja," katanya. Kini, foto tersebut telah dianggap sebagai bentuk kegiatan kreatif, sekaligus mengingatkan tentang manfaat dan risiko penggunaan AI dalam menyebarkan konten. Polda Gandus pun berencana membagikan hasil investigasi ini sebagai contoh edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha digital.

Konten yang Menarik dari JPNN.com

Berbagai konten menarik lainnya bisa dibaca melalui berita terkini di Google News. Dengan penyebaran teknologi AI, semakin banyak individu mampu membuat konten yang bisa menggugah perasaan dan memengaruhi persepsi publik. Peristiwa ini menjadi bukti bagaimana canggihnya teknologi digital dalam menciptakan kejutan visual, sekaligus mengingatkan pentingnya verifikasi informasi yang lebih ketat.