PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Purbaya Bicara soal Krisis Ekonomi 1998 – Kalimatnya Tegas

Published Juni 8, 2026 · Updated Juni 8, 2026 · By John Hernandez

Purbaya Bicara Soal Krisis Ekonomi 1998, Kalimatnya Tegas

Purbaya Bicara soal Krisis Ekonomi 1998 - JAKARTA - Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa negara ini tidak lagi berada dalam situasi krisis ekonomi seperti yang terjadi pada masa 1997-1998. Menurutnya, kondisi saat ini jauh lebih stabil dibandingkan era Orde Baru yang lalu, terutama dalam hal kinerja fiskal domestik. "Jadi, Indonesia tidak sedang menuju skenario krisis seperti 1997-1998. Fiskal RI dinilai baik, ekonominya juga dalam kondisi yang relatif kuat," ujar Purbaya dalam wawancara terbaru di Jakarta.

Kebijakan pemerintah selama ini, menurut Purbaya, telah berhasil menciptakan fondasi ekonomi yang lebih kuat. Ia menyebutkan bahwa pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia telah bekerja sama untuk menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi. "Kami fokus pada pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan efisien, sehingga risiko krisis bisa diminimalkan," tambahnya.

"Kondisi saat ini berbeda drastis dari masa Orde Baru. Kinerja fiskal Indonesia dalam kondisi yang stabil, serta daya tarik investasi asing meningkat secara signifikan," ujar Purbaya dalam wawancara di Jakarta.

Dalam wawancara tersebut, Purbaya juga menyoroti perbedaan antara krisis tahun 1998 dan tantangan ekonomi yang muncul saat ini. Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi global saat ini lebih terkendali dibandingkan masa krisis moneter tahun 1997-1998. "Krisis tahun lalu berawal dari ketidakstabilan di pasar keuangan internasional, terutama di tengah tekanan inflasi yang tinggi dan melemahnya nilai tukar rupiah," bebernya.

Purbaya menambahkan bahwa pelemahan rupiah bukanlah tanda krisis yang pasti, melainkan respons terhadap dinamika pasar yang lebih kompleks. "Nilai tukar rupiah terutama dipengaruhi oleh faktor global, seperti kebijakan moneter negara-negara maju dan fluktuasi harga komoditas. Namun, perubahan ini masih dalam batas terkendali," jelasnya.

Menurut Menteri Purbaya, pemerintah telah melakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga daya tarik investasi di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia. "Kami perlu memperkuat koordinasi di semua lembaga agar pasar keuangan dalam negeri bisa lebih stabil dan menarik bagi investor," tambahnya.

"Sentimen negatif di dalam negeri bisa diperbaiki dengan memastikan kebijakan fiskal dan moneter tetap sejalan. Kami juga sedang fokus pada peningkatan imbal hasil instrumen keuangan domestik agar lebih kompetitif," ujar Purbaya.

Dalam menangani krisis ekonomi tahun 1998, Purbaya menyebut bahwa beberapa faktor utama, seperti defisit anggaran yang tinggi dan ketidakstabilan politik, berperan besar. "Dibandingkan dengan masa itu, sekarang kita memiliki cadangan devisa yang lebih besar, struktur keuangan yang lebih solid, dan kebijakan stabilisasi ekonomi yang lebih matang," katanya.

Menurut Purbaya, pemerintah juga sedang memperkuat kerangka regulasi untuk mencegah dampak negatif dari guncangan ekonomi global. "Kami sudah memperkenalkan berbagai kebijakan seperti relaksasi pajak, pengurangan biaya transaksi, dan stimulasi sektor riil. Ini semua bertujuan meningkatkan kepercayaan pasar dan masyarakat," bebernya.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan utama antara masa krisis 1998 dan masa kini adalah peran bank sentral yang lebih aktif dalam mengatur kebijakan moneter. "Bank Indonesia kini lebih mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. Ini dibantu oleh kebijakan fiskal yang lebih terarah," lanjut Purbaya.

"Jadi, kita tidak sedang menghadapi krisis ekonomi yang sama seperti tahun 1998. Perbedaannya jelas: saat itu, rupiah melemah karena tekanan eksternal yang sangat besar, sementara sekarang kita bisa mengelola dampaknya dengan lebih baik," ujar Purbaya.

Purbaya juga menyoroti pentingnya stabilitas politik dalam memperkuat kondisi ekonomi. "Kita perlu menghindari gejolak politik yang bisa memengaruhi investor. Masa Orde Baru dulu, kebijakan ekonomi sering terganggu karena perubahan pemerintahan yang cepat," katanya.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa terdapat tantangan yang masih perlu diatasi, terutama dalam meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik. "Kami sedang berupaya memperbaiki struktur keuangan, agar investor lebih tertarik menanamkan dana di dalam negeri. Ini bisa dilakukan melalui peningkatan kinerja sektor riil dan perbaikan sistem regulasi," jelasnya.

Menurut Purbaya, keberhasilan penanganan krisis ekonomi tahun 1998 menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah saat ini. "Kita harus belajar dari masa lalu, agar tidak mengulangi kesalahan. Kini, kita memiliki sistem yang lebih baik dan kebijakan yang lebih komprehensif," tuturnya.

Sebagai mantan Bendahara Negara, Purbaya juga mengingatkan pentingnya transparansi dalam kebijakan ekonomi. "Kami perlu memastikan bahwa setiap langkah yang diambil diungkapkan secara jelas kepada publik, sehingga masyarakat bisa lebih percaya dan mengambil keputusan yang tepat," katanya