PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Go Prabu Kritik Prabowo dalam Tata Kelola APBN

Published Juni 8, 2026 · Updated Juni 8, 2026 · By Anthony Lopez

Go Prabu Kritik Prabowo dalam Tata Kelola APBN

Latest Program - Jakarta, JPNN.com — Organisasi sukarelawan yang mendukung Prabowo Subianto dalam kampanye Pemilu 2019 dan 2024, Go Prabu, mengungkapkan kritik terhadap cara presiden mengelola anggaran negara. Meski Prabowo telah memimpin selama dua tahun, visi pembangunan yang sangat ambisius dinilai belum terwujud secara optimal. Janji-janji kampanye seperti pertumbuhan ekonomi 8 persen, penciptaan 19 juta lapangan kerja, swasembada pangan dan energi, hilirisasi industri, serta peningkatan kesejahteraan rakyat melalui berbagai inisiatif prioritas, menurut kritik ini, masih jauh dari target.

Perbandingan Tuntutan dan Realisasi

Kritik terhadap pengelolaan APBN juga dilontarkan oleh organisasi sukarelawan pemenangan Prabowo Subianto. Jefri, Ketua Bidang Penggalangan Massa Go Prabu, menyatakan bahwa anggaran negara tidak lagi digunakan untuk memperkuat produktivitas nasional, melainkan semakin mengarah ke proyek-proyek besar yang rentan terhadap pemborosan dan korupsi. "Masalah utama saat ini bukan sekadar besarnya anggaran, melainkan cara anggaran itu digunakan," ujarnya.

Kritik tersebut mengingatkan bahwa APBN seharusnya menjadi alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, berdasarkan evaluasi, kebijakan pengelolaan dana negara lebih banyak mengalokasikan sumber daya untuk proyek infrastruktur besar dan program unggulan yang, meski bermaksud baik, belum sepenuhnya terukur dampaknya. Jefri menyoroti kurangnya transparansi dalam penyaluran dana, serta risiko penyalahgunaan yang terus mengemuka.

"Risiko tata kelola APBN juga sangat tinggi karena melibatkan ribuan dapur, rantai distribusi nasional, pengadaan barang secara masif, serta dugaan penggelembungan biaya dan konflik kepentingan dalam penunjukan pengelola dapur," kata Jefri.

MBG: Program yang Banyak Dibicarakan

Salah satu contoh yang disebutkan dalam kritik ini adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dianggap sebagai proyek belanja publik terbesar dalam sejarah Indonesia. Program ini memang memiliki tujuan sosial yang baik, yaitu meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi. Namun, besarnya anggaran yang dialokasikan — mencapai Rp 300 triliun — membuatnya rentan terhadap efisiensi dan kemungkinan pemborosan.

Jefri menekankan bahwa skala anggaran MBG justru menjadi tantangan tersendiri. Meski program tersebut bertujuan menyelamatkan masyarakat dari malnutrisi, ia menilai bahwa pengelolaannya kurang tepat sasaran. "Banyak anggaran terbuang begitu saja karena proses distribusi yang kompleks dan risiko kerusakan logistik," jelasnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebijakan seperti MBG perlu disertai dengan pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan manfaat maksimal kepada masyarakat.

Controversi Koperasi Desa Merah Putih

Di sisi lain, Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi sorotan. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi desa melalui pendekatan lokal. Namun, kritik muncul ketika terungkap adanya impor 105.000 kendaraan pikap dari India untuk mendukung operasional koperasi. Hal ini dinilai bertentangan dengan konsep swasembada pangan yang seharusnya diusung oleh program tersebut.

Pelaksanaan Koperasi Desa Merah Putih justru menimbulkan perdebatan luas. Jefri menyatakan bahwa impor kendaraan pikap tersebut menunjukkan ketidakseimbangan dalam alokasi dana. "Ini menunjukkan bahwa anggaran digunakan untuk kebutuhan yang tidak selaras dengan tujuan awal," ujarnya. Kesempatan yang seharusnya digunakan untuk membangun infrastruktur lokal justru dialihkan ke pembelian alat transportasi dari luar negeri, yang menurut kritik ini, menambah beban anggaran dan meningkatkan risiko ketergantungan eksternal.

Upaya Penguatan Pengawasan

Menurut Jefri, tata kelola APBN perlu diperbaiki dengan memperkuat pengawasan dan transparansi. Ia menyarankan bahwa pemerintah harus lebih memperhatikan efisiensi penggunaan dana, terutama dalam proyek-proyek besar yang berpotensi menimbulkan keuntungan pribadi. "Pemerintah harus menjawab pertanyaan: Apakah kebijakan ini benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat atau hanya untuk memperkuat posisi elit?" tegasnya.

Kritik yang disampaikan Go Prabu juga mengingatkan bahwa APBN adalah sumber utama pendanaan pembangunan. Jika pengelolaannya tidak tepat, maka keberhasilan janji kampanye Prabowo bisa dipertanyakan. "Dana negara adalah amanat rakyat, jadi harus digunakan secara akuntabel dan berorientasi kebutuhan masyarakat," imbuh Jefri. Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada reformasi sistem pengelolaan anggaran untuk menghindari pemborosan dan korupsi.

Potensi Dampak Kebijakan

Di luar kritik langsung terhadap penggunaan anggaran, Jefri juga menyoroti dampak jangka panjang dari kebijakan yang diambil selama dua tahun terakhir. Ia berpendapat bahwa proyek-proyek besar, meski menarik secara visual, tidak selalu mencerminkan keberhasilan pembangunan yang holistik. "Pembangunan harus melibatkan partisipasi masyarakat secara aktif, bukan hanya top-down dari pemerintah," ujarnya.

Sebagai contoh, dalam pengelolaan APBN, proyek seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih harus diimbangi dengan kebijakan yang mendorong keterlibatan warga desa dan pengusaha lokal. Jefri menekankan bahwa peningkatan kesejahteraan rakyat tidak bisa dicapai tanpa pemerataan manfaat dari program pemerintah. "Kebijakan harus didesain agar bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu," tambahnya.

Kritik yang disampaikan Go Prabu bukan hanya sekadar tanggapan, tetapi juga ajakan untuk memperbaiki tata kelola keuangan negara. Dengan anggaran yang terus meningkat, pemerintah diharapkan mampu memastikan bahwa setiap rupiah digunakan secara optimal. Jika tidak, maka janji kampanye yang dibawa oleh Prabowo Subianto akan tetap menjadi tuntutan yang belum terpenuhi.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca konten menarik lainnya di Google News.