PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Penguatan Zakat Produktif Jadi Kunci Hadapi Dampak Krisis Global

Published Juni 20, 2026 · Updated Juni 20, 2026 · By Susan Hernandez

Penguatan Zakat Produktif Jadi Kunci Hadapi Dampak Krisis Global

Latest Program - JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengungkapkan bahwa penguatan zakat produktif menjadi strategi krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat selama masa ketidakpastian global yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan daya beli. Syarifuddin, seorang pemimpin Baznas RI yang bertugas di bidang riset, pengembangan, perencanaan, dan inovasi, menekankan bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai alat pelindung sosial, tetapi juga perlu dikembangkan sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ini menjadi fokus utama untuk menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.

Peran Zakat Produktif dalam Pemberdayaan Ekonomi

Dalam wawancara usai menghadiri seminar Islamic Economic Outlook 2026: Scenario & Strategic Options yang diadakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) di Jakarta, Syarifuddin menjelaskan bahwa zakat produktif harus digunakan secara lebih intensif. Menurutnya, kekuatan ekonomi masyarakat bisa terjaga dengan memperkuat zakat sebagai alat penggerak perekonomian, terutama di tengah krisis global yang memengaruhi berbagai sektor.

"Zakat yang bersifat pemberdayaan harus lebih aktif dikembangkan agar dalam jangka panjang, para penerima zakat tetap mampu berdiri tegak di tengah segala kondisi," kata Syarifuddin.

Ia menambahkan bahwa zakat produktif bukan hanya untuk mengamankan kebutuhan pokok masyarakat, tetapi juga untuk meningkatkan kemandirian mereka. Dengan pendekatan ini, program zakat bisa bertransformasi menjadi alat yang tidak hanya mendaur ulang dana, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat yang lebih luas.

Urgensi Optimisasi Zakat Produktif

Syarifuddin menjelaskan bahwa saat ini, banyak sektor usaha mengalami tekanan akibat menurunnya daya beli masyarakat. Kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan krisis global memicu kondisi ekonomi yang semakin sulit. "Sektor riil hampir semua mengeluh karena daya beli masyarakat terus berkurang, kemampuan belanjanya turun, dan harga-harga semakin mahal," ujarnya.

Dengan demikian, penguatan zakat produktif menjadi lebih mendesak. Zakat tidak hanya diperlukan sebagai bentuk bantuan sementara, tetapi juga harus menjadi solusi jangka panjang yang bisa memberikan dampak berkelanjutan. Syarifuddin menyatakan bahwa sektor usaha harus beradaptasi dengan memanfaatkan zakat sebagai sumber dana produktif yang bisa memperkuat daya tahan ekonomi.

Digitalisasi sebagai Langkah Strategis

Baznas kini memprioritaskan langkah digitalisasi dalam pengelolaan zakat. Tindakan ini diharapkan bisa membantu mengoptimalkan distribusi zakat nasional secara lebih efektif, terukur, dan tepat sasaran. Dengan sistem digital, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan zakat bisa meningkat, sehingga masyarakat yang membutuhkan benar-benar mendapatkan manfaat.

Syarifuddin menjelaskan bahwa digitalisasi zakat juga memungkinkan pihak-pihak terkait mengakses data secara real-time. Ini memudahkan penyesuaian kebijakan dan pemberdayaan ekonomi yang lebih terarah. "Dengan teknologi, kita bisa memantau potensi zakat secara lebih baik dan menyalurkannya sesuai kebutuhan masyarakat," katanya.

Kebutuhan Adaptasi Zakat dalam Situasi Ekonomi Global

Menurut Syarifuddin, zakat produktif perlu disesuaikan dengan tantangan ekonomi global saat ini. Kondisi pasar yang tidak stabil memaksa masyarakat mengubah pola konsumsi dan investasi. Zakat, yang sebelumnya lebih fokus pada kebutuhan dasar, harus bertransformasi menjadi alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor usaha yang rentan.

Keberhasilan penguatan zakat produktif tergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dan institusi zakat. Syarifuddin menekankan bahwa partisipasi dari berbagai pihak, termasuk ulama, pengusaha, dan warga, sangat diperlukan untuk memastikan zakat tetap relevan dalam kondisi ekonomi yang terus berubah. "Zakat harus menjadi mitra dalam menciptakan ekonomi yang lebih kuat dan inklusif," katanya.

Strategi Berkelanjutan untuk Ekonomi Indonesia

Keberlanjutan zakat produktif juga dianggap sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Dengan memperkuat zakat, pemerintah bisa mengurangi beban sosial yang timbul dari krisis ekonomi. Syarifuddin menyatakan bahwa zakat produkif mampu menjadi pendorong ekonomi yang berdampak luas, terutama pada kelompok yang rentan.

Kebutuhan akan zakat produktif semakin terasa karena peran zakat sebagai jaring pengaman sosial tetap diperlukan, tetapi juga perlu ditingkatkan menjadi alat pemberdayaan. Syarifuddin mengungkapkan bahwa program zakat produktif perlu terus dikembangkan agar bisa memberikan manfaat yang lebih optimal. "Dengan zakat yang produktif, kita bisa membangun ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan," katanya.

Peran Zakat dalam Kebijakan Ekonomi Nasional

Syarifuddin menyoroti pentingnya integrasi zakat produktif dalam kebijakan ekonomi nasional. Selama krisis, pemerintah harus mencari solusi alternatif untuk mendukung masyarakat. Zakat, dengan pendekatannya yang berbasis syariah, bisa menjadi jawaban yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara bertahap.

Menurutnya, digitalisasi dan transparansi dalam pengelolaan zakat juga membantu membangun kepercayaan publik. Ini penting karena zakat menjadi salah satu sumber pendapatan negara yang tidak hanya memberikan manfaat sosial, tetapi juga ekonomi. "Dengan sistem yang lebih modern, zakat bisa berperan lebih besar dalam menciptakan ekonomi yang berkelanjutan," tambah Syarifuddin.

Harapan untuk Dukungan Bersama

Syarifuddin berharap semua pihak, termasuk masyarakat, bisa lebih aktif dalam menyalurkan zakat produktif. Ia menekankan bahwa kesadaran akan manfaat zakat harus terus ditingkatkan. "Zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga peluang untuk memberikan kontribusi nyata dalam perekonomian nasional," katanya.

Kebutuhan akan peningkatan zakat produktif juga didukung oleh banyak pihak. Kementerian PPN, sebagai penyelenggara seminar, turut mengapresiasi langkah Baznas dalam mendorong penggunaan zakat sebagai alat pemberdayaan. Syarifuddin berharap ada kolaborasi yang lebih intens antara Baznas, lembaga keuangan, dan sektor usaha untuk menciptakan solusi yang holistik.

Kesimpulan dan Peluang di Depan

Dalam menghadapi krisis global, zakat produktif dianggap sebagai salah satu kunci utama untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat. Syarifuddin menegaskan bahwa peran zakat harus diperluas dari sekadar alat bantuan menjadi peluang pertumbuhan. "Dengan zakat yang produktif, kita bisa menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan," ujarnya.

Program zakat produktif juga memerlukan adaptasi terhadap perubahan ekonomi dan sosial. Syarifuddin menyatakan bahwa keberhasilan ini bergant